
Setelah meninggalkan Gia yang hancur karena perbuatannya. Zayn pun langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi, guna membersihkan diri.
Setelah beres dengan ritual mandinya, Zayn berdiri di hadapan cermin, ia meneliti wajahnya yang memar dan membengkak karena di hajar oleh adik tirinya, Zidan.
Saat meneliti wajahnya di depan cermin, Zayn memang kesakitan. Namun, walaupun merasa sakit, ia tersenyum saat mengingat rencananya sudah berhasil. Ia senang karena rencanya berhasil. Ia senang karena adik tirinya hancur. Ia, puas, semua berjalan dengan sempurna.
^^^Setelah selesai, Zayn pun berjalan keluar dari kamar mandi. Ia berniat untuk langsung pulang ke negara asalnya, Rusia. Ia sama sekali tak perduli dengan Gia, toh Gia bukan anak kecil, dia bisa kembali ke Rusia seorang diri, begitulah pikir Zayn.^^^
Saat dia akan melepaskan handuk kimononya, pintu di ketuk dari luar.
"Shitt!" Maki Zayn pada orang yang menggedor kamarnya dengan keras. Ia pun kembali membenarkan handuknya dan berjalan kearah pintu.
"Mark!" ucapnya saat melihat Mark berdiri di depan pintu kamar yang di tempatinya.
Mark maju kearah Zayn dengan mata menyala dan rahang mengeras menahan amarah. Tanpa basa-basi, Mark langsung menonjok pipi Zayn, Zayn yang tidak siap langsung tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Apa 5kau gila, Mark!" teriak Zayn. Ia pun kembali berdiri dan menatap tajam ke arah Mark.
Setelah Zayn bangkit, Mark mencenkram handuk yang sedang di pakai oleh Zayn.
"Kenapa kelakuanmu begitu hina Zayn. Apa kau tau akibat perbuatanmu dan adikmu, Gia hampir meregang nyawa." Teriak Mark di hadapan wajah Zayn. Mark sungguh murka pada kelakuan Zayn. Ia bisa mentolelir semua yang di lakukan Zayn dan akan membereskannya.
Tapi, bagi Mark, perbuatan Zayn kali ini sungguh tak bisa di benarkan dan di maafkan, apalagi hal yang sama pernah menimpa adiknya beberapa tahun silam. Dan kejadian yang menimpa Gia, mengingatkannya kepada adiknya yang telah di perkosa dan langsung bunuh diri.
Seketika Zayn terdiam, tubuhnya mematung.
"Karena kalian, Gia mencoba bunuh diri. Dimana hati nuranimu, Zayn!" teriak Mark sambil melepaskan tangannya dengan kasar.
°°°
Gia membuka matanya, ia mengerjap. "Apakah aku sudah mati," guman Gia. Tiba-tiba aroma obat menguar mengusik hidungnya. Seketika Gia melihat kesana-kemari, lalu ia merasaka tanganya perih. Seketika ia melihat kearah bawah.
__ADS_1
Menyadari upaya bunuh dirinya gagal, mata Gia mengembun. Gadis rapuh itu kembali menangis. "Ya, Tuhan. Kenapa kau masih membiarkanku hidup. Hidupku sudah hancur. Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja. Kenapaaaaaaaaaaaaa!" Gia berteriak histeris. Dengan masih dalam kondisi lemah, ia bangun dari berbaringnya, kemudian mencabut infusan' yang terpasang di tangannya. Ia, menggit perban hingga perban yang melilit di pergelangan tangannya kembali terlepas, darah kembali menetes dari tangannya. Dengan cepat, Gia pun turun dari brankar." Baru beberapa langkah ia berjalan. Ia kembali tak ambruk.
"Ibu, aku takut, bawa aku bersamamu, Bu," lirih Gia sebelum kembali tak sadarkan diri.
"Gia!" teriak seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan Gia.
°°°
Sementara di Rusia.
Josh sedang meronta-ronta, ia di sekap. Tubuhnya terikat dengan keras di kursi. Alberth berhasil menculikanya. Padahal sebelum Albert menculiknya, ia berniat menemui Sonya dan memberitau pada Sonya tentang Alberth. Namun sayang, sebelum bertemu Sonya, Josh sudah terlebih dahulu di tangkap Alberth.
"Apa kau suka tempat ini?" tanya Alberth yang tiba-tiba datang dari arah luar.
"Alberth lepaskan aku!" Teriak Josh.
__ADS_1
Alberth..