
Gabriel memeluk kaki Simma begitu erat. Tangisnya masih luruh membasahi wajah tampannya. Di titik ini, ia sungguh takut sang Ibu tidak bisa memaafkannya. Ia takut sang Ibu tak mau melihatnya lagi dan tak mau mengakui ia sebagai putranya.
Beberapa menit berlalu, mereka masih dalam posisi seperti ini, Simma pun masih tetap terdiam ditempat, tangis kedua ibu dan anak itu sama-sama pecah.
Stuard mengelus punggung Simma menyadarkan Simma, Hingga Simma menoleh ke bawah, di mana Gabriel sedang bersimpuh di kakinya.
Perlahan, Simma menggerakkan tangannya, kemudian ia mengelus rambut Gabriel. Hingga Gabriel mendongak menatap ibunya. “Ampun aku, Mommy. Maafkan aku,” ucap Gabriel dengan terbata-bata. Tubuhnya bergetar, ketika melihat netra sang Ibu.
Dadanya berdegup kencang, ketika tangan sang Ibu mengelus rambutnya, Gabriel sungguh rindu hal seperti ini.
“Bangunlah Gabriel!” titah Simma dengan suara yang sangat pelan.
“Mommy, maukah kau memaafkanku?” tanya Gabriel lagi.
“Bangun Gabriel!” titah Simma ketika Gabriel terus memeluk kakinya.
__ADS_1
“Bangun atau Mommy tidak mau memaafkanmu.” Setelah mengatakan itu, Gabriel melepaskan pelukan dari kaki ibunya. Stuard yang sedang berada di samping Simma membungkuk, membantu Gabriel untuk berdiri.
Sturad dan Gabriel dan saling pandang, kemudian Gabriel berhambur memeluk sang ayah. “Maafkan aku, Dad. Maafkan aku,” ucap Gabriel. Tangis Gabriel kembali pecah, saat di pelukan sang ayah. Ia memeluk Stuart begitu erat. Stuard adalah pahlawannya, Stuard adalah panutannya. Jika tak ada Stuard, ia dan Gabby tidak akan sampai seperti ini.
Air mata Stuard ikur terjatuh, bertahun-tahun menunggu, akhirnya Gabriel kembali ke dalam keluarganya. Sekarang, Ia hanya perlu mendukung Gabriel untuk menjalani hukumannya dan mendapat maaf dari Amelia serta Grisya.
Stuard melepaskan pelukannya, kemudian menghapus air mata Gabriel. “Kau putra Daddy, kau putra seorang Stuard Josepin, kau pasti bisa melalui ini,” ucap Stuard. Setelah mengatakan itu, Gabriel kembali berhambur memeluk stuard.
“Aaaaaa!” teriak Gabriel ketika ia sedang berada di pelukan sang ayah, ternyata Gabby mencubit pinggangnya begitu keras membuat Gabriel berteriak. Seketika Gabriel melepaskan pelukannya, kemudian menatap kembarannya. Lalu setelah itu, Gabby maju dan berhambur memeluk Gabriel. Hingga Gabriel hampir saja terjatuh.
Satu bulan kemudian.
Gabriel melihat ke jendela, matanya menatap lurus kedepan. Ia menghela nafas beberapa kali saat melihat Grisya yang sedang bermain bersama Gabby.
Ya, Gabriel memang tidak langsung di tahan, karena kaki Gabriel masih terluka, pihak kepolisian memberikan ijin untuk Gabriel di rawat di mansion, tentu saja karena Stuard menjamin semuanya. Dan setelah sebulan berlalu, akhirnya Gabriel melihat putrinya.
__ADS_1
Awalnya, Amelia melarang Grisya untuk pergi ke mansion kakek neneknya. Karena Amelia tau, Gabriel ada di sana. Tapi karena nasehat sang ibu, akhirnya Amelia mengijinkan Griysa untuk pergi.
Pintu terbuka, menyadarkan Gabriel dari lamunannya, ia menoleh kemudian menghapus air matanya. Ternyata Simma yang masuk kedalam kamar Gabriel, membawakan cemilan untuk putrinya.
“Kau tidak ingin turun, menemani putrimu?” tanya Simma, ia menaruh cemilan untuk Gabriel di atas nakas, kemudian menghampiri Gabriel yang sedang berdiri.
“Aku ingin memeluknya, Mom. Tapi aku malu,” jawab Gabriel, matanya mulai membasah. Simma tersenyum, kemudian mengelus punggung sang putra.
“Istirahatlah, Mommy. Akan turun," ucap Simma. Setelah itu, ia berbalik dan keluar dari kamar putranya.
“Mommy!” panggil Gabriel, membuat Simma menghentikan langkahnya, kemudian berbalik
“Bisakah Mommy sekarang memotokan putriku?’" pinta Gabriel, Simma pun mengangguk.
Scroll gengs
__ADS_1