
Setelah keluar dari kantornya. Zidan, memutuskan untuk singgah di restoran kesukaanya. Bukan untuk makan, ia sangat menyukai kopi di restoran tersebut.
Ia menyeruput kopi secara perlahan, menikmati rasa pekat dan aroma kopi tersebut.
"Zidan!" panggil seseorang dari arah belakang.
Zidan menoleh, "Josh!" lirih Zidan, ternyata Josh lah yang memanggilnya.
"Kau disini?" tanya Josh. Ia menarik kursi dan mendudukan dirinya di depan Zidan.
Zidan mengangguk, "Kau belum kembali ke Argentina Josh?" tanya Zidan. Ia memanggil pelayan untuk memberikan buku menu pada Josh.
"Aku akan tetap berada di Rusia. Aku sudah terlalu lama berada di Argentina. Jadi lebih baik aku menjalankan perusahaanku di sini," ucap Josh, sambil memilih menu. Sedangkan Zidan hanya mengangguk-ngangguk.
"Bagaimana hubunganmu dan kakakmu?" tanya Josh, saat selesai memilih menu.
Zidan menyeruput kopinya, pandangannya tertuju keluar jendela. Ia menghela nalas dalam-dalam, sebelum menjawab pertanyaan dari Josh.
"Tak ada yang berubah, Josh! Semua masih sama dan mungkin takan ada yang berubah," ucap Zidan.
Josh menatap wajah Zidan lamat-lamat, ia bisa melihat ada keputus asaan dari suara keponakannya.
"Seandainya aku datang lebih cepat ...."
"Sudahlah, Josh. Berhenti menyalahkan dirimu," ucap Zidan.
__ADS_1
Josh tersenyum, Zidan memang sangat mirip dengan kakanya. Tak lama, Josh, melambaikan tangannya pada Audy yang baru saja masuk. Melihat Josh melambaikan tangannya, Zidan pun ikut menoleh.
"Maaf membuatmu lama menunggu, Josh!" ucap Audrey saat menghampiri meja Josh. Ia mendudukan diri di sebelah Josh, Ia sama sekali belum menyadari keberadaan Zidan.
"Ekhemm," Zidan berdehem, seketika Audrey melihat ke arah Zidan. Ia hampir saja memerlihatkan keterkejutannya. Namun, ia berusaha mengendalikan dirinya.
Seketika Audrey melihat Josh, sedangkan Josh yang di tatap hanya mengangkat bahunya.
"Maaf, aku permisi ke toilet," ucap Audrey. Josh menggeleng melihat reaksi Audrey. Sudah di pastikan, Audrey bukan pergi ke toilet Melainkan pergi meninggalkan restoran
"Josh, dia pegawaimu?" tanya Zidan.
Seketika Josh menegakan tubuhnya, ia ingin berbicara serius dengan Zidan.
Zidan tampak berpikir. "Aku rasa aku ingat, Josh, Dia ..."
•••
Zayn memejamkan matanya saat Catty yang tak lain adalah salah satu koleksi Ja*langnya menghampirinya. Ia melihat ke sisi di mana Gia sedang melihat ke arahnya dengan tatapan tanda tanya.
"Hai, Zayn," sapa Catty dengan nada di buat semanja mungkin.
"Ha-Hai," jawabnya terbata-bata.
"Ini istrimu, Zayn?" tanya Catty.
__ADS_1
Zayn menarik pinggang istrinya. "Ya, Ini istriku," jawab Zayn. Ia berharap Catty tak membocorkan rahasianya.
"Pantas saja kau tak pernah memanggilku ke apartemenmu lagi."
Mata Zayn membulat mendengar jawaban Catty, ia langsung melihat Gia yang juga sedang melihatnya dengan tatapan terkejut.
"Kalau begitu, silahkan kalian lanjutkan!" Catty pun pergi meninggalkan Zayn dan Gia yang masih terkejut dengan ucapanmu.
"Sayang, aku bisa menjelaskan," ucap Zayn dengan gugup.
Gia tersenyum. "Itu hanya masa lalumu kan?" tanya Gia. Zayn pun mengangguk, seketika kelegaan menghinggapi Zayn.
Setelah itu mengatakan itu, Gia pun melanjutkan langkahnya. Di susul Zayn yang mendorong troli.
"Sayang, kenapa kau memborong sabun sebanyak ini?" tanya Zayn saat Gia memasukan banyak sabun pemutih kedalam trolinya.
"Sepertinya aku sedang membutuhkannya," jawab Gia sambil melihat-lihat kemasan yang akan di taruh di troli. Zayn pun hanya mengangguk-ngangguk.
Seketika ia teringat pada kejadian saat istrinya menyuruhnya untuk mencuci tangan karena pernah menyentuh tangan Helga.
Tiba-tiba, Zayn bergidik. "Sayang apa sabun ini ...." Seketika Gia tersenyum.
Udah up dua bab ya.
Bab terbaru Gani dan Mahira udh up ya 🤗
__ADS_1