
Briana mengerutkan keningnya ketika saat melihat Carla memakan puding. Bukankah putrinya tidak suka puding. Tapi, kenapa sekarang Carla malah meminta pesanan double puding pada pelayan Cafe.
“Carla, bukankah kau tidak suka puding?” Tanya Briana. Seketika Carla tersedak. Ia sendiri pun bingung. Kenapa, ia tiba-tiba menyukai puding. Biasanya, saat melihat orang lain memakan puding di depannya saja, ia langsung mual. Lalu kenapa sekarang ia malah ingin terus memakan puding.
Tib-tiba jantung Carla berdetak dua kali lebih cepat. Tanpa membalas ucapan Brianna. Ia melihat ponsel di depannya. Ia merasa, jantungnya akan lompat dari rongga dadanya kala ia melihat tanggal berapa hari ini. Tanggal 12 dan ia sudah telat menstruasi selama 6 hari.
Tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Bagaimana jika dugaanya benar, bahwa ia sedang mengandung. Ia ingat benar, sebulan yang lalu. Saat pesta kelulusan di sekolahnya. ia dan beberapa temannya merayakan sebuah pesta di rumah salah satu teman lelakinya.
Pesta itu bertema ala orang-orang dewasa dan karena terlalu larut dalam acara yang sedang berlangsung. Carla dan teman lelakinya melakukan sebuah dosa. Dan kini, kemungkinan besar, ia sedang mengandung.
Briana menatap Carla lekat-lekat. Ia sedang mengamati reaksi Carla. Carla yang didapat oleh sang ibu langsung berpura-pura tenang kembali.
Ia menyantap pudingnya lagi, Mommy puding di sini sangat enak, berbeda dengan di Rusia,” kata Carla, membuat Brianna tampak berpikir dan bodohnya Briana percaya dengan ucapan Sang Putri.
__ADS_1
“Ayo bersiap-siap. Setelah ini kita membeli oleh-oleh untuk kakak,” ajak Brianna.
Mendengar sang ibu membahas Ariana. Tiba-tiba, Carla merasa kesal. Carla sungguh benci saat sang ibu memikirkan kakaknya. Namun, sebisa mungkin ia tak memperlihatkan kekesalannya.
Tentu saja, segudang rencana sudah disiapkan oleh Carla. Walaupun ia sedang dalam kondisi kebingungan karena ia yakin bahwa ia mengandung. Tapi, untuk membuat kakaknya sengsara, Carla akan maju paling depan. Ia takkan rela jika Ariana mendapat perhatian apapun dari kedua orang tuanya.
••••
Setelah menyadari bahwa Ariana sudah pergi dari apartemennya. Zayn keluar dari kamar Ariana. Kemudian mendudukkan diri di sofa.
Saat melihat foto Ariana, Zayn tersenyum. Seketika, ia mengingat betapa kuatnya Ariana menjalani hidup.
Bukan hanya Ariana saja yang merasakan sikap Josh dan Briana berubah setelah Carla lahir. Zayn dan Zidan pun merasakannya.
__ADS_1
Mereka melihat, Josh dan Briana lebih dominan menyayangi Carla.
“Jika pergi adalah kebahagiaanmu. Maka pergilah. Berbahagialah Ariana,” kata Zayn dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengingat betul masa-masa sulit Ariana. Apalagi saat Carla lahir. Ia sering melihat Ariana menangis diam-diam di kamarnya.
Beberapa kali ia sudah menegur Josh dan Briana agar mereka bersikap adil. Namun, setiap ditegur. Josh dan Briana selalu mengatakan bahwa mereka sudah berusaha adil.
Namun, tentu saja yang dirasakan Ariana berbeda. Dan walau Briana dan Josh selalu mengatakan berusaha adil. Tapi, tetap saja Zayn merasakan perbedaan sikap Josh dan Briana pada Carla dan pada Ariana.
Dan, sekarang Zayn tak bisa menyalahkan Ariana jika Ariana pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Karena ia tahu, betapa beratnya hidup yang bilang di lalui oleh Ariana.
Bahkan, ia menjadi saksi, ketika Josh dan Briana selalu membanggakan Carla di hadapan semuanya, seolah pamannya lupa. Bahwa ia memiliki putri yang selalu berharap untuk mendapat kasih sayang yang adil.
__ADS_1
Scroll lagi enggak nih, ah elahhh ya udah lah scroll lagi 🤣🤣🤣