
Albert menjatuhkan ponsel yang sedang menempel di telinganya. Ia terhenyak kaget saat mendengar dari salah satu pemegang saham bahwa Zidan sudah membuka hubungannya dengan Albert.
Ia begitu terkejut, bagaimana mungkin putra bungsunya yang selama ini terlihat menurut, bisa memberontak . Ia pun dengan segera menelpon para pemegang saham agar tidak mencabut saham mereka karena berita yang beredar.
"Sonya, apa kau sudah dengar dengan apa yang terjadi di prusahaan?" tanya Albert ketika dia menghampiri Sonya yang sedang sarapan.
Ia mendudukan dirinya di sebrang Sonya, lalu mengambil jus jeruk yang sudah terhidang di meja makan, lalu menenggaknya hingga tandas. Matanya terus menatap Sonya yang menyuapkan makanannya dengan sangat santai. Tak ada raut terkejut di wajah istrinya.
"Zidan melakukan hal yang benar, dia juga putramu. Dia berhak mendapatkan yang sama seperti yang Zayn dapatkan," jawab Sonya dengan santai. Setelah menyuapkan suapan terakhirnya, Sonya mengelap mulutnya dan pergi meninggalkan Albert.
•••
Semua pemegang saham sudah pergi dari ruang meeting. Di ruangan itu hanya tersisa, Albert, Zidan dan Zayn.
Albert yang sedang duduk, langsung bangkit dari duduknya dan menatap kedua putranya dengan bergantian.
"Daddy tunggu kalian di mansion," ucap Albert pada kedua putranya.
"Maaf, Dad. Aku sibuk," ucap Zayn dan Zidan secara bersamaan. Bahkan mereka mengucapkan kalimat yang sama.
Selama ini, Zidan selalu menurut apa yang ayahnya perintahkan. Dan sekarng, ia tak mau lagi hidup tekanan, jadi ia lebih memilih tak membahas apa pun dengan Albert. Zidan pun pergi meninggalkan kaka dan ayahnya.
"Zayn!" panggil Albert.
"Maaf, Dad. Aku tak bisa," ucap Zayn. Ia pun menyusul langkah sang adik sang sudah keluar dari ruangan meeting.
Albert menghela napas, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Rasanya menyaikitkan jika melihat kedua putranya berseteru.
Seminggu kemudian.
Sementara Gia.
__ADS_1
Selama sebulan, gadis itu melewati harinya dengan hampa. Ia tak lagi bekerja, tepatnya tak ingin melihat lagi kedua adik kaka yang telah menghancurkannya. Selama sebulan itu pula, kerjaannya hanya menangis meratapi hal yang menimpa hidupnya.
Setiap malam, Mark selalu datang ke apartemen untuk mengantar makakanan untuk Gia. Walaupun Gia menolak apa pun yang di bawa Mark, Mark tak menyerah, ia tetap datang. Tentu saja itu utusan Sonya. Sonya ingin menemui Gia. Tapi ada rasa malu menghinggapinya kala ia ingat, semua penderitaannya berasal dari Zayn dan Zidan, belum lagi Gia harus kehilangan ibunya karena ulah adik tirinya. Dia memutuskan bertemu Gia dan meminta maaf pada Gia setelah kondisi Gia lebih baik.
Hari ini, Gia sudah berdandan rapih, dia sadar, hidup akan terus berjalan. Dia pun memutuskan untuk bangkit dari keterpurukannya.
Dan sekarang disinilah Gia, dia berdiri di depan perusahaan tempatnya bekerja. Ia terpaksa harus kembali ke perusahaan untuk mengambil barang-barang miliknya.
Ia pun berusaha menguatkan hatinya bila jika bertemu dengan Zayn atau pun Zidan.
Saat ia masuk kedalam perusahaan, semua mata tertuju padanya. Ada yang memandang Gia dengan tatapan hina, dan tatapan mencela.
Saat dia akan menaiki lift, seseorang menarik tangan Gia, dan dia adalah Nana. Nana menarik tangan Gia dan membawanya ke ruangannya.
"Nana, lepaskan! ini sakit," ucap Gia ketika Nana menarik tangannya dengan keras.
"Gia, apa kau bisa jelaskan tentang apa yang terjadi antara kau, tuan Zidan dan tuan Zayn?"
Nana pun berjalan kearah meja dan mengambil ponselnya.
"Ini, kau bisa jelaskan ini." Nana menyodorkan ponselnya ke depan Gia. Dengan segera, Gia mengambil ponsel Nana dan membukanya. Matanya membulat sempurna saat melihat apa yang di tampilakan di layar.
"Na-nana .... " Seketika Gia pingsan tak sadarkan diri. Beruntung nana sigap menahannya, hingga Gia tak terjatuh.
.•••
Gia membuka matanya, ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi. Aroma obat menguar di hidungnya. Ia yakin sekarang ia berada di rumah sakit.
"Gia, kau sudah sadar?" tanya Mark yang dari tadi menunggu Gia sadar, Mark lah yang membawa Gia kerumah sakit.
"Tuan Mark, kenapa aku bisa di rumah sakit?" tanya Gia dengan suara pelan.
__ADS_1
Mark menatap Gia lekat-lekat.
"Gia, Dokter berkata, kau sedang hamil," ucap Mark dengan menunduk. Ia tak berani menatap wajah Gia.
Tubuh Gia bertambah lemas saat mendengar ucapan Mark. Seketika Gia menangis, hamil tanpa ada suami, bagaimana bisa dirinya mampu menghadapi ini.
•••
Setelah Gia pulang dari rumah sakit, ia bukannya pulang ke apartemennya ia memutuskam menaiki bis, Ia memutuskan untuk pergi ke pantai. Langkahnya terasa ringan. Sepanjang perjalanan, ia menatap jendela, dia terus tersenyum tapi senyum yang berbalut luka.
Gia sampai di pantai pada sore hari, ia duduk di pasir sambil menunggu malam tiba.
Ketika malam sudah tiba, dan tak ada siapa-siapa di pantai. Gia mulai bangkit dari duduknya.
Ia berjalan kearah laut, dalam langkahnya ia tersenyum. Air mata terus mengalir ke wajah cantiknya. Ia mengelus perutnya. Dalam hati, ia terus mengucapkan kata maaf untuk calon buah hatinya.
Gia terus berjalan, langkahnya sudah menapaki air laut, ia memejamkan matanya kala ia terus berjalan lebih jauh dan lebih dalam. Air laut sudah sudah mengenai pinggangnya. Gia tak sanggup lagi memikul beban di hidupnya. Hidupnya sudah hancur berkeping-keping karena Zayn, dan ia lebih memilih mati dari pada harus terus membuat dirinya dan membuat anaknya kelak menderita. Apalagi di seluruh kantor sudah tersebar foto dirinya dan Zayn saat di bali dan tentu saja semua menganggap Gia wanita murahan. Cukup dia saja yang merasakan getirnya kehidupan.
Gia terus berjalan lebih dalam, ia terus mengepalkan kedua tangannya menahan takut, menahan arus air, air mata tak berhenti mengaliri wajah cantiknya.
Saat dia terus berjalan untuk menenggelamkan diri, seseorang menarik tangannya.
"Apa kau gila, Hah!" teriak Zayn dengan lantang. Napasnya masih ngos-ngosan karena mengejar Gia yang sudah hampir ke tengah lautan
Seketika Gia membuka matanya, tiba-tiba ada ombak yang menghantam mereka. Dengan sigap Zayn menarik pinggang Gia dann ...
Dan kalian pasti tegang kan hahahahahah
Aku sengaja up malem karena ngetiknya di panjangin dan ini baru beres ngetik setelah si krucil pada tidur. Jadi jangan ada yang komen up nya dikit banget ya, karena aku udah bener-bener ngetik panjang sampai belain bergadang demi kalian. Jarinya tolong di jaga ya kakak-kakak jangan bikin Down.
Pasti pada nanya kan kenapa albert belum ngebongkar rahasia sebenarnya. Karena nanti aku akan membongkarnya dengan cara yang tak terduga. Nanti di jelasin ya di next bab kenapa Zayn bisa nyusul Gia.
__ADS_1
Banyak yang bilaang nasib Gia menderita. Tapi nanti, Gia akan berkata pada dunia bahwa dialah wanita yang paling bahagia 🤗🤗