
Saat kepalanya berada di pundak Zayn. Tangis Zidan kembali luruh.
"Aku memang manusia yang sangat buruk," ucap Zidan di tengah isakannya. Zayn tak mampu menjawab ucapan Zidan. Ini semua berasal darinya dan karenanyalah semua terjadi.
Seandainya dulu ia tak mengasingkan Zidan, tentu saja hal yang menimpa Zidan dan Audrey takan terjadi, dan Kelly takan menjadi korban.
Mereka sama-sama terdiam, meresapi dan mengingat saat masa kecil mereka yang sama-sama perih dan penuh luka.
Saat mereka sibuk dengan lamunan masing-masing, tiba-tiba ada yang menepuk lembut bahu Zayn. membuat Zayn menoleh, ternyata, Gia lah yang menepuk pundak Zayn.
Saat melihat Gia, Zayn langsung menurunkan bahunya. Ia tak ingin istrinya melihat sisi melow dalam dirinya, ia terlalu gengsi memerlihatkannya.
"Sayang, mana Leo?" tanya Zayn. Membuat Zidan mendengus, padahal sedetik lalu, ia bisa merasakan bahwa kakanya ikut berduka karena apa yang sedang dia alami. Tapi, sekarang ... Ah entahlah. Kakanya memang ajaib.
Saat melihat Gia, tiba-tiba, Zidan teringat Audrey, kemana Audrey, bukankah seharusnya dia ada di rumah sakit.
"Zayn, apa kau tak melihat Audrey?" tanya Zidan. Seketika Zayn menepuk keningnya karena melupakan Audrey yang di bawa oleh polisi.
"Aku lupa, tadi dia di bawa oleh polisi," ucap Zayn, membuat Zidan membulatkaan matanya.
"Polisi?" ulang Zidan. Zayn pun mengangguk ....
•••
__ADS_1
"Kita sudah membawanya ke tempat yang di tuju dan mengikatnya," ucap salah satu polisi gadungan yang bernama Max. Max menelpon Adrian, yang tak lain adalah orang yang memerintahkannya untuk menangkap Audrey dan berpura-pura menjadi polisi.
Semua sudah di rencanakan, penabrakan Kelly, rumah sakit yang sama dengan tempat Ane di rawat dan penangkapan Audrey.
Adrian sadar, ia takan pernah bisa melawan Audrey, walaupun Audrey seorang wanita. Namun, Audrey tak bisa di anggap remeh.
"Ayo kita menunggu di luar," ucap Max pada rekannya. Mereka pun berjalan keluar meninggalkan Audrey yang sudah terikat dan masih belum sadarkan diri.
15 menit kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah tua, dan itu adalah mobil Adrian.
"Kalian boleh pergi, aku akan sudah mengirimkan bayaran ke rekening kalian," ucap Adrian, kedua orang itu pun mengangguk patuh.
Setelah kedua orang itu pergi, Adrian melihat kesana kemari memastikan tak ada yang melihatnya.
Setelah di rasa aman, Adrian pun melangkahkan kakinya untuk masuk, saat masuk, ia tersenyum sinis saat melihat Audrey sudah sadar, dan sedang meronta-ronta
"Membunuhmu," jawab Adrian dengan santai. Namun, nada suaranya sangat mengancam.
"Lepaskan aku Sialan!" teriak Audrey saat Adrian menyeringai padanya.
"Kau tau, apa mauku selain membunuhmu?" tanya Adrian dengan terkekeh. "Membunuhmu saja, tak cukup. Tentu aku akan menjual putrimu!" desis Adrian, ia bangkit dari duduknya, kemudian mencekik rahang Audrey, wajah yang tadinya santai berubah menjadi mengerikan.
Adrian sudah lama menunggu saat-saat seperti ini, saat dia bisa menghabisi Audrey dengan tangannya sendiri. Di masa lalu, mereka adalah rekan yang saling melengkapi. Namun kini, semua itu berubah. Hanya ada dendam di mata Adrian.
__ADS_1
Saat Adrian mencekik rahangnya, Kursi yang di tempati Audrey terjungkal, Adrian menekuk kakinya dan kembali mencekik leher Audrey
"Kau tau, aku sangat bahagia saat menabrak putrimu. Aku serasa di surga saat melihatnya bersimbah darah. Dan jika aku membunuhmu, aku akan menyiksanya hingga aku puas dan akan menjualnya," ucap Adrian. Mendengar ucapan Adrian, Mata Audrey berkilat penuh amarah. Saat Audrey akan meronta untuk melawannya.
Adrian mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkannya pada kepala Audrey
"Riwayatmu tamat Audrey," ucap Adrian.
Tangis Audrey luruh saat Adrian terlihat akan menarik pelatuk. Dunia Audrey menggelap. Ia memejamkan matanya, tiba-tiba wajah Kelly terlintas di otaknya.
"Maafkan Mommy, Kelly," lirih Audrey dalam hatinya saat merasa bahwa ini detik-detik terakhir hidupnya.
Namun, setelah memejamkan mata beberapa saat ia kembali membuka matanya saat merasa tak ada pergerakan dari Adrian.
Audrey terkesiap saat melihat orang di belakang Adrian sedang menodongkan pistol ke kepala Adrian, membuat Adrian tak berkutik.
Orang itu tersenyum pada Audrey, mengisyaratkan semua akan baik-baik saj.
Dan kini, Adrian menodongkan pistol ke kepala Audrey, dan ada orang lain yang menodongkan pistol ke kepala Adrian
Orang itu ....
Hate komen blok 😎
__ADS_1
bilang dikit banget juga blok, karena ini udah panjang banget😎
Blok ga bisa baca cerita ini lagi 😎