
Setelah kepergiaan Stuard, Simma masih menatap kosong kedepan. Mendengar ucapan Stuard, dan merasakan elusan tangan Stuard di perutnya membuat Simma bimbang.
Di sisi lain, ia ingin pergi dan tak ingin bertemu lagi dengan Stuard karena ia pun merasa takut pada Stuard. Tapi, di sisi lain, ia merasa perasaan yang aneh, hatinya seperti hampa saat Stuard membiarkan ia pergi. Hati kecilnya, seolah memberontak dan menginginkan Stuard tetap ada di sisinya.
Tapi tak lama, Simma berpikir rasional, ia harus berpikir realistis, tentang siapa Stuard dan siapa dirinya.
Lamunan Simma buyar kala ia mendengar suara pintu terbuka, dan Simma pun menoleh.
"Haloo, Nona Simma," ucap Neta, wanita parubaya yang bekerja sebagai kepala pelayan.
Simma pun hanya tersenyum samar.
"Ini pakaian anda, Nona. Tuan Stuard sedang menunggu anda di bawah," ucap Neta, mendengar nama Stuard. Tiba-tiba, hati Simma berdesir dan ia Ia pun tak tau kenapa.
__ADS_1
Simma mengangguk, ia pun mengambil kotak yang berisi pakaian lalu berjalan ke kamar mandi.
Saat membuka kotak tersebut, Simma tersenyum getir. Dari pakaian yang di siapkan Stuard untuknya saja membuat Simma minder, ia tau pakaian yang akan di pakainya berharga selangit, dari brand yang sudah terkenal di seluruh dunia.
Melihat mansion Stuard, apa yang di pakai Stuard dan semua yang ada di sekitar Stuard membuat Simma cukup tau diri.
Setelah puas berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya, Simma pun memakai pakaiannya dan setelah selesai ia pun keluar dari kamar mandi.
Saat keluar, keningnya mengkerut heran saat melihat Kina, yang tak lain adalah dokter kandungan yang memantau Simma saat berada di mansion.
Saat Simma berbaring, Kina langsung menggeser crusor usg ke perut Simma. Sedangkan mata Simma fokus pada layar, untuk melihat buah hatinya.
"Puji Tuhan, kedua bayi anda baik-baik saja. Saya akan memberikan vitamin pada anda," ucap Kina, lagi-lagi, Simma pun hanya mampu mengangguk.
__ADS_1
Saat semua pemeriksaan sudah selesai. Simma bersama Neta pun turun, saat keluar dari lift, ia melihat Stuard sedang berdiri menghadap jendela, punggung Stuard begitu kokoh dan lagi-lagi, mampu membuat darah Simma berdesir. Namun, secepat kilat, Simma menyadarkan dirinya.
"Tuan!" panggil Neta, Stuard pun menoleh dan mengangguk lalu berjalan ke arah Simma.
"Kau sudah selesai?" tanya Stuard, Simma pun mengangguk pelan kemudian menunduk. Rasanya, Simma tak mampu lagi menatap Stuard.
Stuard menarik sudut bibirnya, ia sudah tau apa yang di rasakan oleh Simma, ia yakin, Simma sudah jatuh hati padanya. Namun, Simma masih belum menyadarinya dan ia perlu berjuang sedikit lagi agar Simma percaya padanya.
Melihat Simma tertunduk. Stuard langsung marangkul tubuh Simma, membawa Simma kedalam dekapannya. Ia mengelus punggung Simma, membuat Simma merasakan kenyamanan dan rasanya, Simma tak ingin melepaskan pelukan ini.
Stuard melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Simma dan mengangkat wajah Simma hingga kini, mata mereka saling mengunci.
"Maafkan aku jika selama ini membuatmu tak nyaman. Maafkan aku juga yang telah membohongimu. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Jaga dirimu, Simma dan jaga kandunganmu. Jangan pernah bersedih untuk hal apapun yang sudah terjadi di hidupmu. Tuhan menitipkan rasa sakit karena Tuhan tau kau mampu melewatinya dan akan ada masa di mana kau bahagia," ucap Stuard. Membuat mata Simma memanas. Tiba-tiba, Simma ingin menangis saat mendengar ucapan Stuard.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Stuard mendekatkan wajahnya dan mencium kening Simma dengan penuh kasih sayang.
"Rain akan mengantarkan ke apartemenmu" ucap Stuard setelah ia mencium kening Simma.