
Nafas mereka masih terengah-engah, Gabriel dan Amelia sama-sama mengatur nafasnya. Saat ini, mereka baru saja selesai dengan percintaan Mereka, seperti biasa Amelia merebahkan tubuhnya di dada Gabriel
Ia memeluk leher Gabriel, karena tubuh Amelia begitu lemas, karena Gabriel menguras tenaganya. Apalagi selama seminggu ini, Gabriel tidak menyentuh Amelia. Ya, tentu saja rasa Gabriel meluap-luap pada istrinya.
“Kau harus?” tanya Gabriel, Amelia menegakkan tubuhnya. “Gabriel Aku lapar,” ucap Amelia lagi, membuat Gabriel terkekeh
“Kau kan baru saja makan?” tanya Gabriel lagi, seketika Amelia mencubit pipi Gabriel.
“Tapi kau menguras tenagaku barusan!” kata Amelia, sambil cemberut membuat Gabriel kembali terkekeh. Ia mengelus punggung Amelia, kemudian membawa Amelia ke dalam pelukannya. lalu memeluk Amelia begitu erat.
“Gabriel, aku tak bisa bernafas!” kata Amelia lagi, saat Gabriel memeluknya dengan sangat erat, membuat Gabriel tertawa. Amelia bangkit dari pangkuan Gabriel, kemudian ia langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lupa, ia membawa pakaian-pakaian yang tadi dilepaskannya.
Dua puluh menit berselang, mereka sudah sudah memakai pakaiannya masing-masing dan tinggal menunggu makanan yang sudah dipesan Gabriel.
__ADS_1
Gabriel sudah duduk di kursi kerjanya sembari memeriksa laptop dan Amelia yang sedang duduk di sofa langsung bangkit dari duduknya kemudian ia menghampiri Gabriel. Gabriel yang tahu Amelia datang, langsung memberi ruang kemudian menepuk pahanya, hingga kini Amelia duduk di pangkuan Gabriel.
“Why?” tanya Gabriel. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang, agar Amelia semakin nyaman.“Kau sibuk?” tanya Amelia sambil merangkul leher Gabriel.
“No, aku hanya memeriksa beberapa berkas saja.”
“Benar kau tidak sibuk, jika kau sibuk aku ingin pulang saja, aku takut mengganggumu,” kata Amelia lagi, secepat kilat Gabriel menggeleng.
“Gabriel!” panggil Amelia lagi. Ia seperti ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
“ Kenapa?” tanya Gabriel, Amelia tak menjawab. Ia malah menangkup kedua pipi Gabriel, lalu menciumi seluruh wajah Gabriel membuat Gabriel tertawa.
“Kau pasti sedang ingin sesuatu kan?” tanya Gabriel. Tapi tiba-tiba, Gabriel terdiam setelah menyadari sesuatu.
__ADS_1
Setelah menikah, Amelia belum pernah meminta apapun padanya. Bahkan, Amelia terakhir meminta tolong padanya saat Amelia mengidam makan di kedai yang tadi ia datangi. Tapi, ia malah membentaknya. Sesak kembali mengisi rongga dada Gabriel, ketika ia menyadari mungkin istrinya ragu meminta sesuatu padanya, karena takut kejadian lalu terulang lagi.
“Baby!” panggil Gabriel. Amelia bisa melihat ekspresi Gabriel yang terlihat sendu, Gabriel menarik tangan Amelia kemudian mengecupnya
“Apa kau ingin sesuatu? apa ada sesuatu yang kau butuhkan?” tanya Gabriel, Amelia tampak berpikir.
“Tidak, tidak ada. Aku tidak ingin apapun,”jawab Amelia lagi. Tapi dari matanya, Gabriel tahu bahwa istrinya berbohong.
“Kau pasti sedang menginginkan sesuatu kan?” tanya Gabriel. Sebelum Amelia, menggeleng Gabriel memegang dagu Amelia. “Baby, Aku suamimu. Aku akan berusaha untuk mengabulkan semua apapun yang kau mau, sesulit apapun itu. Aku akan berusaha mendapatkannya,” kata Gabriel dengan tulus, membuat Amelia mengangguk.
“Tapi, kau nanti akan marah lagi padaku dan kau bisa saja meninggalkan aku lagi,” kata Amelia membuat dada Gabriel kembali sesak. Ternyata, istrinya masih menyimpan ketakutan padanya. Gabriel menegakkan tubuhnya kemudian memeluk Amelia semakin erat.
••••
__ADS_1