Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Sebuah Hati yang Hancur


__ADS_3

Simma dan Grisya baru saja keluar dari kantor Stuard, mereka berencana makan siang di restoran yang dekat dengan kantor. Itu sebabnya, Simma tidak memakai mobil dan memilih berjalan kaki.


Saat mereka berjalan, Grisya berceloteh kesana kemari, membuat Simma tersenyum dan menanggapi celotehan cucunya.


Lalu tak lama, saat akan masuk kedalam restoran. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat Gabriel keluar dari restoran dan tepat saat Simma terdiam, Gabriel pun melihat ke arahnya. Hingga kini, kedua mata anak dan ibu itu saling menatap.


Mata Simma berkaca-kaca ketika melihat Gabriel ada di depannya, sudah 10 tahun ini. Ia tak bertemu putranya. Harus ia akui, Simma begitu rindu dengan putranya. Bahkan, saat ini, Simma ingin sekali berlari ke arah Gabriel dan memeluk putranya.


Tapi, ketika ingat kelakuan Gabriel, rasa yang barusan ia rasakan seketika tertutup dengan amarah, yang sampai sekarang belum bisa ia lupakan. Ia bahkan belum bisa memaafkan Gabriel, karena perlakuan Gabriel pada Amelia.


Tubuh Gabriel diam mematung, matanya terus menatap kearah sang ibu. Mata Gabriel membasah. Ia begitu merindukan ibunya. Tanpa sadar, ia melangkahkan kakinya untuk berjalan kearah sang Ibu.


Ia sama sekali tidak fokus, pada Grisya, yang ia fokuskan adalah melihat sang ibu. Saat Gabriel sudah melangkah, ia menghentikan langkahnya kembali, ia tersadar, ketika Simma mengalihkan tatapannya kearah lain, pertanda ia tak ingin dihampiri oleh Gabriel.

__ADS_1


Simma yang tahu bahwa Gabriel akan. menghampirinya, langsung memalingkan tatapannya kearah lain.


Ia belum sanggup untuk berbicara dengan putra pertamanya. Lalu, ia mengajak Grisya untuk masuk ke dalam restoran, membuat Gabriel diam terpaku. Ia bisa


melihat kekecewaan dan amarah di mata sang ibu


“Nenek, tunggu!” ucap Grisya ketika akan masuk. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat dompet tergeletak di bawah, kemudian melepaskan tangannya dari genggaman tangan Simma.


“Uncle!” panggil Grisya, seketika Gabriel tersadar..Ia menoleh kearah Griysa. Saat Grisya menghampiri Gabriel, Simma membelakangi Gabriel, karena ia tak sanggup menahan tangisnya. Melihat Griysa dan Gabriel, mengingatkan Simma pada masa lalu, dimana kedua anaknya tidak mengenali ayah kandungnya.


“Uncle!” panggil Griysa lagi. Gabriel tersadar hingga mata mereka saling mengunci. merasa tak asing dengan wajah Gresya.


“Uncle, apa ini dompetmu?” tanya Griysa lagi, wajahnya sedikit kesal, karena Gabriel tidak menjawab ucapannya.

__ADS_1


Tak lama, Amelia datang dari Arah samping, karena memang dia ditelepon oleh Simma dan Kebetulan juga, Amelia sedang bertugas di depan kantor Stuard, hingga ia langsung menyusul Simma ke restoran.


Namun, saat dekat restoran, langkahnya terhenti ketika melihat Greysia sedang berdiri di hadapan Gabriel. Tepat saat Amelia datang, Simma langsung menoleh kearah Amelia yang juga sedang melihatnya.


Dari jauh, Amelia menggeleng pertanda Ia tak ingin Gabriel mengetahui bahwa Griysa adalah putrinya, Simma yang mengerti isyarat dari Amelia langsung berbalik. ”Griysa, ayo masuk!” ucap Simma.


Baru saja ia akan memanggil sang Ibu. Namun niatnya terhenti kala Simma memanggilnya. Ia kembali menatap Gabriel, lalu menarik tangan Gabriel dan menyimpan dompet itu di telapak tangan sang ayah.


Setelah itu, Greysa kembali menghampiri Simma dan langsung masuk ke dalam restoran. sedangkan Amelia langsung bersembunyi di belakang mobil, hingga Grisya tak menghampirinya. Ia tak ingin Gabriel melihatnya bersama Simma dan Griysa.


Scroll lagi gengs.


Belum saatnya Gabriel tau, karena pas tau semuanya bakal meledak dengan cara yang tak terduga wkwk. sabar ya beberapa bab lagi kok.

__ADS_1


__ADS_2