Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
340


__ADS_3

“Kemudian setelah kau pergi bersama ayahmu, aku tertangkap saat akan melarikan diri. Mereka murka saat melihat pimpinan mereka tertembak olehku. Aku di hajar, di seret, dan di lempari batu oleh jemaah lain. Mereka memakiku pada saat itu, aku sudah pasrah ... Setidaknya, kau sudah selamat dan aku sudah menemukan kedua orang tuaku. Aku pasrah jika hidupku memang berakhir di tangan mereka. Tubuhku sudah lemas karena di hajar, beberapa orang sudah menyayat kulit di tubuhkan dan menyayat wajahku. Saat aku akan di gantung di atas api yang menyala, aku mendengar jemaah yang lain berteriak akan menculikmu kembali dan menjadikan tumbal untuk bulan purnama berikutnya ... Mendengar namamu di sebut, kekuatanku mendadak bangkit. Aku menendang orang yang akan mengikatku dan secepat kilat, aku mengeluarkan pistol dan menembak ke segala arah hingga mengenai beberapa jemaah. Keadaan menjadi riuh, saat mereka membantu orang yang tertembak ... Saat mereka lengah, aku berhasil melarikan diri. Beruntung di luar gedung aku menyimpan tas yang berisi gas beracun dan saat aku keluar aku melemparkan gas beracun itu kedalam.”


Justin mengakhiri ucapannya, ia tersenyum getir saat mengingat semuanya. Ia lalu melonggarkan pelukannya untuk melihat Ariana.


“Ariana ... Ariana!” panggil Justin saat Ariana sama sekali tak bergerak dan seperti berhenti bernafas. Ia melepaskan pelukannya. Mata Justin membulat saat melihat wajah Ariana yang menegang dan pucat.


“Ariana!” Justin menangkup kedua pipi Ariana, lalu mengelus pipi Ariana dengan ibu jarinya hingga Ariana tersadar.


“Mi-mister ....” lirih Ariana dengan terbata-bata. Matanya mulai berkaca-kaca saat memandang wajah Justin. Ia tak menyangka apa yang terjadi pada Justin begitu menyakitkan dan itu semua ulah kakeknya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kesakitannya Justin saat itu.


Mengerti apa yang di rasakan oleh Ariana. Justin membawa Ariana kedalam dekapannya. Ia mengelus punggung Ariana membiarkan Ariana menangis dalam pelukannya. “Its oke, Darling. Semua telah berlalu. Aku sudah mampu melewati semua. Perjuanganku tak sia-sia ... Aku bisa mendapatkanmu dan kau mencintaiku, itu sudah cukup bagiku.”.


Tangis Ariana luruh, kenapa lelaki ini begitu baik. “Mister ... Kenapa begini! kau tampan, kau mapan dan kau sempurna. Kenapa kau harus mencintai wanita cacat sepertiku, kau bisa mendapatkan wanita yang sempurna dan jauh di atasku,” kata Ariana, membuat Justin menggeleng seketika.

__ADS_1


“Kau sempurna Ariana, dari kau kecil, rasaku mungkin hanya sebatas iba. Setelah aku mengikutimu dan kau beranjak dewasa, rasa iba itu perlahan tumbuh menjadi cinta. Aku selalu merindukanmu setiap malam, berharap aku bisa memelukmu. Tapi, aku sadar kau adalah wanita yang paling sulit untuk di dekati hingga aku hanya bisa menahanmu di ruanganku dan juga, rasanya menyenangkan membuatmu kesal.” kata Justin. Ia tertawa di akhir kalimatnya saat Ariana mencubit perutnya.


“Sekarang dengarkan ini!” titah Justin, membuat Ariana melepaskan pelukannya dan menatap Justin.


“Kau sudah akan lulus, dan umurku sudah tak lagi muda. Ayo kita menikah, aku akan langsug menemui ayah dan ibumu,” kata Justin..Namun, Ariana menggeleng.


“Kau tak mau menikah denganku?” tanya Justin dengan panik. Seketika Ariana menggeleng lagi.


“Aku sungguh tak ingin melihat mereka lagi, aku juga tak mau mereka datang ke pernikahanku.” kata Ariana. Tiba-tiba, hatinya berdenyut nyeri. Ia teringat saat pagi tadi ketika ia melihat Instagram sang ibu. Briana memposting foto sedang bermain di pantai bersama Carla di Korea dan yang memotokan itu adalah Josh dan di foto itu, Briana menuliskan caption seolah Carla adalah anak yang paling sempurna. Ia juga iseng melihat foto-foto lain di Instagram sang ibu, tau apa yang lebih menyakitkan bagi Ariana. Tak ada satu pun fotonya di Instagram Briana, yang ada hanya foto kedua orang tuanya dan Carla.


“Bawa aku pergi dari sini, mister!” kata Ariana. Ia langsung memeluk Justin dan menumpahkan tangisannya.


“Aku pasti akan membawamu pergi dari sini. Dan aku bersumpah, mereka tak akan bisa menemuimu lagi.” Justin mengelus punggung Ariana dan membiarkan Ariana menangis dalam pelukannya.

__ADS_1


“Seujung kukupun, aku tak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi!” mata Justin berkilat penuh tekad.


Setelah puas menangis di pelukan Justin, tanpa sadar Ariana tertidur di pelukan Justin, dengan pelan Justin mengubah posisi Ariana, hingga kini, Ariana tertidur dan merebahkan kepalanya di paha Justin.


Justin terus mengusap rambut Ariana, agar Ariana semakin terlelap.


“Nancy!” lirih Ariana, ia mengigau memanggil nama Nancy, membuat dada Justin berdenyut nyeri. Dalam tidurnya saja, masih terlihat bahwa wanita malang itu, menanggung banyak luka.


Ga komen ga flend ya


Hate komen blok 😂😎


Yang pengen cepat si Josh sama Briana dapet karma kita satu bumi.

__ADS_1


__ADS_2