Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
131


__ADS_3

Saat Audrey menunduk, Simma membawa Audrey kedalam dekapannya. Tangis Audrey kembali pecah di pelukan Simma.


"Saat kau memutuskan membawa Kelly bersamamu, apa kau sudah menyiapkan hatimu, jika seandainya Kelly bertemu dengan ayahnya seperti tadi?" tanya Simma.


Audrey melepaskan pelukannya pada Simma. Ia menelungkupkan kedua tangannya pada wajahnya.


"Aku takut, Simma. Aku takut," lirihnya. "Kami hanya dua orang asing yang tak saling mengenal. Dia belum tentu mengingat yang terjadi, dan seandainya memang suatu saat dia tau dan mengambil Kelly dariku, aku harus bagaimana?" lirih Audrey, ada rasa sesak tersendiri yang menghimpit dadanya kala tadi ia menyaksikan Zidan dan Kelly bertemu.


Ada ketakutan tersendiri yang Audrey rasakan, ia takut jika Zidan tau, Zidan takan mengakui Kelly karena mereka hanya orang asing dan belum tentu Zidan mengingat apa yang terjadi. Dan di sisi lain, ia juga takut jika Zidan mengetahui tentang Kelly, Zidan dan keluarganya akan mengambil Kelly darinya dan jika itu terjadi, Audrey tak akan bisa berbuat apa-apa. Di luar ketangguhannya, Audrey tetaplah wanita biasa.


Simma mengelus punggung Audrey membiarkan Audrey tenang. "Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Kelly," ucap Simma. Sebagai sahabat, ia mengerti betul bagaimana perjuangan hidup Audrey yang penuh luka dan air mata.


•••


"Audrey!" panggil Josh yang baru saja keluar dari ruangannya.


Audrey yang sedang memeriksa dokumen langsung mengdongak melihat Josh, "Ya, Josh!" jawab Audrey.

__ADS_1


"Ayo makan siang bersama!" ajak Josh. Namun, Audrey tampak berpikir sejenak. Tak biasanya Josh mengajaknya makan siang bersama.


"Aku menunggumu di bawah," ucap Josh.


Sementara Audrey menghela napas, ia pun merapikan mejanya dan mengambil ponselnya lalu bangkit dari duduknya dan menyusul Josh.


30 menit kemudian mereka pun sampai di sebuah restoran.


"Josh!" panggil seseorang dari arah belakang. Josh dan Audrey yang akan memilih meja pun menoleh.


Padahal, tentu saja ia tau. Ia sengaja mengajak Audrey ke restoran yang selalu di datangi Zidan, berharap Zidan ada di Restoran tersebut, dan benar saja, Zidan memang ada.


Walaupun hampir tidak mungkin. Tapi, mulai saat ini Josh bertekad akan mendekatkan Audrey dan Zidan. Setidaknya dia sudah berusaha, berhasil atau tidak itu urusan belakangan.


Josh pun menghampiri Zidan yang sedang menikmati makan siangnya, sedangkan Audrey mau tak mau mengikuti langkah Zidan.


"Boleh kami bergabung bersamamu?" tanya Josh. Zidan mengangguk. Mata Zidan membulat saat melihat Audrey, bukankah wanita di depannya ini kemarin baru saja tertusuk. Tapi kenapa sekarang ...

__ADS_1


"Nona Audrey, apa anda sudah pulih?" tanya Zidan.


Audrey yang baru saja duduk langsung memandang Zidan, lalu tersenyum. "Saya baik-baik saja tuan Zidan," jawab Audrey.


Zidan mengangkat tangannya, memanggil pelayan untuk mengantarkan menu. Saat Audrey memilih menu, diam-diam Zidan mencuri-curi pandang ke arah Audrey.


Entahlah, matanya terasa terhipnotis setiap kali melihat Audrey. Di mata Zidan, Audrey adalah wanita yang tangguh dan keren. Ia selalu teringat saat Audrey terjun dari gedung dengan hanya menggunakan seutas tali.


"Zidan apa proyek yang kau garap sudah rampung?" tanya Josh ketika menunggu makanannya.


Zidan yang baru saja akan menyuapkan makanannya, langsung menatap Josh lalu menggeleng. "Aku belum menemukan model yang cocok untuk produk yang akan di keluarkan."


"Bagaimana jika Audrey saja yang menjadi modelnya," tawar Josh.


Mendengar ucapan Josh, Audrey langsung tersedak. Ia langsung memelototi Josh dan ....,


Hate komen Blok 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2