Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
34


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Gia, Zidan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Zidan terbiasa hidup pahit sedari kecil, ia terbiasa mengendalikan diri dan emosinya.


Walau emosinya masih di ubun-ubun, Zidan berusaha berjalan dengan tenang. Ia keluar dari hotel untuk mencari hotel lain.


°°°


Setelah menemukan hotel yang tak jauh dari hotel yang di tempari Zayn dan Gia tadi. Zidan pun berjalan dengan gontai ke kamarnya.


Saat sampai di kamar, Zidan langsung berjalan kearah ranjang. Ia bukan duduk atau berbaring di ranjang, ia malah terduduk di lantai. Zidan menyenderkan punggungnya di pinggir ranjang, ia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya. Tangis yang sedari ia tahan akhirnya pecah.


Zidan menangis bukan karena lemah, ia adalah pria yang kuat. Sedari kecil, ia sudah terbiasa menerima semua kesakitan. Menerima kebencian dari kaka dan ayahnya. Diasingkan ketika dia dewasa, tak ada yang menyambut kedatangannya selain Sonya. Tak ada yang merindukannya ketika dia pergi, bahkan dia tak yakin Sonya merindukannya.

__ADS_1


Tak ada yang mengharapkan kehadirannya. Ia melalui semuanya dengan tersenyum, ia memendam semuanya sendiri. Ia, hanya ingin di anggap, ia hanya ingin kaka dan ayahnya tersenyum padanya.


semua terasa pahit bagi Zidan, hidupnya kembali berwarna saat Gia datang kedalam kehidupannya, mengisi hatinya dan bahkan ia berani melawan Zayn saat Gia hadir kedalam hidupnya.


Tapi kini, semua warna dalam hidupnya hilang kembali, warna gelap itu kembali menyapa hidupnya. Kaka tirinya yang selama ini ia sayangi sukses membuatnya hancur berkeping-keping.


Semua tak lagi sama, bisakah dia tetap bertahan melewati hari suram.


"Apa kau masuk kedalam hidupku untuk membantu Zayn menyitiku, Gia," lirih Zidan. Kemudian ia tersenyum getir saat mengingat saat pertama kali Gia menjadi sekretaris Zidan dan itu adalah perintah Zayn.


Zidan merasa bahwa Zayn dan Gia sengaja menghancurkan dirinya. Ingin ia tak percaya dengan apa yang di katakan Zayn. Tapi, melihat Gia yang tertidur nyaman di dekat Zayn sampai pakaian tipis yang Gia pakai saat kehadirannya sudah menjelaskan apa yang terjadi antara Zayn dan Gia.

__ADS_1


Zidan hanya memercayai apa yang dia lihat. Tanpa sadar, dia telah melukai Gia yang tak tau apa-apa, tapi harus terseret diantara dirinya dan Zayn.


°°°


Mendengar Gia yang hampir meregang nyawa karena dirinya Zayn terdiam, ia diam terpaku. Rasa iba menelusup ruang hatinya. Namun tak lama dia menggeleng. "Memangnya apa urusannya denganku." Jiwa iblis Zayn kembali muncul. Ia, menyingkirkan rasa ibanya. Tujuannya sudah tercapai. Jadi, dia tak mau memikirkan hal lain.


"Zayn!" teriak Mark saat Zayn malah mengucapkan hal yang tak sepantasnya.


"Mark, kau ditugaskan untuk membersihkan kekacauan yang aku lakukan, bukan? Maka, Lakukan seperti biasa, semoga kau tak lupa bagaimana dulu keluargaku menolong keluargamu," jawab Zayn saat mendengar Mark berteriak.


Mark terdiam, dia menghela napas sedalam dalamnya, menertralkan amarah yang bergemuruh dalam dada. Ia, sadar, takan ada gunanya berdebat dengan Zayn.

__ADS_1


Ia pun lebih memilih keluar dari kamar dengan membanting pintu. Mark memutuskan untuk menyusul Gia yang sudah pergi ke rumah sakit. Melihat Gia, mengingatkannya pada adiknya yang juga mengalami hal yang Gia alami.


__ADS_2