
Deg
Seketika tubuh Zayn menegang melihat reaksi Gia yang memalingkan wajahnya. Bukankah tadi Gia membalas pelukannya. Tapi, kenapa sekarang ...
"Gia!" lirih Zayn.
Dengan air mata yang masih bercucuran, Gia tersenyum lembut pada Zayn. Ia melepaskan tangan Zayn dari kedua pipinya. Lalu menghapus air matanya.
"Zayn, kau tau? selama satu minggu ini apa yang aku pikirkan tentangmu, tentang prsaanmu, tentang perasaanku dan tentang calon anakku. Selama seminggu ini, aku selalu takut kau akan meninggalkan kami. Aku selalu takut anakku takan mendapat kasih sayang dari ayahnya." Gia menghentikan ucapannya, karena bulir bening terjatuh lagi dari matanya. Sungguh, ia tak bisa menahan rasa sesak di dadanya.
"Tapi hari ini, aku melihat semuanya, dan aku mengerti semuanya ... Tanyakan pada hatimu, Zayn. Bagaimana perasaanmu padaku ... Kau salah mengertikan prasaanmu padaku Zayn ... Kau tak mencintaiku, rasamu padaku hanya sebatas bertanggung jawab karena aku mengandung benihmu ... Aku tak ingin dan tak memintamu bertanggung jawab Zayn ... Jadi, kau bisa membebaskan dirimu dari kami. Mari kita akhiri sampai disini Zayn. Selamat tinggal," ucap Gia. Tanpa mendengar jawaban Zayn, Gia pun berbalik dan keluar dari unit apartemen Zayn.
Sedangkan Zayn, Ia masih terkesiap dengan apa yang di katakan Gia. Tak lama, dia tersadar jika Gia sudah keluar dari apartemennya.
__ADS_1
Tak ingin kehilangan Gia, Zayn pun berlari keluar dari apartemennya, dan berlari untuk mengejar Gia.
"Gia dengarkan aku!" ucap Zayn saat berhasil menarik tangan Gia.
Emosi Gia meradang saat Zayn mengejarnya. Tak bisakah Zayn tak mempersulit langkahnya. Ia hanya ingin pergi dengan damai.
"Dengarkan apa lagi! Mendengarkan ucapan cintamu yang penuh kebohongan perselingkuhanmu sudah menjelaskan semuanya. Lalu, apa kau masih berharap aku percaya, Hah!!" teriak Gia.
Belum Zayn membalas ucapan Gia, terdengar suara barang jatuh di depan mereka, dan barang itu terjatuh dari tangan Zidan. Ia kaget saat mendengar Zayn menyelingkuhi Gia. Padahal, dia sudah berusaha merelakan Gia. Tapi sekarang, Ia malah mendengar kakanya menyelingkuhi Gia.
Zidan meradang, seketika ia maju kearah Zayn dan meninju pipi Zayn. Lalu, setelah itu ia memegang kerah Zayn.
"Aku berusaha mengiklaskan dan merelakan dia untukmu! Tapi, kau malau menyelingkuhinya. Kenapa kau sungguh brengsek Zayn," ucap Zidan dengan rahang mengeras.
__ADS_1
terlalu lelah untuk meladeni dua lelaki gila yang sudah merusak hidupnya. Ia pun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
"Kali ini, aku akan menjadikan dia sebagai miliku lagi dan takan kau biarkan kau merebutnya lagi!" Zidan melepaskan tangannya dari kerah Zayn. Setelah itu, ia langsung berlari mengejar Gia.
Zayn mengusap sudut bibir dengan tangannya. Tidak, ia takan membiarkan Zidan merebut Gia darinya.
Saat dia akan mengejar Gia, ponsel dari saku celananya berdering. Ia pun merogoh sakunya dan langsung mengangkatnya.
"Kenapa kau belum menemukannya, Hah!" teriak Zayn saat mendengar ucapan Frank di sebrang sana. "Gara-gara rencanamu, aku hampir kehilangan istriku. Jika kau tak menemukan apa-apa, akan ku tembak kepalamu!" teriak Zayn dengan rahang mengeras. Ia pun kembali mematikan ponselnya dan menaruhnya kedalam saku
Setelah itu, ia langsung mengejar Gia yang sudah tak terlihat. Karena pintu lift masih belum terbuka, Zayn pun berlari menuju tangga darurat.
Seharusnya, sedari awal ia jujur pada Gia dan tak mengikuti saran Frank, kini semua sudah terlambat. Gia kadung memercayai apa yang di lihatnya.
__ADS_1
"Gia tunggu aku!" teriak Zidan saat Gia sudah sampai di lobi, tapi Gia sama sekali tak mau melihatnya.
Seketika Gia berbalik dan ...