Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
skin to skin


__ADS_3

Terdengar suara riuh dari arah depan, membuat Gabriel tersadar, ternyata pintu kelas Grisya sudah terbuka, Gabriel tersenyum ketika melihat putrinya keluar seperti sedang mencari-carinya.


Ia melepaskan seatbelt, kemudian keluar dari mobil. “Griysa?” panggil Gabriel, Grisya menoleh, anak kecil itu tersenyum lalu ia langsung menghampiri sang ayah.


“Kenapa Daddy, tidak menunggu di depan kelasku!” protes anak kecil itu, membuat Gabriel tersenyum. Rasanya, setiap Grisya memanggilnya Daddy ia ingin mengabadikan momen itu dan merekamnya. Hingga, ia bisa mendengarnya setiap saat.


Walaupun hubungan ayah dan anak itu sudah membaik, tapi Grisya baru memanggil Daddy pada Gabriel sebulan yang lalu, sebelumnya Griysa memanggil Gabriel dengan Uncle. Tapi sebulan lalu, tiba-tiba Grisya memanggil Daddy pada Gabriel, dan itu sukses membuat jantung Gabriel berhenti berdetak dan rasanya, sebuah keajaiban ketika ia mendengar Griysa memanggilnya Daddy.


“Maafkan Daddy, Bagaimana jika kita makan siang bersama dan membeli es krim?” tawar Gabriel, Griysa menggeleng.


“Aku hanya aku ingin pulang dan aku ingin makan di rumah lalu langsung tidur,” jawab Griysa, Gabriel pun mengangguk, kemudian mengulurkan tangannya pada putrinya dan mereka pun berjalan ke dalam mobil.


30 menit kemudian, mobil yang ditumpangi Gabriel sampai di basement apartemen, dua bulan lalu, Gabriel pindah ke apartemen bersama Amelia dan Griysa.


Ya, saat ini mereka tinggal bersama. Ini semua mereka lakukan demi Grisya, demi mental putri mereka. Mereka tidak ingin Griysa bingung jika harus pergi kesana kemari. Itu sebabnya, Amelia menekan egonya dan mengikuti saran Simma untuk tinggal di apartemen bersama.

__ADS_1


Tapi walaupun begitu, mereka tidak tidur satu kamar. Griysa tidur bersama Amelia sedangkan Gabriel tidur di kamarnya sendiri.


••••


Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, Gabriel berjalan kesana kemari, Amelia belum juga pulang ke apartemen. Padahal, harusnya Amelia pulang pukul 7 malam.


Yang membuat Gabriel khawatir, di luar hujan sangat deras, angin dan petir saling bersahutan. Ia takut, terjadi sesuatu pada Amelia.


Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak bisa menunggu terus dan harus memastikan keberadaan Amelia.


Rupanya, Amelia baru saja pulang dari tempat kejadian perkara dan ia bersama timnya terpaksa harus menembus hujan, hingga semua tubuhnya basah dengan air.


“Amelia!” panggil Gabriel, Amelia tidak menjawab wajahnya sudah pucat. “Aku akan langsung ke kamar,” ucap Amelia yang enggan menjawab pertanyaan Gabriel. Rasanya, tubuhnya begitu lemah dan ia Ingin secepatnya membersihkan dirinya dan berbaring.


waktu menunjukkan pukul 2 pagi Gabriel memberanikan diri untuk masuk ke kamar Amelia karena ia khawatir dengan kondisi ibu dari putrinya. Apalagi Amelia menyuruh Gabriel untuk membawa Grisya yang ke kamarnya karena Amelia sedang demam.

__ADS_1


Sedari tadi, sebenarnya ingin melihat kondisi Amelia. Tapi ia tidak seberani itu untuk masuk tanpa ijin, akhirnya ia hanya bisa berdiam diri di depan kamar Amelia. Tapi setelah bererapa jam berlalu, rasanya ia tak bisa menahannya lagi, akhirnya saat ini ia memberanikan diri masuk ke dalam kamar Amelia. Gabriel menghela nafas ketika kamar tidak dikunci, ia melongokan kepala..


Mata Gabriel membulat ketika melihat Amelia tertidur dengan tubuh menggigil, Ia pun langsung berjalan dengan cepat ke arah ranjang.


“Amelia ... Amelia!” panggil Gabriel. Ia menepuk-nepuk pipi Amelia. Amelia hanya membuka matanya sebentar, kemudian kembali memejamkan matanya.


Gabriel membuka pakaiannya kemudian ia ikut berbaring bersama Amelia dan memeluk Amelia, ia sedang menyembuhkan demam Amelia dengan metode skin to skin.


Keesokan harinya.


Amelia membuka matanya, ternyata hari sudah sangat siang, tiba-tiba, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya,.perutnya terasa berat, ia pun langsung melihat ke bawah ...


“Aaaaaaaaaa!” Amelia berteriak saat melihat ....


Gengs udah 3 bab, ga komen besok up satu aja🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2