Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
42


__ADS_3

Mobil melaju membelah jalanana Rusia, Sonya meminta supir mengantarkannya ke panti asuhan yang selama ini dia dirikan. Setiap merasa sedih, Sonya akan panti dan bermain bersama anak-anak.


Sonya pikir, tak ada yang tau bahwa ia memiliki panti asuhan. Tapi, Sonya salah, Albert mengetahui semuanya. Albert tau jika istrinya sedang sedih atau sedang tertekan, istrinya akan berdiam diri di panti asuhan dan diam-diam, Albert memerhatikan Sonya dari jauh.


Setelah bermain dengan anak-anak, seperti biasa, ia akan duduk di taman belakang. Mata Sonya menerawang kedepan dengan pandangan kosong. Selama 27 tahun, dia memendam kepedihan seorang diri. Dia ingin berteriak, melepaskan semua beban yang dia tanggung. Tapi dia sadar, hidup bersama Albert dan diberikan luka oleh Albert adalah takdirnya, dia hanya berusaha menerima garis yang sudah di takdirkan.


Setelah lama dia memandang kedepan dengan pandangan kosong, dia merasa kepalanya berkunang-kunang. lamat-lamat pandangannya mengabur, lalu Sonya tak sadarkan diri.


°°°


"Dimana Sonya sekarang!" Bentak Albert pada orang yang menelponnya.


"Baik aku akan segera kesana," ucap Albert setelah tau keberadaan Sonya yang sudah dibawa kerumah sakit oleh supir.


Josh tersenyum saat Albert akan pergi, ia berencana kabur saan Albert pergi. Tanpa sepengetahuan Albert, Josh yang tangannya di ikat dari belakang, mengesek-gesekan tangannya ke sisi kursi. Ia segaja memancing emosi Albert agar tak menyadari gerakannya.

__ADS_1


Albert lari tergesa-gesa saat sampai di rumah sakit, setelah mengetahui ruangan Sonya, Albert pun berjalan dengan cepat rasa khawatir mendera dirinya. Albert mengintip dari kaca memastikan keadaan Sonya, jika Sonya belum sadarkan diri, ia akan masuk kedalam untuk melihat Sonya, Jika Sonya sudah sadarkan diri ia takan masuk. Akan aneh rasanya jika tiba-tiba dia mengkhawatirkan istrinya.


Albert menghela napas lega saat melihat Sonya sudah sadarkan diri. Ia, melihat Sonya sedang berbincang dengan dokter yang memeriksanya. Ia pun berbalik dan memutuskan pergi dari rumah sakit. Melihat Sonya sudah sadar, sudah cukup bagi Albert.


•••


Satu minggu kemudian.


Hari ini, sudah satu minggu Gia berada di rumah sakit, dan hari ini dijinkan untuk pulang. Selama satu minggu itu pula Marklah yang menjaga Gia, dia megajaga Gia layaknya menjaga adiknya sendiri.


"Tidak, Tuan Mark. Aku ingin kembali ke Rusia secepatnya," jawab Gia sambil memaksakan senyumnya.


"Gia, jika mau kau bisa tinggal di Apartemenku. Aku tinggal berdua bersama Maid, jika kau kesepian kau bisa tinggal bersamaku," Mark memberikan tawaran pada Gia. Mark ingin memaksa Gia untuk tinggal bersamanya, Namun, dia juga sadar, dia bukan siapa-siapa Gia, ia tak bisa memaksakan kehendaknya. Mark takut Gia akan melakukan hal nekad lagi.


Gia menggeleng lemah, "Tidak, Tuan Mark. Terimakasih atas tawaran anda. Saya lebih nyaman tinggal di apartemen saya," tolak Gia dengan halus.

__ADS_1


Mark menghela napas gusar, jika Gia sudah menolak, ia takan bisa berbuat apa-apa.


Setelah menempun perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka pun tiba di Rusia.


Dan sekarang, Gia baru saja sampai di lobi apartemennya. Sebenarnya Mark memaksa untuk mengantarkannya, tapi Gia menolak.


Gia meraup oksigen sebanyak-banyaknya saat kembali menginjakan kakinya di apartemennya. Langkahnya begitu berat, sesak di dada kian terasa, setiap ia melangkah, ia selalu teringat pada kejadian yang menimpanya.


Setelah masuk kedalam apartemennya, Gia langsung menaruh kopernya tanpa membereskannya terlebih dahulu. Ia langsung berbaring, meringkuk seperti anak kecil, ia memandang di depannya dengan tatapan kosong.


"Ibu! aku harus bagaiaman, Bu," lirih Gia, air mata keluar dari pelupuk matanya tanpa permisi, dia tak yakin dia bisa menjalani hari-hari yang normal setelah ini.


Tak lama terdengar suara bell berbunyi, Gia yang merasa tubuhnya sangat lemas berusaha mengabaikan suara bel tersebut. Namun, setelah sekian lama mengabaikannya, suara bell tetap berbunyi. Karena tak ingin orang lain terganggun. Akhirnya dia pun turun dari ranjang dan membukanya


"Zi-Zidan ...." Matanya membulat sempurna saat melihat Zidan yang berada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2