Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Bab 3 Tempat terkutuk


__ADS_3

Setelah selesai berendam, Amelia bangkit dari bathube, Ia memakai handuk lalu berjalan ke arah luar untuk memakai pakaian dan berhias hal yang selalu ia lakukan ketika Gabriel datang.


Namun, bukannya pergi ke walk-in closet. Amelia malah mendudukan dirinya di ranjang. Ia menatap kosong ke depan, lalu melihat ke arah tangannya di mana bekas cambukan masih ada dan membekas.


Dan malam ini, ia akan mendapat luka baru Gabriel pasti akan melakukannya lagi. Amelia ingin kabur dari tempat terkutuk ini tapi ia tak bisa. Bahkan ia tak tahu ia berada di mana karena ia benar-benar hanya berdiam diri didalam rumah.


Setelah selesai dengan lamunannya. Amelia dengan langkah lesu berjalan ke arah walk-in closet. Ia menarik gaun dari lemari dan memakainya. Setelah selesai memakai gaun. Amelia mendudukkan dirinya di meja rias.


Ia bercermin, menatap pantulan wajahnya di cermin. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya, ia sungguh ingin membunuh Gabriel orang yang telah menghancurkan mentalnya selama 3 tahun ini.


Bulir bening langsung keluar dari pelupuk mata Amelia. Ia menunduk, kemudian terisak. Perlahan isakan itu berubah menjadi tangisan kencang kalau ia mengingat semuanya.


Ponsel di sampingnya berdering. Amelia menegakkan kepalanya. Kemudian menghapus air matanya dan mengambil ponsel tersebut. Ia menyalakan ponselnya, satu notifikasi masuk ke ponselnya. Ternyata pesan itu dari Gabriel


[ “Persiapkan dirimu malam ini!”] tulis Gabriel dalam pesanannya.


Tangis Amelia kembali luruh, setiap ia mendapat pesan dari Gabriel. Ia serasa mendapat pesan dari malaikat kematian.


Amelia pun dengan segera menyapukan makeup tipis ke wajahnya. Setelah selesai Amelia bangkit dari duduknya. Saat bangkit, tali gaun yang di pakai Amelia jatuh ke bawah hingga menampilkan bahu Amelia.

__ADS_1


Amelia yang sudah bangkit kembali mendudukan dirinya. Ia melihat dirinya dari pantulan cermin. Kemudian tersenyum getir, bahu dan punggungnya dipenuhi oleh tanda hitam dan itu karena Gabriel mencambuknya.


“Tuhan jika kau tak bisa mencabut nyawanya maka cabut saja nyawaku.” Amelia bergumam pelan sembari menatap pantulan dirinya di kaca. Suara derap langkah menyadarkan Amelia dari lamunannya. Ia tau, itu adalah pelayan yang datang untuk menyusulnya.


“Nona Apa Anda sudah siap?” Tanya Sara, sang kepala pelayan.


“Sara apa aku bisa meminta pisau untuk menyayat nadiku?” tanya Amelia, membuar tubuh Sara menegang.


“No-nonna ....” jawab Sara terbata-bata. Bisa habis dia jika Amelia sampai nekad.


“Aku hanya bercanda.” Amelia bangkit dari duduknya dan pergi mendahului Sara, ia berjalan ke luar kamar dan berjalan ke tempat yang menurutnya adalah tempat neraka.


•••


Ah! Rasanya, ia sungguh tak sabar untuk bermain-main dengan Amelia dan tubuh Amelia. Ia juga tak sabar, melihat Amelia, menangis, merintih dan memohon ampun.


Gabriel kembali meraih ponselnya lalu menyalakannya dan membuka galeri. Ia membuka galeri untuk melihat foto keluarganya.


Ia tersenyum, kemudian membelai layar ponselnya. Lalu tak lama ... Matanya tampak berkaca-kaca saat mengingat masa lalu. dimana ia belum mengetahui kenyataan yang teramat pahit bahwa ia bukan anak kandung dari sang ayah.

__ADS_1


Gabriel kembali menutup ponselnya ia tak ingin hatinya semakin sakit dengan kenyataan yang sesungguhnya ia pun bangkit dari duduknya menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangan


••••


Saat ia keluar langkahnya terhenti saat melihat Gisel adik bungsunya berdiri di depan ruangannya.


“Kaka!” lirih Giseel ia menatap Gabriel dengan tatapan rindu. Sang kakak sudah berubah jauh padanya. Bahkan ketika mereka di tempat umum. Gabriel tak pernah menyapanya padahal dulu Ia dan Gabriel teramat dekat.


Gabriel menghela nafas, ia memandang Gisel dengan tatapan datar. dalam lubuk hatinya ia merindukan adik bungsunya. Tapi hatinya selalu sakit, ketika ia mengingat bahwa Gissel bukan adik kandungnya.


“Bukankah aku sudah melarangmu untuk datang ke kantorku!” Gabriel berbicara dengan dinginnya membuat mata Gisel berkaca-kaca.


walaupun hatinya berdenyut nyeri Gissel berusaha tersenyum. perlahan ia maju ke arah Gabriel selalu memberikan paper bag ke tangan kakaknya.


“Kaka bilang bahwa masakanku lebih enak dari koki di mansion. Jadi, aku membawakan makanan untuk Kaka. Jika Kaka tak mau memakannya. Kaka bisa membuangnya setelah aku pergi,” kata Giselle. Matanya tak bisa berbohong bahwa ia terluka dengan ucapan Gabriel tapi di sisi lain Ia juga memaklumi kakaknya.


“Kalau begitu aku pulang!” pamit Gisel ia tersenyum kemudian berbalik dan meninggalkan Gabriel.


Setelah kepergian Gisel, Gabriel hanya mampu memandang punggung adiknya. Ia ingin seperti dulu memeluk Gaby dan Gabriel secara bersamaan tapi ia tak bisa karena rasanya sudah tak lagi sama.

__ADS_1


Setelah Gisel menghilang dari pandangannya. Gabriel menghapus sudut matanya karena mengeluarkan air mata. Ia berusaha menguasai diri dan mulai berjalan untuk keluar dari gedung kantornya.


__ADS_2