
2 bulan berlalu, hubungan Zayn dan Gia semakin mesra, mereka sangat harmonis. Zayn membuktikan bahwa dia adalah suami idaman.
Ia akan cepat tanggap jika istrinya mengidam sesuatu, dan menjadi suami yang super siaga. Gia pun sudah tak merasa canggung lagi pada suaminya. Perlahan, ia sudah mulai bisa mengimbangi Zayn.
"Zayn, aku sedang malas untuk pergi kemana-mana. Bisakah seharian ini kita tidur saja?" ucap Gia. Ia memelas pada suaminya. Hari ini, Zayn mengajak Gia untuk berbelanja perlengkapan calon anak mereka di Mall.
Walaupun usia kandung Gia baru menginjak 4 bulan, Zayn sudah terlihat sangat antusias untuk memersiapkan yang terbaik untuk calon anaknya. Ia ingin memersiapkan dengan tangannya sendiri.
Zayn yang sudah rapih dengan setelan santainya, langsung naik lagi ke ranjang. Ia menyibakan selimut yang sedang di pakai oleh Gia. "Ayolah Gia. Jika kau tidak mau, aku takan melepaskanmu dan takan membiarkanmu turun dari ranjang ini."
Mendengar ucapan Zayn, mata Gia membulat sempurna. Ia pun langsung bangkit dari berbaringnya karena takut ancaman Zayn. Ia pun dengan cepat berjalan ke arah kamar mandi.
•••
Kini, mereka pun tiba di salah satu Mall terbesar di Rusia. Zayn dengan setia menggenggam tangan Gia.
"Zayn!"
Saat akan memasuki lift, seorang wanita memanggil. Gia dan Zayn pun menoleh.
"Helga!" lirih Zayn saat melihat istri dari mendiang sahabatnya.
"Hai, Zayn," sapa Helga saat menghampiri Zayn. Helga datang sambil menuntun bocah kecil.
"Hai, Helga. Kau sedang berbelanja?" tanya Zayn.
Helga mengangguk, lalu tatapannya beralih pada Gia. Matanya membulat saat Zayn menggenggam tangan Gia.
"Za-zayn, dia siapa mu?" tanya Helga dengan terbata-bata.
Seketika, Gia dan Zayn saling pandang karena bingung dengan reaksi Helga.
"Dia istriku," jawab Zayn.
Seketika Helga terbelalak dengan jawaban Zayn. "Zayn, apa kau tau. Bahwa dia adalah seorang anak pembunuh!" ucap Helga.
"Apa maksudmu, Helga?" tanya Zayn dengan heran.
"Ayahnyalah yang telah membunuh suamiku!" kali ini Helga berteriak. Ia tak bisa menahan emosinya saat melihat Gia.
Zayn langsung menarik n Gia agar Gia bersembunyi di belakang punggungnya. "Helga, tenanglah! ini tempat umum." Zayn menengok pada anak Helga yang terlihat sangat ketakutan.
"Zayn, apa kau lupa! Alex meninggalkan kita karena tertabrak oleh ayahnya yang sedang mabuk saat itu, dia sedang menantikan anak pertama kami. Tapi, gara-gara ayahnya. Anakku harus hidup tanpa seorang ayah!" teriak Helga dengan emosi. "Apa kau tidak ingat Zayn, hanya Alex yang setia menemanimu, bahkan saat kau terpuruk sekali pun. Kita sama-sama terluka karena kehilangannya. Lalu, kau menikahi anak dari yang membunuh suamiku!" ucap Helga lagi. Ia mulai terisak saat mengingat semuanya. Ia ingat, dulu Gia dan ibunya datang ke rumahnya untuk meminta maaf pada Helga.
Zayn tertegun, Alex adalah sahabatnya. Hanya Alex yang selalu berada di sisi Zayn. Zayn mempunyai bayak teman. Namun, hanya Alex lah yang tulus Setelah Alex meninggal, Zayn merasa dia benar-benar sendiri, belum lagi dia harus menghadapi Toni yang berkhianat. Tiba-tiba, Zayn melepaskan genggaman tangan nya pada Gia. Membuat Gia terkesiap
Wajah Gia sudah pucat, ia berusaha menggenggam tangan Zayn lagi. Namun, Zayn tak membalas genggaman tangannya.
Seketika Gia di landa kepanikan, Ya, ia ingat Helga. Dulu ia dan ibunya pernah mendatangi rumah Helga untuk meminta maaf dan meminta Helga untuk meringankan hukuman ayahnya.
"Helga, kita bicarakan ini, nanti. Aku akan menghubungimu!" Zayn menarik tangan Gia, tanpa melihat wajah istrinya. Pikiran Zayn kalut. Ia tak bisa melanjutkan rencananya untuk berbelanja.
Saat di mobil, hanya keheningan melanda mereka. Sesekali, Gia menoleh ke arah Zayn. Ia tak berani membuka suara, karena melihat wajah suaminya yang dingin.
Saat mobil sudah terparkir di basement. Zayn turun terlebih dahulu turun. Gia pikir, Zayn akan membukakan pintu seperti biasa. Namun, Gia salah Zayn malah mendahuluinya.
••
Saat masuk kedalam apartemen, Gia melihat Zayn sedang berada di dapur. Ia pun menghampiri Zayn.
"Za-Zayn!" panggil Gia dengan terbata-bata. Jujur saja, saat ini, ia takut berbicara pada Zayn karena melihat ekpresi Zayn yang dingin.
Zayn yang baru saja menghabiskan minumnya, langsung menoleh ke arah Gia.
__ADS_1
Saat Zayn menatapnya, hati Gia terasa sakit. Zayn menatap tajam padanya, seoalah Gia melakukan kesalahan yang besar.
"Istirahatlah!" ucap Zayn dengan nada dingin nan datar. Ia pun berlalu meninggalkan Gia dan masuk kedalam ruang kerjanya.
Gia terdiam, hanya sebatas inikah cinta yang selalu di gumamkan oleh suaminya. Kenapa Zayn langsung berubah.
Dadanya terasa sesak, jantungnya serasa di hangam Gondam. Sakit, sangat menyakitkan.
Ia pun berjalan ke arah kamar dengan gontai.
•••
Waktu menunjukan pukul 8 malam, Gia membuka matanya. Setelah memasuki Kamar, rupanya gia tertidur.
Matanya mengerjap-ngerjap. Lampu kamar masih padam itu berarti Zayn belum masuk kedalam kamar. Ia pun bangkit dari duduknya dan menyalakan lampu. Lalu, setelah itu. Ia keluar dari kamarnya untuk mengajak Zayn berbicara.
Saat dia berada di depan ruangan kerja Zayn, Gia pun mengangkat tangannya untuk mengetuk. Namun, gerakannya terhenti saat mendengar suara Zayn yang sedang menelpon seseorang. Dengan jelas Gia mendengar, bahwa suaminya menyebut nama Helga. Dan Gia yakin, bahwa Zayn tengah menelpon Helga.
Seketika rasa nyeri menghinggapi dadanya, kala suaminya menyebut nama wanita lain. Ia memegang dadanya yang langsung berdenyut nyeri. Gia tersenyum miris, hanya sebatas inikah cinta yang selama ini suaminya agungkan.
Ia pun membatalkan niatnya untuk memanggil Zayn dan kembali ke kamar.
Dua hari kemudian.
Setelah kejadian di Mall, Zayn tak lagi menegur Gia. Setelah pulang dari kantor ia pun langsung masuk kedalam ruang kerjanya, ia tak lagi tidur di kamar. Dan ia akan berangkat ketika Gia belum bangun.
Sedangkan Gia, selama dua hari ini, ia sudah berusaha mengajak Zayn berbicara. Namun, usahanya sia-sia. Gia seperti orang yang tak terlihat di hadapan Zayn.
Waktu menunjukan pukul 4 sore. Gia yang sedang menonton televisi, langsung menoleh ke arah belakang, karena mendengar suara pintu terbuka.
Gia pikir mertuanya lah yang datang, tapi Gia salah. Ternyata Zayn lah yang datang. Ia pun langsung bangkit dari duduknya dan berdiri untuk menyambut Zayn.
Gia pikir Zayn pulang lebih awal karena akan bersikap seperti biasa. Namun, Gia salah. Zayn masih menatapnya dengan tatapan dingin.
Gia pun menunduk. Ini pertama kali lagi Zayn mau berbicara padanya.
"Aku kesini hanya ingin mengambil pakaianku!" ucap Zayn. Ia menghentikan ucapannya sejenak dan menatap Gia lekat-lekat. "Sepertinya aku butuh waktu untuk tak bertemu denganmu terlebih dahulu. Melihatmu mengingatkanku pada sahabatku. Untuk itu, aku memutuskan untuk pergi sejenak dari sini," ucap Zayn lagi.
Tak bisa di jabarkan bagaimana sakit yang Gia rasakan saat mendengar ucapan Zayn. Ia tak mampu menjawab ucapan suaminya, Seketika itu juga Gia langsung tertunduk. Ini lebih menyakitkan dari apa pun.
Tanpa mendengar jawaban lagi dari Gia, Zayn pun bangkit dari duduknya dan menuju kamar untuk mengemasi pakaiannya.
Gia tak sanggup lagi menahan tangisnya saat Zayn pergi dari apartemen tanpa mengucap satu patah kata pun. Bahu Gia bergetar hebat. Ia tergugu menangis, sakit, sangat sakit. Ia memukul-mukul dadanya merasakan sesak yang sangat luar biasa.
Lelaki yang selama 3 bulan memujanya tiba-tiba berubah, padahal Gia tak melakukan kesalahan apa-apa. Lelaki yang 3 bulan lalu selalu mengagungkan kata cinta kini melihatnya dengan tatapan benci.
Tak bisakah, Zayn tak melibatkan dirinya. Apa Zayn lupa bahwa Gia sedang mengandung darah dagingnya. Entahlah, hanya Zayn yang mengetahuinya.
Gia menjalani hari-harinya dengan hampa. Ia mulai melakukan semuanya sendiri..Setiap malam, wanita rapuh itu menangis, mengingat apa yang terjadi di kehidupannya.
Dan Hari ini, tepat seminggu Zayn meninggalkan apartemen, tanpa kabar dan tanpa kepastian. Hari ini pula, Gia sudah bertekad untuk menyusul Zayn ke kantor. Ia ingin berbicara dengan Zayn.
Jika memang Zayn masih menganggap Gia bersalah. Maka Gia akan mundur. Terlalu sakit rasanya untuk bertahan.
Dan di sinilah Gia. Berdiri di depan gedung perusahaan milik suaminya. Ia sudah menunggu3 jam lalu. Gia terlalu malu untuk masuk kedalam. Ia terus menunggu, walau jam kantor sudah selesai.
Gia mengosok-gosok tangannya karena merasakan dingin yang luar biasa. Matanya tak lepas memandang keatas, dimana ruangan Zayn masih terang.
Tak lama, ruangan Zayn pun gelap, pertanda Zayn sudah mematikan lampu dan berniat pulang.
Gia pun berjalan dan menunggu di pintu masuk. Dari balik kaca pintu, ia bisa melihat suaminya turun dari lift.
Seketika tubuh Gia terdiam kaku, tubuhnya terasa lemas. Ia merasa kakinya tak berpijak saat melihat Zayn keluar dari lift dengan menggenggam tangan Helga, Gia melihat Zayn tersenyum hangat pada Helga dan itu sungguh menyakitkan.
__ADS_1
Kini Gia mengerti apa yang sedang terjadi. Ia terus berdiri menunggu Zayn keluar dengan hati yang remuk redam.
Tak lama pintu terbuka. Tubuh Zayn menegang saat melihat Gia sudah ada di depannya.
Gia tersenyum miris saat melihat rambut Helga berantakan. Ia bisa membayangkan apa yang baru saja terjadi di ruangan suaminya. Apalagi suaminya keluar kantor setelah jam kantor usai. bahkan setelah ia memergoki Zayn, suaminya tak melepaskan genggaman tangannya dari Helga.
Zayn terkesiap melihat Gia di depannya, ia langsung melepaskan genggaman tangannya pada Helga.
"Gi-Gia ...." ucap Zayn terbata-bata. Ia maju ke arah Gia dan seketika itu juga Gia mundur satu langkah.
Dengan hati yang hancur, bahkan sangat hancur. Gia tersenyum lembut kearah Zayn.
"Zayn, tadinya aku kemari untuk mengajakmu berbicara. Tapi, sepertinya kau sedang sibuk. Jika kau ada waktu, mungkin kau bisa pulang ke apartemen sebentar," lirih Gia dengan suara pelan. "Kalau begitu silahkan lanjutkan. Aku permisi!" Ia tersenyum lembut pada Zayn, kemudian berbalik.
Keputusannya mendatangi kantor Zayn tidaklah salah. Kini, ia mengetahui semuanya.
Gia berjalan, sambil mengelus perutnya yang terasa keram. Ia terus menghela napas dan menghembuskannya berulang-ulang berusaha meredam rasa sesaknya agar tak berpengaruh pada bayinya.
Saat akan menyetop taxi, tiba-tiba, ada yang menarik tangannya. Dan Zayn lah yang menariknya.
"Ayo pulang bersamaku!" ucap Zayn. Ia langsung menarik lembut tangan Gia dan mengajaknya ke mobil.
Gia tak menolak. Ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Zayn.
Saat berada di dalam mobil, hanya ada keheningan. Gia memalingkan tatapannya kearah lain, sedangkan satu tangannya mengelus perut, karena ia masih merasa kram.
Sesekali Zayn melirik kearah Gia. Ia tak menyangka bahwa istrinya akan memergokinya. Jantungnya berdegup lebih cepat saat Gia tak mau menoleh ke arahnya, tiba-tiba hatinya dirasuki ketakutan. Ia sungguh takut akan kehilangan Gia.
Saat sampai di basement, Zayn langsung membukakan pintu untuk Gia. Saat Gia turun, ia kembali menggegam tangan istrinya.
Hingga kini, mereka berjalan bergandengan tangan.
Saat sudah masuk kedalam apartemen, tiba-tiba, Gia menarik tangannya dari genggaman tangan Zayn.
Zayn terkesiap, ia langsung berbalik dan menatap Gia.
"Gia, aku bisa menjelaskannya!" ucap Zayn, ia maju kearah Gia dan saat Zayn maju, Gia pun mundur satu langkah
"Sebelum kau menjelaskan. Aku ingin bertanya sesuatu padamu Zayn." ucap Gia. Ia memandang Zayn dengan tatapan tajam. "Jika kau melakukan kesalahan. Apa anakmu juga ikut bersalah, Zayn?" tanya Gia lagi.
Zayn terdiam, ia kalah telak.
"Oke, jika kau mengira aku juga bersalah atas kesalahan ayahku, kau boleh melaporkanku juga ke polisi, jika itu memang bisa membuatmu puas!"
"Gia!" lirih Zayn, Wajah Zayn langsung terlihat panik. ia maju kearah Gia untuk memegang tangan Gi. Namun, Gia mundur kembali satu langkah. Ia tak sudi tangannya di sentuh oleh Zayn.
"Apa kau tidak ingat, Zayn, tentang ibuku!" tiba-tiba Gia tertawa nyaring menertawakan nasibnya. "Ibuku meregang nyawa karena menyelamatkanmu! Ia tertembak karena menyelamatkanmu!" kali ini Gia berteriak. Emosinya sudah di ubun-ubun. Jika bisa, ia ingin mengamuk pada suaminya. Tapi, tenaganya sudah terkuras habis.
Saat Zayn maju lagi kearahnya, Gia pun memundurkan langkahnya kembali."Kau tau, Zayn betapa menderitanya hidupku saat ibuku tak ada, lalu sekarang kau menyalahkan aku atas kesalahan ayahku, padahal karena kau lah ibuku meregang nyawa." Kali ini, Gia berucap lirih, ia berbicara sambil menangis tersedu-sedu.
Melihat Gia yang kacau, Zayn sudah tak bisa menahan diri. Ia pun maju dengan cepat dan berbahasil menarik tangan Gia.
"Gia aku bisa menjelaskan!"
Seketika, Gia menarik tangannya kembali
"Zayn, kau menerjangku dan mengikatku kedalam hidupmu. Kau membuatku melayang. Lalu, kau hempaskan aku ke jurang yang paling dalam. Cintamu palsu, rasamu semu. Maaf, Zayn. Hatiku tak sekuat itu ... Mari kita akhiri semuanya sampai disini!"
Duarrrrrrr
Kalau kalian Hujat otor otor langsung blok
kalau kalian hujat Zayn, waktu dan tempat otor persilahkan 🤣🤣
__ADS_1
nyesek ya jadi Gia, pas nulisnya pun aku nyesek.