Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
115


__ADS_3

Zidan membuka matanya, ia mengerjap-ngerjap, kemudian ia bangkit dari tidurnya dan langsung duduk dengan posisi kaki yang menjuntai kebawah. matanya langsung melihat ke arah jam. Ia mengusap wajahnya saat tau bahwa ia terlambat.


Semalam, ia tertidur dengan pulas bahkan sangat pulas. Tak seperti biasanya yang kerap terbangun di sela-sela waktu tidurnya.


Zidan tersenyum saat mengingat tentang semalam, tentang harapan yang menjadi kenyataan. Tentang keinginannya yang terwujud, keinginan mendengar permintaan maaf dari sang kaka, dan merasakan dekapan dari sang kaka yang selama ini membencinya.


Lamunannya buyar kala suara ponselnya berdering, dengan malas, ia pun mengambilnya. Saat melihat nama si pengirim pesan, Zidan tersenyum. Ternyata, sang kakalah yang mengiriminya pesan.


["Zidan, maaf, sepertinya kita harus membatalkan makan siang bersama. Aku takan pergi ke kantor hari ini"] tulis Zayn dalam pesannya.


"Ishh." Zidan menggerutu. Ia melemparkan ponselnya kebelakang. Walaupun makan siang bersama adalah hal yang sangat sederhana bagi sebagian orang. Tapi, tidak bagi Zidan. Hal sesederhana apa pun yang akan kelak dia lakukan bersama sang kaka dan sang ayah, di matanya dan di hidupnya adalah hal yang sangat istimewa.


Zidan pun mengacak rambutnya, dan bangkit brrjalan ke kamar mandi.


•••


"Dad, bukankah kau akan pergi ke kantor. Tapi kenapa kau masih berada di kasur?" tanya Gia setelah keluar dari kamar mandi. Rupanya moodnya sudah kembali lagi setelah tubuhnya segar.


Mendengar istrinya yang berbicara dengan nada biasa, Zayn menghela napas lega karena istrinya sudah tak kesal lagi.


Zayn pun bangkit dari berbaringnya. Ia menghampiri Gia dan menarik handuk yang ada di tangan Gia. "Biar aku yang mengeringkan rambutmu," ucap Zayn. Ia menaik lembut tangan Gia dan mendudukan Gia di sofa, sedangkan Zayn berdiri dan mulai mengeringkan rambut istrinya.


"Dad!" panggil Gia lirih.


"Hmm?" jawab Zayn. Tangannya dengan lembut memijat kepala istrinya.


"Dad, bukan kah kau akan pergi ke kantor?" tanya Gia lagi.


"Hari ini, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawab Zayn. Membuat pipi Gia merona. Ia memejamkan matanya karena elusan tangan Zayn di kepalanya sangat membuatnya nyaman.


"Dad, aku ingin berbelanja," ucap Gia setelah sekian lama ia menikmati elusan tangan Zayn.


"Berbelanja?" ulang Zayn. Gia pun menganguk. Zayn tersenyum, semenjak menikah, Gia tak pernah meminta apa-apa. Saat beberapa waktu kebelakang, saat mereka akan berbelanja, rencana mereka gagal karena Helga.


Gia mengangguk, "bolehkah seharian ini aku menghambur-hamburkan uangmu?" tanya Gia, membuat Zayn terkekeh.


"Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu," ucap Zayn di tanggapi anggukan oleh Gia.


•••

__ADS_1


"Ayo!" ajak Zayn setelah siap. Ia mengulurkan tangannya pada Gia. Gia pun menerima, uluran tangan Zayn. Saat akan keluar dari kamar ponsel Zayn berdering. Keningnya mengkerut bingung saat melihat id si pemanggil yang tak lain adalah Mark. ,


Zayn mengehela napas gusar saat Mark mengatakan ada berkas penting yang harus di tanda tangani. Jika ia pergi ke kantor sekarang, Gia pun akan ikut, jika Gia ikut otomatis istrinya akan bertemu dengan adiknya.


"Ada apa?" tanya Gia yang melihat mimik muka suaminya berubah.


"Sepertinya, aku harus pergi ka kantor sebentar. Kau mau menungguku? setelah selesai aku akan menjemputmu," ucap Zayn.


Seketika Gia terdiam. Kenapa suaminya ke kantor tanpa mengajaknya. Padahal, jika Gia ikut, mereka bisa pergi setelah urusan Zayn di kantor selesai.


Ia juga teringat saat tadi Zayn ingin pergi ke kantor, namun setelah dirinya ingin ikut, tiba-tiba suaminya membatalkan niatnya untuk pergi, saa ini, Gia merasa bahwa suaminya malu mengajaknya ke kantor.


Kini, ia merasa minder, ia dan Zayn bagai langit dan bumi, harusnya ia menyadarinya dari dulu. Itulah isi pikiran Gia.


Hormon kehamilannya membuat ia selalu sensitif. Padahal, kemarin-kemarin, Zayn selalu mengajaknya. Namun, untuk kali ini, Zayn tak mau mengajak Gia karena tak ingin istrinya bertemu dengan Zidan.


"Sayang!" panggil Zayn, mendengar suara Zayn lamunan Gia tersadar, ia menatap Zayn dan tersenyum. "Pergilah!" jawabnya dengan berusaha menahan tangis.


Zayn sama sekali tak menyadari perubahan istrinya, ia mengecup kening Gia lalu pergi meninggalkan Gia.


Setelah Zayn pergi, Gia berbalik. Ia langsung berjalan ke walk in closet, dia mendudukan dirinya di meja rias dan mulai menghapus make upnya.


Satu jam kemudian.


Saat ini, Zayn sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia dengan segera meninggalkan ruangannya untuk pulang dan menjemput Gia.


Setelah sampai di rumah, Zayn pun dengan cepat berjalan Ke arah kamar. Ia membuka pintu kamarnya. Keningnya mengkerut bingung saat melihat Gia sedang tidur meringkuk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sayang!" panggil Zayn dengan pelan. Ia berusaha menarik selimut Gia. Namun, Gia menahannya.


Ia semakin heran, saat tiba-tiba, Gia memasukan kepalanya kedalam selimut.


"Sayang, ada apa?" tanya Zayn lagi dengan gemas, karena Gia tak mau menjawab. Seketika ia di hinggapi kepanikan. Ia pun langsung menarik selimut Gia dengan paksa.


Matanya membulat saat melihat wajah istrinya yang kacau dan sembab. Dengan cepat, Zayn pun naik ke ranjang dan membaringkan diri di sebelah Gia, hingga kini posisi mereka berhadap-hadapan.


"Kau kenapa?" tanya Zayn dengan lembut. Ia mencubit pipi istrinya agar Gia membuka matanya.


Gia pun membuka matanya, "Kau kenapa? apa aku melakukan kesalahan?"

__ADS_1


Gia menggeleng, "Kau jahat Zayn ... Kau jahat," ucapnya dengan terisak.


Mendengar ucapan Gia, seketika Zayn kembali membulatkan matanya, apalagi, Gia memanggilnya dengan namanya.


"Katakan apa salahku, hmm?" tanya Zayn. Ia menangkup kedua pipi Gia memaksa Gia untuk melihat ke arahnya.


"A-aku tau, kau dan aku bagai langit dan bumi. Kau mempunyai segelanya ... sedangkan aku ...." Gia menghentikan ucapannya karena tak kuasa menahan tangisnya.


Zayn mengernyit heran saat istrinya berbicara hal yang tidak jelas.


"Seharusnya kau tidak menikahiku jika kau malu dengan kondisiku, seharusnya kau jujur saja jika aku membuatmu malu," sambungnya lagi dengan terisak.


"Tunggu ... Tunggu! kenapa kau berpikiran begitu?"


"Kau malu kan pergi denganku, kau malu, kan, mengajakku ke kantormu. Kau malu, kan, mengakui aku istrimu. Aku sadar aku hanya orang biasa, berbeda denganmu. Tinggalkan Aku, Zayn, Tinggalkan ak ... Emmm emmm." Ucapan Gia terhenti saat Zayn mencium rakus bibirnya. Gia memukul-mukul tangan Zayn karena Zayn mencium bibirnya dengan rakus.


Darah Zayn mendidih saat mendengar ucapan Gia yang menyuruhnya meninggalkannya. Kenapa wanita hamil begitu membingungkan. Kenapa istrinya bisa berpikir bodoh, apa Gia tak menyadari, bahwa dirinya sudah memegang kendali di hidup suaminya.


"Katakan sekali lagi!" titah Zayn saat ia melepaskan tautannya pada bibir istrinya. Ia berbicara dengan sorot penuh ketegasan, tiba-tiba, Gia bergidik saat melihat tatapan Zayn.


"Za-zayn," lirih Gia saat Zayn menatapnya dengan tajam.


Zayn tersadar, seharusnya ia tak boleh ikut terpancing. Tapi, saat Gia mengatakan untuk meninggalkannya. Zayn tak bisa menahan dirinya.


Zayn menghela napas, ia tersenyum. Lalu mengelus bibir istrinya yang membengkak karena ulahnya.


"Kau marah karena barusan aku tak mengajakmu ke kantor?" tanya Zayn. Gia pun mengangguk.


"Semua orang sudah tau kau istriku, semua orang sudah tau kau seorang nyonya Smith. Kenapa aku harus malu?" ucap Zayn. Ia merapikan rambut yang menutupi pipi istrinya. "Kemarin-kemarin, kau selalu ikut ke kantor, dan aku selalu menggenggam tanganmu, bukan?"


"La-lalu, kenapa kau tadi tak mengajakku?" tanyanya dengan terisak.


Zayn mengigit bibir bawahnya. Tak mungkin kan ia jujur bahwa ia cemburu pada adiknya.


Zayn ...


ini udah panjang banget. Dua bah di jadiin satu. Akunya males ngedit wkwkwkw.


Ada yang sama kaya Gia mak? nyimpulin sendiri, nyesek sendiri 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2