
"Stu! lihat ini," omel Simma. Saat ia sudah memakai dresnya kembali. Ia mengomel karena lehernya penuh dengan bercak merah.
"Stu!" ulang Stuard.
"Maksudku, Daddy," Simma mengoreksi ucapannya. "Aku harus bagaimana. Ini sangat terlihat mencolok," kata Simma lagi. Stuard menegakan tubunya. Ia mengambil ikat rambut dari tangan Simma dan memasukannya pada saku jasnya.
"Dad!"
"Rambutmu akan menutupinya, Sayang," jawab Stuard. Ia mengambil gelas thumbler lalu membukanya dan memberikannya pada Simma.
"Kau pasti lelah, kan?" tanya Stuard saat Simma meminum air.
"Sedikit!" balas Simma. Ia menaruh lagi Thumbler dan kembali memeluk pinggang Stuard.
"Dad, aku lapar lagi," keluh Simma.
"Aku tau, kau terlalu bersemangat barusan," goda Stuad, membuat wajah Simma memerah, ia lebih menelusupkan wajahnya karena malu. Sama seperti Stuard, Simma merasa gairahnya lebih terbakar karena bercinta di mobil yang sedang melaju.
__ADS_1
Saat sampai di kantor, Stuard langsung masuk, ia menggegam tangan Simma. Seperti biasa, saat masuk kedalam lobi perusahaan, semua karyawan akan menunduk hormat pada Stuard. Hanya saja, mereka sedikit terkejut, karena pimpinan mereka menggengam seorang wanita.
•••
"Kau ingin makan apa, hmm?" tanya Stuard saat sudah masuk kedalam ruangannya. Ia membuka jasnya, sedangkan Simma sudah duduk di sofa.
"Dad, aku igin makan steak, pasta, burger dan lemontea," jawab Simma. Ia memasukan semua list makanan yang ia mau.
"Ada lagi?" tanya Stuard. Simma menggeleng, membuat Stuard tersenyum. Stuard mendudukan diri di kursi kerjanya. Ia langsung menelpon sekretarisnya.
Pintu di ketuk, setelah Stuard memersilahkan masuk, munculah seorang wanita dengan pakaian kantor yang merupakan sekretaris Stuard. Seketika mata Simma membulat saat ada wanita masuk, bukankah sekretaris suaminya adalah seorang lelaki, tapi kenapa ...
"Belikan Steak, pasta, burger dan lemontea. Cari restoran yang hanya memakai bahan super premium," ucap Stuard pada Rane.
"Kau yakin tak akan menambah yang lain, Sayang?" tanya Stuard pada Simma. Seketika Rane menoleh ke arah Simma. Ia sama sekali tak menyadari kehadiran Simma.
"Ya, aku rasa itu cukup, " jawab Simma dengan lesu. Seketika nafsu makannya hilang saat melihat sekretaris suaminya. Tiba-tiba, ia merasa minder dan tak percaya diri.
__ADS_1
Suaminya di kelilingi wanita cantik, anggun dan tentu berpendidikan. Sedangkan dirinya, hanya seorang yatim dan bahkan hanya wanita miskin, seketika Simma mengelus perutnya, benarkah Stuard mencintainya dan mencintai anak-anaknya.
Hormon kehamilannya benar-benar berpengaruh pada moodnya. Bahkan, saat ini .... Simma benar-benar ingin menangis karena pikirannya sendiri. Tak ingin, Stuard curiga dengan apa yang d rasakannnya. Ia pun memilih untuk berpura-pura memainkan ponselnya.
35 menit kemudian, pintu kembali di ketuk. Rane masuk dengan seorang officeboy, lalu seorang officeboy tersebut, menaruh pesanan Simma di meja, sedangkan Simma masih anteng memainkan ponselnya. Sebenarnya Simma tak benar-benar memainkan ponselnya, ia hanya sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Apa anda perlu sesuatu lagi Tuan, Nyonya?" tanya Rane.
Stuard yang sedang melihat laptopnya, menoleh ke arah Simma, keningnya mengekerut bingung saat melihat istrinya sedang melamun sambil memegang ponsel.
"Sayang!" panggil Stuard. Menyadarkan Simma dari lamunannya.
"Ya, Stu, ada apa?" jawab Simma refleks. Ia tak sadar memanggil nama Stu tanpa embel-embel Daddy.
"Maksudku, Daddy," koreksi Simma.
"Apa anda perlu yang lain lagi, Nyonya?" tanya Rane, seketika Simma menggeleng. "Tidak, terimakasih."
__ADS_1
Scroll lagi iesss