Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Rumah sakit


__ADS_3

“Griysa apa Mommy tadi terlihat marah saat keluar dari sini?” tanya Gabriel ketika ia menghampiri putrinya. Kini, ia benar-benar takut Amelia akan murka kepadanya dan sikap Amelia semakin dingin. Ia sungguh tidak bisa membayangkan, bagaimana jika sikap Amelia berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


Griysa tampak berpikir, kemudian mengangkat bahunya. “Mana aku tahu,” jawab gadis kecil itu. membuat Gabriel mengusap wajah kasar.


“Daddy akan pergi bersiap, setelah itu kita kita sarapan bersama,” ucap Gabriel. Setelah mengatakan itu, Gabriel pun berbalik kemudian berjalan ke kamarnya.


Setelah masuk ke kamar, ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk menyegarkan diri sebelum ia berangkat ke kantor dan mengantar Griysa ke sekolah.


Dibawah kucuran shower, Gabriel melamun. Pikirannya mengembara entah kemana. Ia tidak pernah setakut ini sebelumnya. Bahkan ini begitu lucu. Dulu, Gabriel sama sekali tidak perduli pada hal kecil seperti ini. Tapi sekarang, membayangkan Amelia berubah menjadi lebih dingin saja Mampu membuatnya ketar-ketir.


Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak sengaja tidur di kamar yang Amelia, Gabriel bergidik. Helaan nafas berat langsung terlihat dari wajah tampannya, ketika membayangkan Itu semua terjadi.


••••


“Amelia, apa-apaan ini. Kenapa kau menyerahkan ini,” ucap Nick, ketika Amelia mengundurkan diri dari timnya.

__ADS_1


Amelia tampak menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia memutar otak, mencari jawaban yang tepat untuk Nick.


“Maaf, Capt. Tapi aku rasa, aku ingin berhenti menjadi detektif dan aku rasa Aku ingin pindah ke divisi lain. Mungkin, kau bisa membantu proses kepindahanku,” ucap Amelia membuat Nick, menggeleng kemudian merobek kertas yang di sodorkan Amelia.


“Tidak Amelia, kau tetap di timku. Kami membutuhkanmu,” jawab Nick, ia menolak tegas keinginan Amelia.


“Amelia, katakan alasanmu yang sejujurnya. Kenapa kau ingin keluar dari tim jaguar?” tanya Nick. Amelia menggeleng.


“Aku tidak punya alasan tertentu. Aku hanya ingin keluar saja, aku akan membuat surat pengunduran diriku lagi, dan aku mohon setelah aku membuat surat itu, kau mendatanginya.”


•••


Amelia terduduk di kursi taman, matanya menerawang ke depan. Rasanya, ia sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi di hidupnya. Tuhan seolah memberikan jawaban untuk semua kerisauannya. Tapi, di sisi lain, ia masih ragu dengan dirinya sendiri.


Amelia menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Matanya sudah membasah satu kali kedipan saja sudah dipastikan bahwa Amelia akan menangis.

__ADS_1


Tak lama, terdengar suara dering ponsel. Amelia merogoh sakunya, kemudian ia mengambil ponselnya, ternyata Gabby yang menelponnya. “Nyonya Sima,” ucap Amelia terbata-bata. ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Gabby.


“Baik aku akan kesana sekarang,” ucap Amelia. Ternyata, Sima dirawat di rumah sakit, karena kondisinya tiba-tiba drop. Setelah mematikan panggilannya. Amelia pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan pelan kearah mobil.


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Amelia sampai di rumah sakit. Ia berjalan dengan sangat pelan, kemudian pergi ke bagian informasi, untuk menanyakan ruangan Simma..


Setelah pihak informasi memberitahukannya pada Amelia, Amelia pun langsung naik ke atas untuk ke ruangan Simma. Ia mengetuk pintu, Kemudian membuka pintu saat mendapat sahutan dari dalam. Ternyata Simma sedang terbaring di brankar.


Di ruangan itu ada Stuart dan ketiga putra-putrinya, saat Amelia masuk, matanya dan mata Gabriel saling bersibobrok. Tiba-tiba, ia teringat saat semalam Gabriel tidur di kamarnya.


Dengan cepat, Amelia pun memutuskan pandangannya.


“Amelia kemarilah!” titah Stuard. Amelia mengangguk. Gabriel dan Gabby saling tatap, mereka sedang sama-sama menahan tawa.


Scroll gengs.

__ADS_1


__ADS_2