
"Sonya!" panggil Albert saat Sonya membelakanginya. Tentu saja tubuh mereka masih sama sama polos.
"Hmm," jawab Sonya. Ia masih menstabilkan napasnya, setelah Albert menggempurnya.
Albert mengelus perut Sonya, "Sonya apa aku sudah memaafkanku sepenuhnya?" tanya Albert. Ia masih penasaran karena Sonya mau meminum obat penyubur.
Mendengar pertanyaan Albert, Sonya berbalik. Ia memandang wajah Albert, Ia memberanikan diri untuk mengelus wajah suaminya. Ini pertama kalinya setelah 27 tahun ia memegang lagi wajah suaminya.
Mata Albert membulat saat Sonya mengelus wajahnya. Ia kembali lagi melihat Sonya menatapnya dengan tatapan seperti dulu, menatapnya dengan cinta.
Albert menarik tangan Sonya dari pipinya dan mengecupnya, lalu menggenggamnya.
"Albert, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Sonya. "Maaf jika aku menyinggungmu. Tapi, aku rasa kita harus memperjalas ini sekarang," sambungnya lagi.
"Katakan Sonya, aku akan menjawab semua pertanyaanmu."
Sonya mengigit bibirnya sebelum bertanya, "Albert, aku ingin kau jujur. Apa rasamu padaku masih sama?" Tanya Sonya dengan sedikit ragu.
"Sonya ... pertanyaan macam bodoh apa yang kau lontarkan. Apa selama ini kau tak melihat cintaku begitu besar padamu,"jawab Alberth.
Sonya memutar bola matanya, ia tampak berpikir.
" Memangnya kapan kau memerlihatkan cintamu. Selama 27 tahun kau mengabaikan kami," jawab Sonya
Albert mengulum senyum saat gombalannya tak mempan untuk Sonya. Walau memang niatnya hanya menggombal. Namun, memang benar rasa Albert untuk Sonya tak berkurang sedikitpun.
"Sonya, kau tau alasanku bukan. Aku sudah menceritakan semua padamu, alasanku dan segala yang aku rasakan. Aku mencintaimu, Zidan dan Zayn secara diam-diam."
"Kau berharap aku percaya?" tanya Sonya.
"Somalia, Argentina, Jerman, India, Jepang, Indonesia, Brunai, Filifina, Myanmar ... Kau selalu mengunjungi negara-negara itu setiap tahun kan?" tanya Albert. "Bahkan aku ingat betul kau hampir menghabiskan waktu selama 8 jam untuk melihat laut saat kau berada di bali ... Aku benar kan?" tanya Albert.
Mata Sonya membulat saat mendengar ucapan Albert. "Albert kau mengikutiku?" tanya sonya. "Tidak, tidak mungkin. Jika tebakanmu benar, kau pasti hanya menyuruh anak buahmu mengikutiku."
Albert tersenyum. "Percayai apa yang seharusnya kau percayai Sonya." ucap Albert yang tak ingin menjelaskan, karena menurutnya percuma saja jika ia menjelasakan pada Sonya.
"Selama 27 tahun, bagaimana kau menahan hasratmu. Kau lelaki normal, tentu kau butuh pelampiasan," tiba-tiba, dada Sonya berdenyut nyeri saat membayangkan Albert menjamah wanita lain.
"Tak pernah, aku tak pernah menjamah tubuh lain. Aku hanya menggunakan sabun untuk mengeluarkan hasratku dan selalu membayangkan kau menari di atasku."
Sonya memandang Albert dengan tatapan bingung. "Sabun? untuk apa sabun?" tanya Sonya.
__ADS_1
Seketika Albert tertawa, "Sonya, aku mengantuk. Jangan ganggu aku, aku harus mengistirahtakan tubuhku agar kualitas spe*rmaku terus terjaga," ucap Albert sambil memejamkan mata. Ia pikir, takan habisanya jika membahas masa lalu dengan Sonya.
Sonya berdecih, ia pun kembali membalikan tubuhnya. Niat hati ingin berbicara serius, tapi suaminya ....
••
Zayn memejamkan matanya menahan geram. saat Mark memanggilnya. Tak ingin kehilangan wibawanya, Zayn pun berlari dengan membungkuk. Ia berharap, Gia atau Zidan tak melihat aksi konyolnya.
"Oke, ini sudah berjalan dua menit. Aku hanya tinggal menunggu 8 menit lagi," ucap Zayn saat akan masuk kedalam lift. Ia menggerutu sendiri.
Sedangkan Zidan hanya menggeleng, dan Gia tertawa melihat aksi suaminya.
"Ada apa?" tanya Zidan.
Gia mengigit bibir bawahnya, ia bingung harus memulai dari mana. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu membuangnya.
"Zidan, kau lelaki baik. Kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik dariku," ucap Gia. Ia bisa melihat raut wajah Zidan berubah.
"Gia, apakah kau sudah mulai mencintai Zayn?" tanya Zidan, ia berusaha menguatkan hatinya.
Gia menunduk, ia tak berani menatap Zidan. Tak perlu bertanya lagi, Zidan sudah tau apa jawaban Gia.
Ia maju ke arah Gia, dan menepuk pelan pundak Gia. "Aku bersyukur jika kau memang bahagia bersama Zayn. Teruslah bahagia demi calon keponakanku. Jangan mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja," ucap Zidan. Memang berat. Tapi, ia bisa apa. Memang sakit, tapi akan lebih sakit jika ia tak bisa mengiklaskan.
•••
Zayn mondar mandir di ruangannya. Ini sudah lebih dari 15 menit berlalu, tapi sampai sekarang istrinya belum muncul juga.
"Tidak ... ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menyusul mereka," ucap Zayn. Baru saja ia akan memutar gagang pintu, terdengar suara derap langkah, dan ia yakin itu adalah istrnya.
Dengan cepat, ia langsung berlari kearah kursi kerjanya. Dan membuka dokumen yang berada di atas meja. Ia lupa, ia belum membuka jasnya.
"Daddy!" panggil Gia saat membuka pintu.
"Kau sudah selesai?"tanya Zayn. Dengan gaya so cool, Zayn melirik sebentar kearah Gia, lalu matanya kembali berpura-pura melihat dokumen di depannya.
Gia maju ke arah Zayn, Ia mengulum senyum saat menyadari bahwa suaminya menunggunya, terbukti karena Zayn belum membuka jasnya.
"Apa aku menghabisamkan waktu lebih dari 10 menit, Dadd?" tanya Gia. Senyumnya semakin lebar saat melihat suaminya memeriksa dokumen yang terbalik.
"Daddy, kau marah padaku?" tanya Gia saat Zayn tak menjawabnya.
__ADS_1
"Oke baiklah, jika kau marah padaku. Sepertinya aku akan menerima tawaran Zidan untuk menikmati teh bersama," ucap Gia lagi saat Zayn masih tak mau menjawabnya.
Mata Zayn membulat sempurna saat mendengar ucapan Gia.
Seketika ia pun melihat ke arah Gia, dan langsung menarik tangan Gia sebelum Gia berbalik.
"Maafkan aku," lirih Zayn. Seketika Gia tersenyum. Ia pun berjalan lebih dekat ke arah Zayn, Zayn yang tau Gia akan duduk di pangkuannya langsung memberikan Gia ruang. Dan kini, Gia sedang duduk di pangkuan suaminya dengan posisi menyamping.
"Aku kira kau akan mengintip sampai pembicaraanku selesai," ucap Gia. Tangannya memainkan bulu-bulu halus di wajah Zayn.
"Aku tidak mengintip," elaknya. "Tunggu, apa tadi dia mengajakmu untuk menikmati teh bersama?" tanya Zayn dengan nada fosesif.
"No, Dad. Aku hanya mengetesmu," ucapnya. Ia menghadiahi kecupan di bibir Zayn. "Dia hanya menyuruhku untuk terus bahagia bersamamu."
Mendengar ucapan Gia, seketika Zayn tertegun. Kenapa hati adiknya sangat baik. Ia sudah terlalu sering menyakiti Zidan. Namun, dia sama sekali belum meminta maaf.
Mengerti apa yang di rasakan suaminya, Gia mengelus rambut Zayn. Elusan itu terasa nyaman bagi Zayn, hingga Zayn terhanyut, sangking terhanyutnya. Tangannya sudah mulai mengelus paha istrinya.
"Daddy!" pekik Gia. Tanpa menjawab teriakan istrinya, Zayn langsung ....
••
Sementara di tempat lain.
"Audrey!" panggil Josh dari arah belakang.
Audrey terkesiap. Ia langsung mematikan panggilannya. "Hemm, Josh?" jawab Audrey.
Josh memberikan gelas berisi teh ke hadapan Audrey, dan Audrey menerimanha ia langsung menyeruputnya secara perlahan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Josh sedikit ragu.
"Dia baik," jawab Audrey singkat. Ia tak nyaman jika Josh bertanya tentang hal yang menjadi pripasi Audrey.
"Audrey, ayolah. Sampai kapan Kau akan menyembunyikannya Dia berhak ta ...."
"Maaf, Josh. Aku harus membeli sesuatu," potong Audrey saat Josh berbicara.
Josh menghela napas saat Audrey kembali menghindar. Seandainya saat itu, ia tak menugaskan Audrey ke Korea. Audrey takan menanggung ini sendiri.
Holaa mak. Udah panjang nih.
__ADS_1
Bab terbaru Mahira Gani udah up ya. Silahkan di intip. 🤗