
“Di mana Gabriel sekarang?” tanya Amelia dengan nafas yang memburu.
“Di ruang interogasi,” jawab Joshua.Tiba-tiba, ia merasa gugup ketika melihat wajah Amelia.
Tanpa mendengar lagi jawaban dari Josua, Amelia berjalan kembali, melangkahkan kakinya dan berjalan kearah ruang interogasi di mana Gabriel sedang diinterogasi oleh Nick.
Amelia masuk ke ruang interogasi, membuat Gabriel dan Nick terperanjat kaget. Lalu, mereka melihat kearah pintu.
“Amelia ada apa?” tanya Nick sambil bangkit dari duduknya.
Amelia menatap Gabriel dengan tatapan menyalak, “Capt! tolong tinggalkan kami berdua. Aku ingin berbicara dengannya!” pinta Amelia. Namun, Nick menggeleng.
“Tidak Amelia, kita sedang dalam tahap interogasi. Kau bisa berbicara dengannya nanti,” jawab Nick. Namun kali ini Amelia yang menggeleng.
__ADS_1
“Tinggalkan aku sekarang, atau aku akan menggila di sini,” jawab Amelia lagi. Nick mengusap wajah kasar. Semenjak Amelia menghajar seorang psikopat, Nick baru menyadari, bagaimana nekadnya Amelia, dan ia tak mau Amelia menghancurkan ruangan ini.
”Biak, aku memberimu waktu sebentar. Setelah selesai, segera keluar,” jawab Nick. Setelah itu, ia keluar dari ruangan.
“ Anda juga keluar, Tolong tinggalkan aku dan Gabriel,”ucap Amelia pada pengacara yang mendampingi Gabriel. Pengacara itu menoleh pada Gabriel, kemudian Gabriel mengangguk
tanda mengiyakan keinginan Amelia.
Kini, di ruangan itu hanya ada Amelia dan Gabriel, Amelia menekan tombol, kemudian tirai tertutup, lalu menekan tombol lainnya, dan mengaktifkan mode kedap suara, agar tak yang mendengar percakapan mereka.
“Apa maksudmu?” tanya Gabriel.
“Kau tahu, aku mati-matian menutupi apa yang kau lakukan padaku. Aku menyembunyikan semua yang terjadi pada hidupku. Lalu kenapa kau sekarang membongkar apa yang selama ini aku tutupi tutupi?” tanya Amelia, membuat Gabriel semakin keheranan.
__ADS_1
“Apa yang salah,.Aku menyerahkan diriku sendiri ke kepolisian, untuk menebus kesalahanku Lalu kenapa kau ....”
“Karena itu aib bagiku dan bagi putriku!” Kali ini, Amelia berteriak karena tak mampu menahan emosinya.
Gabriel terdiam, tak mampu membalas ucapan Amelia. Tubuhnya diam terpaku, lidahnya seolah kelu untuk digerakkan. Bahkan saat ini, ia benar-benar tak sanggup menatap Amelia. Apalagi sekarang mata Amelia mulai membasah, pertanda Amelia ingin menangis.
“Kau tahu Gabriel, mati-matian Aku ada di titik ini, berusaha melupakan semua apa yang terjadi padaku dan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk putriku, menekan traumaku agar aku bisa terus hidup mendampingi ibu dan putriku,
Aku berusaha menjadi Amelia yang sekarang dan berusaha menutupi luka yang kau berikan. Dan sekarang, dengan entengnya kau ....” Amelia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Suaranya tenggelam dengan tangisan.
Tak sanggup terus melihat Gabriel, Amelia menghapus air matanya, kemudian bangkit dari duduknya.
“Gabriel, aku tak tau kau benar-benar menyesal atau tidak! aku juga tak perduli dengan penyesalanmu. Aku tak ingin menyimpan dendam padamu, dan aku minta. Jangan pernah sangkut pautkan aku dan putriku lagi. Dan kau harus mengerti satu hal, Grisya, adalah putriku, hanya putriku!” Setelah mengatakan itu, Amelia keluar, ia berjalan dengan berderai air mata.
__ADS_1
Scroll lagi gengs