Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
153


__ADS_3

"Simma!" teriak Audrey dari jauh saat melihat Simma sedang terduduk di lantai sambil menekuk lututnya. Terlihat, jelas bahwa tubuh Simma masih bergetar.


Simma menoleh ke arah Audrey dan langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berlari ke arah Audrey dan berhambur memeluk Audrey.


"Si-simma, je-jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Audrey dengan berlinang air mata. Mendengar Kelly tertabrak. Audrey menggila, ia bahkan menyetir dengan kecepetan yang cukup penuh.


"A-aku, ba-baru ...." Simma tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia tak kuasa menahan tangisnya saat mengingat detik-detik Kelly tertabrak.


Tangis Audrey semakin pecah kala melihat Simma menangis, ia pun kembali memeluk Simma, mereka sama-sama menangis karena mengkhawatirkan kondisi Kelly.


"Di-di-mana Kelly?" tanya Audrey terbata-bata saat melepaskan pelukannya dari Simma. Belum Simma menjawab, ada suster yang keluar dari ruangan dan berlari, terlihat jelas suster itu sedang panik.


"Si-Simma. A-apa, Kelly di ru-ruangan itu?" tanya Audrey dengan masih berlinang air mata. Ia menunjuk ruangan di mana suster keluar dan berlari


Simma pun mengangguk, ia masih tak bisa menghentikan tangisnya. Tubuh Audrey terasa lunglai, ia merasa kakinya tak berpijak, ia melihat suster yang keluar dengan kondisi panik, dan ia yakin, kondisi putrinya sedang tidak baik-baik saja.


Dengan kaki gemetar, Audrey berjalan ke arah ruangan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap memertahankan kesadarannya.


"Kelly!" teriak Audrey histeris saat melihat Kelly terbaring di brankar, sedangkan dokter dan perawat sedang berjuang untuk memberikan pertolongan pada Kelly.


"Dimana keluarga pasien?" tanya suster yang tadi berlari. Audrey yang baru saja akan menerobos masuk, menghentikan langkahnya saat mendengar suara suster.


"Saya ibunya!" jawab Audrey, ia langsung berjalan ke arah suster.


"Golongan darah pasien sedang kosong di rumah sakit ini! Ayo ikut bersama saya!" ajak suster tersebut. Rupanya, suster tadi berlari untuk pergi ke bank darah untuk meminta darah. Namun ternyata, golongan darah Kelly sedang kosong. Hingga suster itu kembali berlari dan langsung bertanya pada Simma.


"Su-sus, tapi Tapi golongan darah saya berbeda," jawab Audrey dengan panik. Ia tau, golongan darahnya dan darah putrinya berbeda dan Audrey yakin, golongan darah Zidan lah yang sama dengan golongan darah Kelly.

__ADS_1


Mendengar ucapan Audrey suster pun ikut panik, "Apa tidak ada keluarga yang lain. Pasien mengalami pendarahan hebat dan butuh segera donor darah."


"Saya akan menghubungi ayahnya," jawab Audrey. Tubuh Audrey hampir saja tumbang, Namun, ia tetap berusaha agar tetap sadar. Ia tak boleh lemah, karena ia harus berjuang demi putrinya.


"Kalau begitu panggil secepatnya!" Titah suster, setelah itu, suster pun kembali masuk kedalam ruangan.


Audrey merogoh saku celananya. Demi putrinya. Ia menyingkirkan amarahnya pada Zidan, yang ia pikirkan adalah menelpon Zidan dan meminta Zidan datang ke rumah sakit. Ia tak perduli, Zidan menganggapnya wanita tak tau malu karena menghubunginya lagi. Nyawa Kelly lebih penting dari apa pun.


Berdering


Berdering


Berdering


Pada hitungan ke 3, terdengar suara operator yang berbicara. Ternyata, Zidan menolak panggilannya.


Audrey menendang dinding, ia kesal dan bingung karena Zidan menolak panggilannya, padahal hanya Zidan yang bisa menolong putrinya.


Ia akan meminta tolong Josh untuk meminta Zayn datang ke rumah sakit, karena Audrey tau, golongan darah Zidan dan Zayn sama. Ia tak mungkin menelpon Zayn sendiri, karena pasti Zayn akan menggapnya gila.


Saat ia meminta bantuan josh, ia tak perduli lagi jika Josh akan membocorkan tentang Kelly, yang terpenting, Zayn segera datang dan mendonorkan darahnya untuk Kelly


"Ha-haloo, Josh!" lirih Audrey ketika panggilnnya di jawab. Setelah mendapat sahutan dari Josh, Audrey pun menceritakan tentang kondisi Kelly.


•••


Setelah menerima telepon dari Josh, Zayn langsung bangkit dari duduknya, ia menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangannya sambil berlari.

__ADS_1


Josh sudah menceritakan secara singkat tentang Kelly, dan meminta Zayn untuk segera datang ke rumah sakit.


Walaupun Josh hanya menceritakan secara singkat, tapi Zayn sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya.


Saat sampai di mobil, Zayn menyalakan mobilnya dan memajukannya dengan kecepatan penuh.


"Dasar bodoh! putrimu sekarat tapi kau tak bisa di hubungi!" maki Zayn pada adiknya. Ia menyetir dengan satu tangan, dan satu tangannya memegang ponsel. Zayn tak henti-hentinya menelpon Zidan. Namun, Zidan sama sekali tak mengangkat panggilannya.


Saat sampai di rumah sakit, Zayn memarkirkan mobilnya secara sembarangan.. kemudian, ia berlari masuk kedalam rumah sakit, dan menuju ruangan di mana Kelly berada


"Aku disini!" ucap Zayn dengan napas ngos-ngosan karena berlari..


Audrey yang sedang melihat Kelly lewat jendela menoleh ....


"Te-terimakasih, Tuan Zayn," ucap Audrey sambil menghampiri Zayn. Wajah Audrey yang sudah pucat pasi pun berubah saat melihat kedatangan Zayn. Entah, bagaimana ia harus berterimakasih pada Zayn kerena bersedia datang dan menyelamatkan putrinya.


"Aku harus kemana?" tanya Zayn lagi, Audrey pun dengan cepat masuk kedalam ruangan untuk memanggil suster.


"Audrey!"


"Simma!"


mereka saling memanggil secara bersamaan..Kemudian, mereka pun saling memeluk, dan kembali saling menumpahkan tangisan. Di tengah duka yang terjadi, mereka saling menguatkan satu sama lain.


Sedangkan Zidan ...


Udah panjang banget nih, ye.

__ADS_1


Hate komen : blok 😎


Di next bab, kalian akan senang karena karma yang Zidan terima.wkwkwk


__ADS_2