
Josh masih terdiam di tempatnya, ia seperti orang linglung saat mengetahui siapa Stuard. Ada rasa tak nyaman yang ia sendiri tak mengerti kenapa.
"Tuan!" panggil sekretaris Josh, menyadarkan Josh dari lamunannya. Josh menoleh, "Sepertinya kita harus kembali ke kantor," jawab Josh. Ia pun berjalan ke arah mobil dan mendahului sekretarisnya.
Saat dalam mobil, Josh menyenderkan kepalanya kejendela. Sedari tadi, ia berusaha untuk tak memikirkan Simma dan Stuard. Nyatanya, ia tak bisa. Bayang-bayang Simma mendapatkan lelaki yang jauh lebih hebat menari-nari di otaknya, dan jika mengingatnya dada Josh malah terasa sesak.
"Josh!" panggil Bri. Ia berjalan menghampiri Josh dan langsung berhambur memeluk Josh.
Josh yang akan masuk ke ruangannya menoleh, ternyata saat Josh masuk ke perusahaan Briana pun juga masuk, hingga ia mengikuti langkah Josh. Namun, sengaja tak memanggil calon suaminya.
Josh tersenyum, lalu ia membalas pelukan Briana. Ia bisa saja tersenyum. Namun, Josh merasa senyuman yang ia beri pada Briana berbeda. Ada semacam rasa yang seperti tak menginginkan kehadiran Briana.
"Kenapa kau tidak menelponku jika ingin kemari. Aku bisa menjemputmu," ucap Josh.
"Bagaimana aku menelponmu. Sudah 3 hari ini kau mengabaikanku," keluh Briana, selama 3 hari ini, Josh jarang menelponnya dan jarang membalas pesannya, hingga ia memutuskan untuk pergi ke perusahaan.
"Maafkan aku, kemarin banyak sekali pekerjaan," dusta Josh. Padahal, ia tak menghubungi Briana karena ia ragu dengan prasaanya sendiri.
"Ayo masuk!" ajak Josh.
__ADS_1
••••
Setelah Simma tak sadarkan diri, Stuard pun kembali menidurkan Simma dan kembali memanggil dokter.
Setelah Simma selesai di periksa, Stuard naik ke ranjang, ia mengangkat kepala Simma dan memanjangkan tangannya agar Simma menjadikannya sebagai bantal, dan ia langsung memeluk tubuh Simma
Debaran jantung Stuard semakin keras kala untuk pertama kalinya ia memeluk Simma, tubuh Simma amat pas di dalam dekapannya. Stuard mengusap lembut rambut Simma, dan mengecup pucuk kepala Simma bertubi-tubi.
15 menit berlalu, Simma mengerjap ia membuka matanya. Perutnya terasa berat, lalu ia melihat ke arah perut, ternyata ada tangan melingkar di perutnya dan ternyata, tangannya kembali di pasang selang infus.
"Simma!" panggil Stuard yang menyadari bahwa Simma sudah terbangun.
"Maafkan aku yang membohongimu. Aku tak tau harus memulai dari mana..Tapi, aku bersumpah. Aku bukan orang jahat, aku tak akan melukaimu dan calon anak kita. Aku bersumpah Simma, tolong jangan membenciku," ucap Stuard, ia berbicara lembut. Namun, di balik kelembutan suaranya, tersimpan nada rapuh dari setiap kata yang ia ucapkan. Ia sungguh takut bahwa Simma akan membencinya.
Mendengar ucapan Stuard, tangis Simma luruh, bohong jika dia tak kecewa pada Stuard. Ia sangat-sangat kecewa pada lelaki di sampingnya ini. Bukankah jika Stuard tak jujur dari awal, berarti Stuard menganggapnya matre.
Simma tersenyum getir, ia teringat kala ia menyuruh Stuard untuk menabung. Padahal, Stuard mempunyai segalanya. Josh saja yang tak terlalu kaya menghinanya dan mencampakannya apalagi Stuard, yang mungkin akan melakukan hal yang jaubh lebih buruk dari Stuard.
"Simma!" panggil Stuard lagi, saat Simma tak menjawab. Ia melepaskan pelukannya dan sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Simma.
__ADS_1
"A-aku ingin pulang," jawab Simma lirih. Seketika, Stuard pun menarik tangannya dan bangkit dari duduknya. Ia mendudukan diri di samping Simma dan mengelus pipi Simma.
"Aku tak akan mengijinkanmu keluar, Simma," jawab Stuard membuat Simma membulatkan matanya. "Aku akan membawa makanan untukmu," ucap Stuard yang tak ingin mendapat protes dari Simma.
Setidaknya, mengurung Simma dan membuat Simma yakin padanya adalah cara yang bisa Stuard tempuh untuk kembali memenangkan hati Simma.
•••
"Josh apa ada yang kau pikirkan?" tanya Bri saat Josh sibuk pada laptop. Namun, pandangan Josh terlihat kosong. tadi saat masuk ke ruangan, Josh langsung fokus pada pekerjaan sedangkan Bri duduk di sofa. Ia ingin membohongi diri sendiri bahwa Josh sedang sibuk dengan pekerjaanya. Namun, hati kecilnya tak bisa di bohongi. Ia tau, Josh sedang menjauhinya dan ia sadar, calon suaminya sedang memikirkan Simma.
"Aku sedang bekerja, Sayang. Tunggu sebentar," jawab Josh tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Kau merindukan Simma?" tanya Bri tiba-tiba, ia ingin mengetes calon suaminya, walaupun menyakitkan, tapi ia ingin melihat respon Josh.
Mendengar nama Simma, Josh menghentikan kegiatannya dan langsung memandang Bri, membuat Bri tersenyum getir, ternyata dugaannya benar.
Saat Josh memandangnya, Bri pun segera bangkit dari duduknya dan berniat pergi. Karena rasanya begitu menyesakkan.
Josh mengusap wajah kasar lalu ....
__ADS_1
Cinta tulus setelah bercerai udah update ya di sebelah