Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
75


__ADS_3

Setelah berjongkok di hadapan Gia, Zayn pun bangkit dan mendudukan dirinya di sebelah Gia.


"Boleh kah aku bertanya padamu?" tanya Zayn setelah duduk di samping Gia.


Gia menoleh, "kau mau bertanya apa?" tanya Gia.


"Apakah kau masih mencintai Zidan?" tanyanya ragu-ragu.


Mendengar pertanyaan Zayn, Gia menatap lurus kedapan. Jujur saja, ia pun bingung dengan perasaannya pada Zidan. Mereka hanya saling mengenal dengan waktu yang singkat, bahkan saat mendengar nama Zidan, Gia hanya ingat saat Zidan menamparnya dengan keras.


"Aku tak tau bagaimana prasaanku padanya, aku juga tak yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi, jika boleh aku meminta, bisakah kau berhenti jahat padanya ... Dia sebenarnya ...."


"Adik kandungku!" Zayn menyela ucapan Gia, membuat Gia membelalakan matanya karena ternyata Zayn sudah tau yang sebenarnya.


"Kau sudah tau ... Lalu kenapa kau masih bersikap jahat padanya?"


"Banyak musuh yang sedang mengincar nyawaku, jika mereka tau kau dan Zidan adalah orang yang ingin aku lindungi, mereka pasti akan mengincar kalian," jawab Zayn. Setelah mengucapkan itu, Zayn memalingkan tatapannya ke arah lain, ia tak ingin Gia melihat gurat lelah di wajah Zayn yang sedang bertarung mencari siapa selama ini yang mengincar nyawanya.


Mendengar ucapan Zayn yang begitu tulus, rasa haru meyeruak dalam dada Gia. Ia bisa mendengar ada keputus asaan dalam nada bicara Zayn. Ia menggenggam tangan Zayn dan tersenyum, membuat Zayn lansung menoleh lagi ke arahnya.


"Sekarang, mau kah kau memberikan kesempatan padaku agar aku bisa membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu dan bisa menjadi ayah dan suami yang baik ?" tanya Zayn.


"Benarkah kau tulus padaku?" Ia menjawab pertanyaan Zayn dengan kembali bertanya. "Aku tak tau bagaimana kesedihan Zidan selama ini saat kau jahat padanya, aku juga tak tau hal buruk apa yang kau alami sehingga kau membenci Zidan ... Tapi, bisakah aku tak di libatkan lagi dengan urusan kalian ... Aku berhak untuk bahagia dengan caraku," ucapnya lagi.


"Ma-maksudmu kau ingin bahagia dengan pergi dariku?" tanya Zayn terbata-bata. Ia bahkan menatap Gia tanpa berkedip karena tak sabar menunggu jawaban istrinya.


"Aku yakin, walau aku pergi darimu kau akan terus mengejarku dan menjadikan anak ini sebagai alasan dan aku akan semakin tertekan karena itu .... Terus mengutukmu dan membencimu karena tingahmu saat di Bali pun percuma, semua sudah terjadi, jika aku terus mengeluh, itu tandanya aku tak mensyukuri bayi yang sedang ku kandung ...." Gia mengentikan ucapannya sejenak, ia menatap Zayn yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Ja-jadi maksudmu, kau takan meninggalkanku?" tanya Zayn dengan tatapan terpecaya


"Aku akan berusaha tetap di sisimu dan membuka hati untukmu, tapi aku belum siap jika harus melayanimu di ranjang. Walau bagaimana pun, aku belum melupakan sepenuhnya kejadian saat kita berada di Bali." Gia melepaskan tangannya dari tangan Zayn, kemudian ia menunduk. Bayangan perlakuan Zayn dan Zidan saat di bali kembali terlintas di otaknya. Dia yang tak tau apa-apa, harus mengalami hal buruk secara bersamaan.


Mendengar ucapan Gia, Zayn membawa Gia kedalam pelukannya. ia mencium pucuk kepala Gia bertubi-tubi, sedangkan Gia hanya terdiam di dalam pelukan Zayn.


"Aku akan sabar menunggumu membuka hati untukku," ucap Zayn saat memeluk Gia. Sungguh, Zayn ingin sekali bersorak kegirangan saat Gia berkata akan membuka hati untuknya, tak masalah berapa lama dia menunggu, yang terpenting Gia bersedia berada di sisinya.


"A-aku mengantuk," ucap Gia saat masih berada di pelukan Zayn. Tiba-tiba, kecanggungan melanda Gia saat Zayn kembali bersikap manis.


Zayn pun melepaskan pelukannya. Ia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Gia, dan Gia pun menerima uluran tangan Zayn hingga mereka berjalan ke kamar dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


Malam ini, Zayn tertidur dengan damai, rasa sakit di punggungnya mendadak hilang, karena ia bisa tertidur sambil memeluk Gia dan mengusap-ngusap perut istrinya, hal yang sangat ingin ia lakukan saat menikahi Gia.


Begitupun Gia, tidurnya terasa damai saat berada di pelukan Zayn, ia tak perlu lagi mengkhwatirkan hari esok karena ia bisa berpegangan pada suaminya.


•••


"Ayo turun!" ucap Zayn pada Gia saat tiba perusahaan. Zayn sengaja membawa Gia ke perusahaanya. Ia takan tenang membiarkan Gia sendiri di apartemen, sedangkan Gia pun tak mau menunggu di di mansion kedua orang tuanya.


"Za-zayn, aku malu, semua karyawanmu pasti akan mencibirku. Walau bagaimana pun Zidan per ...." Gia tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Ia menunduk dan mengigit bibir bawahnya.


Zayn tersenyum, ia mengusap lembut rambut Gia. "Mark sudah mengurusnya, aku jamin bahkan mereka akan menunduk dan tak berani melihatmu."


Seketika Gia mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Zayn. "Benarkah."


Zayn mengangguk, "Ayo kita keluar, aku harus memimpin rapat," ajak Zayn. Ia pun turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Gia.


Zayn mengulurkan tanganya pada Gia, Gia sedikit ragu untuk menerima uluran tangan Zayn, tapi tak urung dia pun menerimanya. hingga kini mereka berjalan bergandengan tangan.


Benar saja, saat mulai memasuki lobi, semua karyawan yang berpapasan dengan Zayn tak berani menatap Zayn dan Gia, Zayn berjalan dengan terus menggandeng tangan Gia sedangkan Gia berjalan dengan menunduk.


•••


Suara helikopter terdengar nyaring di dekat kaca ruangannya. Belum Zayn menoleh tiba ... tiba


Dor


"Zayn!" teriak Gia saat mendengar suara tembakan. Ia langsung bangkit dari duduknya dan berjongkok kemudian menutup kedua kupingnya.


Zayn dengan santai bangkit dari duduknya.


Walaupun kaca seperti kaca pada umumnya, tapi kaca yang terpasang di ruangan Zayn adalah kaca anti peluru.


Zayn bangkit dari duduknya, ia langsung berjalan ke arah kaca di mana ada orang di helikopter yang akan kembali melepaskan tembakannya ke arah Zayn.


Zayn berdiri dengan memasukan tanganya ke saku celananya. Zayn menyipitkan matanya mencoba melihat dengan jelas siapa yang menembakkan peluru


"Zayn!" teriak Gia lagi saat mendengar tembakan ke dua. Zayn tersadar, ia segera menurunkan tirai untuk menutup jendelanya.


Ia pun berjalan ke arah Gia, Zayn menekuk lututnya dan menyetarakan diri dengan Gia.

__ADS_1


"Gia, tenanglah! Tak ada yang terjadi," ucap Zayn. Ia memegang kedua bahu Gia untuk membantu istrinya untuk berdiri.


Wajah Gia begitu pucat, bibirnya gemetar bahkan Gia merasa kakinya tak berpijak. Zayn menangkup pipi Gia dan memaksa Gia untuk melihat ke arahnya.


"Tatap aku! titahnya. " Lihatlah, tak ada yang terjadi," ucapnya lagi saat Gia tak mau membuka matanya.


"Za-zayn, aku takut," lirih Gia dengan bibir bergetar.


Zayn langsung membawa Gia kedalam pelukannya, ia mengelus punggung Gia dan membiarkan Gia tenang berada di dalam pelukannya.


Bukan hanya Gia yang terkejut, Seluruh karyawan Zayn pun terkejut dengan dengan suara tembakan, termasuk Zidan.


Mendengar suara tembakan, Zidan yang sedang memeriksa dokumen langsung bangkit dari duduknya. Karena lift tak kunjung terbuka, Zidan pun menggunakan tangga darurar. Ia takut, terjadi sesuatu pada kakanya.


Saat dia membuka pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti, tubuhnya diam terpaku, nyawanya seperti direbut paksa dari raganya, ketika ia melihat dan mendengar Gia menangis di pelukan Zayn. Hatinya berdenyut nyeri. Walau bagaimana pun rasa itu masih ada.


Ia pun perlahan menutup pintu dan kembali berbalik dan menjauh dari ruangan Zayn.


Orang di dalam helikopter menggeram kesal, ia pasti akan menerima lagi amukan dari bosnya karena gagal membunuh Zayn.


Baru saja ia akan kembali memasukan kakinya kedalam helikopter. Satu tembakan mengenai kakinya. Ia langsung melihat kearah luar untuk melihat siapa yang menembaknya.


Keningnya mengerut bingung saat melihat yang menembaknya adalah seorang wanita, wanita itu berdiri di atap gedung yang bersebrangan dengan gedung perusahaan Zayn.


"Shittt!" umpat lelaki itu saat wanita yang sudah menembaknya, kembali membidik dan sepertinya akan menembak helikopter yang sedang dia tumpangi. Dengan menahan sakit, ia pun berusaha memasukan kakinya kedalam dan meminta orang yang menerbangkan helikopter untuk pergi menjauh.


Wanita itu, menghela napas lega. Saat helikopter itu pergi, Ia berjongkok untuk mengambil minum kemudian berdiri lagi, ia membuka tutup botol dan menenggaknya hingga tandas.


Lalu setelah itu, ia mengeluarkan tali dari sakunya dan mengaitkannya. Setelah itu ia meloncat ke atas dan turun dari gedung yang cukup tinggi hanya dengan berpegang pada seutas tali.


Mata Zidan membulat sempurna saat melihat adegan tembak di depannya. Setelah dari ruangan Zayn, ia memutuskan untuk jalan melewati tangga darurat, sebelum masuk kedalam tangga darurat.


Ia berdiam diri sejenak melihat pemandangan gedung-gedung di depannya. Namun, saat ia akan pergi, ia melihat wanita muncul dan langsung menembak helikopter, yang membuat Zidan lebih terkejut, wanita itu turun ke bawah hanya berpegang pada seutas tali dan bahkan tanpa memakai pengaman di tubuhnya, padahal gedung tempat berdiri wanita itu cukup tinggi.


Tiba-tiba Zidan teringat siapa wanita itu dia ....


Ini sebenernya buat 3 bab, aku ga ada waktu ngedit lagi, jadi aku satuin dalan satu naskah. Udah ngetik panjang x lebar, kalau ada yang komen dikit, ayo kita ngopi ala jessica 🤣🤣


Hal yang paling menegangkan akan di mulai besok. Udah hal menegangkan lewat, lanjut uwu uwu,🤣🤣

__ADS_1


jangan komen caption otor ya, komen isi ceritanya aja oke.


__ADS_2