
Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Gabriel. Amelia pun mengangguk.
“Bolehkah aku minta sesuatu padamu?” tanya Amelia. Ia berusaha berbicara dari Hati Ke Hati bersama Gabriel.
“Gabriel, aku bukan bermaksud untuk membantah ucapanmu, atau membantah keinginanmu. Hanya saja, aku tidak ingin cuti lagi. Aku sudah terlalu lama mengambil cuti. Rasanya, aku sudah rindu berdinas dan sudah rindu menangkap para tersangka, dan banyak sekali kasus yang harus aku ungkap. Jadi bisakah kau menunda rencanamu, biarkan aku bekerja terlebih dahulu. Mungkin saat akhir tahun nanti, aku bisa mengajukan cuti lagi,” kata Amelia, membuat Gabriel tampak berpikir.
Gabriel mengelus rambut Amelia. “Jika kau mau begitu, tidak apa-apa. Mungkin aku akan pergi ke italy dan aku akan kembali lagi ke sini setelah kau mengajukan cuti,” jawab Gabriel.
Mendengar ucapan Gabriel, tiba-tiba wajah Amelia berubah menjadi sendu. Ia tertunduk tak berani lagi menatap Gabriel, matanya sudah membasah. “Ya sudah, aku akan cuti saja,” ucap Amelia dengan lemas, membuat Gabriel menahan tawanya. Ternyata semenyenangkan ini mengerjai istrinya.
“Baby, kau menangis?” tanya Gabriel saat melihat mata Amelia sudah berkaca-kaca.
“Tidak aku tidak menangis,” jawab Amelia lagi. Ia langsung berbalik kemudian membelakangi Gabriel.
“Baby, Kau kenapa?” tanya Gabriel ketika terdengar isakan dari istrinya.
“ Gabriel, Kau jahat!” pada akhirnya, tangis Amelia luruh. Ia ingin bekerja kembali, karena menjari polisi adalah panggilan jiwanya. Tapi di sisi lain, ia juga tak ingin kehilangan Gabriel, Ia tak ingin Gabriel pergi.
__ADS_1
“Baby!” Gabriel berusaha untuk menarik tubuh Amelia, agar Amelia kembali melihat ke arahnya.
“Tadi kau sudah mengajukan syarat untukku agar kau tidak pergi. Tapi pada akhirnya kau pergi juga!” kata Amelia lagi, membuat Gabriel menepuk keningnya, ternyata selain gengsian, istrinya cukup cengeng.
“Berikan aku satu kali lagi, maka aku berjanji tidak akan pergi dan akan tak akan menyuruhmu cuti!” kata Gabriel, seketika Amelia berbalik, kemudian ia langsung menatap Gabriel dengan gemas. Dari jawaban suaminya barusan, Amelia bisa menyimpulkan bahwa Gabriel berbohong, tentang kepergiaanya.
“Gabriel jangan bilang kau mengerjaiku!” tanya Amelia.
“Tiidak, aku tidak mengerjaimu!” kata Gabriel. Namun wajahnya mengatakan sebaliknya. Seketika, Amelia bangkit dari berbaringnya kemudian ia mengambil bantal. Lalu memukuli tubuh Gabriel dengan bantal.
“Kau jahat, Gabriel! Kau jahat!” teriak Amelia. Sedangkan Gabriel hanya tertawa. Ia tidak melawan dan membiarkan Amelia memukul tubuhnya.
“Aku membencimu!” kata Amelia. Saat ia akan turun, Gabriel menahan tangan Amelia kemudian ia langsung menarik tangan Amelia hingga Amelia kembali berbaring, dan setelah itu, ia langsung menindih tubuh istrinya.
“Gabriel, kau kenapa?” tanya Amelia ketika Gabriel menindihnya, wajah Gabriel terlihat sendu, padahal beberapa detik lalu, Gabriel masih menertawakan dirinya.
“Bisakah jangan berbicara kau membenciku?” kata Gabriel lagi. Nadanya terdengar pahit. Kata-kata Amelia barusan, begitu menakutkan baginya.
__ADS_1
Amelia menggigit bibirnya, kemudian ia mengelus pipi Gabriel. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud berkata begitu,” kata Amelia.
Gabriel menggulingkan tubuhnya ke samping, kemudian kembali memeluk tubuh istrinya.
“Baiklah, kali ini aku tidak akan memaksamu untuk cuti. Tapi aku mempunyai syarat untukmu!” kata Gabriel, membuat
Amelia kembali menoleh.
“Syarat apa?” tanya Amelia.
“Kau harus menjauh dari Johan, kau boleh bertegur sapa dengannya, dan kau tidak boleh menjawab sapaannya.” Amelia menggeleng saat mendengar ucapan Gabriel.
“Kenapa kau tidak menggunakan koneksi mu saja untuk memindahkan Johan ke divisi lain!” kata Amelia dengan kesal.
“ Sepertinya itu ide bagus!” Jawab Gabriel, membuat mata Amelia membulat.
••••
__ADS_1
Scrool gengs