Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
274


__ADS_3

Flashback.


Simma memeluk kedua putra-putrinya begitu erat. Mereka menangis tergugu, menyelami luka akibat sikap Stuard yang berubah.


Simma melepaskan pelukannya pada Gabby dan Gabriel. Lalu, ia mengecup kening kedua putra-putrinya.


"Gabby ... Gabriel, dengarkan Mommy," ucap Simma ketika kedua anaknya masih menangis.


"Besok, kita akan pergi dari sini. Tapi, berjanji pada Mommy, Mommy minta, apapun yang terjadi pada kita kedepannya. Jangan pernah membenci Daddy. Doakan Daddy agar bisa bahagia tanpa kita," ucap Simma. Hatinya luar biasa perih. Tapi ini jalan terbaik yang ia bisa ambil.


"Mommy apa Daddy benar-benar membenci kami?" tanya Gabriel. "Apa Guci itu lebih penting dari aku dan Gabby?" tanyanya lagi.


Nyesss


Bagai luka yang menganga. Lalu, di siram air cuka. Hati Simma begitu teriris saat mendengar ucapan Gabriel. Mendengar ucapan Gabriel, Simma kembali berkecil hati. Benar, apa yang di katakan Gabriel memang benar.


Ya, Simma tau, Guci itu sangat berharga bagi suaminya. Tapi, bukankah kedua anaknya sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Akankah Stuard memperlihatkan kecewanya jika Gabby dan Gabriel adalah anak kandungnya.

__ADS_1


Benar, Karena Gabby dan Gabriel bukan anak kandung suaminya, hingga Stuard sampai hati melukai kedua anak kembarnya. Mungkin, jika Gabby dan Gabriel anak kandung Stuard, Stuard Takan mengabaikannya dan mungkin akan bersikap biasa saja. Pada akhirnya, ketakukan Simma terjadi.


Simma tak mampu menjawab pertanyaan Gabriel. Ia hanya mampu memandang Gabby dan Gabriel dengan tatapan sendu, ia tak berdaya menghadapi pertanyaan kedua anak kembarnya.


"Kalian ingat, kan, yang tadi Mommy, bilang. Apa pun yang di pikirkan Daddy tentang kita. Kalian jangan pernah membenci Daddy. Kalian mengerti?" ucap Simma lagi, Gabby dan Gabriel pun mengangguk lesu.


"Haruskah kita berkemas sekarang, Mommy?" tanya Gabby. Seketika Simma menggeleng.


"Ini semua milik Daddy. Kita hanya akan membawa apa yang kita pakai."


"Kita akan membeli yang baru. Mungkin, tak semahal yang selalu kalian pakai. Tapi, mulai sekarang ... Kita harus terbiasa untuk hidup sederhana." balas Simma. Ia bisa melihat mata kedua anak kembarnya meredup.


Walau bagaimana pun, kedua putra-putri kembarnya selalu hidup dengan mewah dan mendapatkan semua dengan standar terbaik. Tentu saja, akan susah untuk menyesuaikan diri.


"Mommy apa Mommy akan membenci kami. Karena kami, Daddy pun meninggalkan Mommy?" tanya Gabriel. Simma menggeleng, seraya tersenyum pahit. "Apa pun yang terjadi. Mommy tak akan pernah meninggalkan kalian, berjanjilah, kalian tak boleh bersedih lagi."


"Maafkan kami, Mommy," ucap Gabby dan Gabriel secara bersamaan. Mereka kembali berhambur memeluk Simma. Walaupun mereka masih kecil, tapi Gabby dan Gabriel begitu perasa.

__ADS_1


•••


Setelah menitipkan pesan untuk Stuard pada kepala asisten di Mansion. Simma menggenggam tangan kedua putra putrinya untuk berjalan keluar. Saat sudah melewati pintu. Sejenak, Simma menghentikan langkahnya. Ia menengok kebelakang, kemudian tersenyum getir.


Terimakasih sudah menjadi tempatku pulang. Terimakasih selama bertahun-tahun, sudah memberiku dan kedua anakku tempat untuk berteduh. Selamat tinggal semua.


"Mommy ayo!" ajak Gabriel. Membuat Simma tersadar, ia mengangguk. Kemudian mulai melangkahkan kakinya.


Tanpa membawa apapun, Simma dan kedua putra-putrinya keluar dari Mansion. Mereka pergi dengan membawa luka yang luar biasa hebat, tapi Simma cukup bersyukur. Setidaknya ia dan putra putrinya bisa hidup dengan sangat nyaman selama beberapa tahun kebelakang.


Kini, ia hanya satu tempat untuk berpulang, tak akan ada lagi Stuard, hanya ada dirinya dan kedua putra putrinya.


Flashback off


Scroll lagi iesss.


Mewek gak sihh 😭😭

__ADS_1


__ADS_2