
"Apa ada yang kau pikirkan, hmm?" tanya Zidan. Ia yang baru saja berenang langsung menghapiri Audrey ke tepi kolam karena melihat sang istri sedang melamun.
Audrey yang sedang duduk dengan kaki yang menjuntai kebawah dan mengenai dada Zidan pun hanya tersenyum. Ia mengelus rambut Zidan dan memainkannya. "Aku tak apa-apa, Dad," jawab Audrey.
Zidan tak percaya begitu saja, ia mengankat dirinya dari kolam dan mendudukan dirinya di samping Audrey, hingga posisi mereka kini sama.
"Kau pasti sedang memikirkan sesuatu, katakan, Sayang. Apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Zidan lagi
"Dad!" panggil Audrey, ia menyenderkan kepalanya ke bahu tangan suaminya
"Hmm."
"Bolehkah aku pulang sendiri ke Rusia?" tanya Audrey, membuat Zidan membulatkan matanya.
"Kenapa kau ingin pulang sendiri?" tanya Zidan.
"Aku merasa Simma sedang tak baik-baik saja. Aku pun rindu pada Kelly," jawab Audrey dengan wajah yang murung.
Zidan menegakan tubuhnya, hingga kepala Audrey pun ikut tegak kembali.
__ADS_1
"Aku tak bisa mengijinkanmu kembali ke Rusia sendiri. Tapi aku berjanji, akan mengerjakan pekerjaanku dengan cepat agar kita bisa kembali bersama-sama. Aku akan menelpon orang untuk mencari tau keadaan Simma," Jawab Zidan. Walaupun ragu, Audrey pun mengangguk, menyutujui ucapan Zidan.
Seminggu kemudian.
Simma sedang duduk di sofa, ia terdiam ... Memandangi pemandangan di depannya dengan tatapan kosong.
Ini sudah satu minggu Simma diam di mansion Stuard, sejak saat Simma membanting piring, sejak saat itu juga Simma selalu membanting piring jika Stuard yang membawakan makanan untuknya. Tapi, jika pelayan yang membawakan makan, Simma akan memakannya.
Stuard selalu tersenyum, melihat tingkah Simma. Ia mengerti apa yang di rasakan Simma, jika ia dalam posisi Simma pun ia akan melakukan hal yang sama.
Selama seminggu ini, Stuard selalu mengajak Simma berbincang kesana kemari, Namun Simma tak merespon, Simma hanya akan terdiam sambil menatap kosong kedepan.
Stuard yang sedari tadi memerhatikan Simma menghela napas berat. Ia sungguh tak tau, bagaimana caranya agar Simma kembali normal.
Ia pun tersiksa saat melihat kondisi Simma
Stuard menegakan tubuhya, dan berjalan ke arah sofa untuk duduk di sebelah Simma.
"Aku ingin pulang," ucap Simma saat Stuard duduk di sampingnya. Stuard tergegun. Ini pertama kalinya Simma berbicara setelah seminggu diam di mansionnya.
__ADS_1
"Aku ingin pulang, aku tak mau di sini," pinta Simma dengan berderai air mata. Membuat, jantung Stuard seperti ti tusuk ribuan jarum. Sebegitu menakutan kah dia di mata Simma, hingga Simma menatap takut padanya.
Stuard menggeggam tangan Simma, membuat Simma tersadar dan langsung menatap Stuard. "Kau ingin pulang, hmmm?" tanya Stuard lagi, Simma pun mengangguk.
"Jika kau memang benar mencintaiku tolong pulangkan aku dan jangan menemuiku lagi ,"jawab Simma, ia menatap Stuard dengan tatapan memohon, membuat Stuard langsung terdiam. Walaupun, Simma tak pernah menggubris apa yang di katakan oleh Stuard. Tapi, ia selalu mendengar dengan baik, kata-kata yang terucap dari mulut Stuard.
Stuard menangkup kedua pipi Simma, hingga mata mereka saling mengunci.
" Simma, jika kehadiranku membuat tak nyamam dan kau ingin pulang, aku akan mengabulkannya. Dan untuk membuktikan cintaku, aku akan menurut dan tak akan menemuimu lagi," ucap Stuard. setelah mengatakan itu, ia langsung bangkit dari duduknya dan berlutut lalu menempelkan wajahnya di perut Simma.
"kalian jangan membuat Mommy susah oke," ucap Stuard sambil membelai perut Simma, setelah mengatakan itu, Stuard pun bangkit dari berlututnya. "Akan ada yang kemari untuk membantumu bersiap, aku akan menunggumu di bawah dan aku akan mengantarmu untuk pulang." sambung Stuard lagi. Setelah selesai, Stuard pun langsung berjalan ke luar, tanpa menengok lagi kebelakang.
"Simma kau hanya miliku," ucap Stuard dalam hati saat berjalan untuk keluar dari kamar. Stuard memang menyetujui ucapan Simma yang tak ingin bertemu lagi dengannya. Tapi nyatanya, tekadnya sudah bulat, ia akan mencari cara untuk mendekati Simma setelah nanti Simma pulih.
Ia tak ingin mellhat Simma tertekan, hingga akhirnya, untuk saat ini ia mengijinkan Simma untuk pulang dan ia takan menemui Simma untuk sementara waktu.
Setelah Simma pulih, ia akan memikirkan cara lain untuk mendapat Simma dan menjadikan Simma miliknya.
Sementara di sisi lain.
__ADS_1
Josh memijat keningnya, ia sungguh pusing, Briana memaksa agar pernikahan di lakukan secepatnya. Bahkan, Briana ingin membatalkan pertunangannya dan ingin langsung menikah saja, dan tentu itu membuat Josh merasa terbebani, karena sampai sekarang, ia belum yakin, siapa wanita yang ia cintai sebenarnya.