
Perlahan, Stuard naik ke ranjang, ia membaringkan diri di sebelah istrinya lalu memeluk Sima dari belakang.
Tangis Simma semakin luruh saat Stuard memeluknya, otaknya semakin mengambang. Ia tak tahu langkah apa yang akan diambil sekarang. Semuanya telah terbuka, haruskah dia bertahan dengan Stuard. Lalu bagaimana dengan Gaby dan Gabriel, pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di otaknya..
Stuart memeluk Shima semakin erat, membuat Sima menangis semakin kencang.
"Jangan menangis lagi!" Kata Stuard, bukannya berhenti tangis Imah semakin menjadi-jadi
Bingung karena tangis istrinya tak kunjung mereda, Stuard mulai menggerakkan tangannya untuk menyentuh bagian intim istrinya. Tangannya dengan lihai memainkan bagian sensitif milik istrinya.
"jangan begini!" Omel Simma saat tangan Stuart gencar menggodanya. Namun, Stuard tak peduli, ia tetap pada aktivitasnya.
Saat Simma memberontak, Stuart semakin mengencangkan pelukannya. Ia mendekatkan wajahnya pada tengkuk simak dan menjilatnya, membuat Simma meremang, Simma sudah lelah berontak hingga pada akhirnya ia membiarkan Stuart melakukan aktivitasnya.
__ADS_1
Tak lama, Stuard menghentikan kegiatannya karena masih mendengar isakan dari sang istri. Walaupun salah paham di antara mereka sudah berakhir, tapi ia tahu istrinya masih kesal atas sikapnya pada Gabby dan Gabriel.
•••
Simma membuka matanya ia mengerjapkan pandangannya. Rupanya, saat tadi, ia tertidur tanpa sadar karena kelelahan menangis.
Perutnya terasa berat ia melihat kebawah dan ternyata tangan Stuart sedang melingkar di pinggangnya.
Perlahan Sima melepaskan tangan Stuart dan menurunkan dari pinggangnya. Setelah itu, Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Rasanya, ia ingin menghirup udara malam sebanyak-banyaknya.
Saat sampai di lapangan golf, Sima melepas sandalnya. Kemudian mulai berjalan. Rasanya, sungguh menyenangkan bisa berjalan di atas rumput.
Sima terus berjalan sambil bersenandung, ia tersenyum saat angin malam dan menerpa wajahnya membuatnya terasa sejuk.
__ADS_1
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya Sima menghentikan langkahnya dan memilih mendudukkan dirinya di rumput.
Sima menekuk kedua kakinya dan memeluk lututnya, pandangannya lurus ke depan.
Namun, ada yang memakaikan mantel di tubuhnya, membuat Sima menoleh siapa lagi kalau bukan stuart, suaminya.
"Kau mengikutiku?" pekik Simma dengan terkejut, sedangkan Stuard hanya terkekeh. Ia mengacak gemas rambut Simma hingga pipi Simma merona. Simma memalingkan tatapannya ke arah lain, agar Stuard tak melihat pipinya yang memerah. Sudah lama sekali rasanya Stuard tak membelai rambutnya. Dan Harus Simma akui, ia rindu perlakuan manis dari suaminya.
Stuart mendudukan dirinya di sebelah Simma. Lalu, membawa kepala Simma untuk bersandar di bahunya, di bawah sinar bulan, mereka terdiam menyelami perasaan yang berkecamuk dalam dada "Apa kita sudah baikan sekarang?" tanya stuard memecah keheningan setelah lama saling diam. membuat Simma terdiam dan menghela nafas. Ia bingung bagaimana menjelaskan pada Stuard tentang perasaan Gabby dan Gabriel. Walau bagaiamana pun, ia harus memikirkan perasaan putra dan putrinya.
"Kau menyakiti Gaby dan Gabriel kemarin bagaimana jika Gaby dan Gabriel Tak ingin lagi tinggal disini dan tak mau melihatmu lagi Aku tak punya pilihan selain mengikuti kedua putraku," jawab Simma dengan sendu, membuat Stuard menunduk.
Scroll lagi iessss
__ADS_1
Sonya aku update malem ya di sebelah ,😉