
Mendengar ucapan Briana dan melihat Briana akan keluar dari ruangannya, Josh mengusap wajah kasar dan menekan tombol di mejanya agar pintu terkunci otomatis.
"Josh, buka pintunya," ucap Briana saat ia tau bahwa Josh mengunci pintu secara otomatis.
Briana memalingkan wajahnya ke arah lain saat Josh berjalan menghampirinya. Ia sedang menahan tangisnya agar tidak pecah, karena rasanya, begitu menyakitkan dan sangat menusuk.
"Briana!" panggil Josh, ia menarik tangan Briana dan membawa Briana kedalam pelukannya.
Saat di dalam pelukan Josh ... Tangis Briana pecah. "Kenapa kau jahat sekali, Josh, kenapa," ucap Briana sambil memukul-mukul dada Josh, membuat Josh meringis. Josh tak menghentikan Briana, ia mengelus punggung Bri membuat Briana tenang di dalam dekapannya.
Saat Bri sudah tenang, Josh melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi Bri dan menghapus air mata Briana dengan ibu jarinya.
"Kenapa kau berpikir aku merindukan Simma, hmm?" tanya Josh, ia mengajak Bri untuk duduk di sofa, lalu mendekap tubuh Bri.
"Kau mulai mencintai, Simma, kan?" tanya Bri sambil terisak. Ia berusaha meronta-ronta dari peluka Josh. Namun, Josh menahanya.
__ADS_1
"Kenapa kau terus berbicara tentang Simma, kenapa aku harus merindukannya? kau tau bukan maksudku mendekati Simma," jawab Josh. Josh bisa saja berbicara begitu pada Bri. Tapi, hati kecilnya seperti memberontak, tak terima dengan ucapannya sendiri.
Mendengar jawaban Josh, Briana melepaskan pelukannya secara paksa, lalu ia menatap Josh lekat-lekat.
"Apa kau pernah menyentuh Simma?" tanya Bri, seketik Josh menggeleng. "Aku hanya pernah menyentuhmu," jawab Josh, lagi-lagi ucapannya mengingkari hati kecilnya. Seketika Josh menyesali ucapannya barusan, seharusnya ia jujur saja pada Briana.
Josh menegakan tubuhnya, lalu menggengam kedua tangan Bri. "Briana, kita hanya tinggal selangkah lagi untuk membangun keluarga. Jadi, tolong ... percaya padaku," ucap Josh, membuat Bri langsung berhambur memeluk Josh. Diam-diam, Josh menghela napas, dulu ... Ia sangat menyukai saat Bri memeluknya atau bersikap manja padanya.
Tapi, kenapa sekarang, hanya ada rasa hambar yang ia rasakan.
••••
Karena sekeras apa pun Simma memikirnya, tetap saja tak masuk akal. Kenapa orang seperti Stuard malah mendekatinya. Josh saja yang di bawah Stuard menyia-nyiakannya, apalagi Stuard.
Saat mendengar suara derap langkah, Simma pun langsung memiringkan posisi tubuhnya dan menarik selimut, lalu menutupi sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Tubuh Simma semakin bergetar saat suara derap langkah semakin mendekat. Saat ia merasa seseorang menarik selimutnya, Simma memejamkan matanya, lalu tak lama ... Ia merasakan sebuah sentuhan di pipinya, dan akhirnya, Simma pun memberanikan diri membuka matanya.
Saat Simma membuka mata, Stuard tersenyum padanya. Stuard mengambil bantal dan mengangkat kepala Simma lalu menaruh bantal yang di ambilnya dan menaruhnya di bawah kepala Simma, hingga kini posisi kepala Simma lebih atas dari badannya
Stuard mengambil piring yang yang barusan ia taruh, ia mengambil potongan steak lalu menyodorkannya pada mulut Summa.
"Simma, kau harus makan. Perutmu belum terisi makanan berat sejak tadi," ucap Stuard dengan lemah lembut saat Simma tak mau membuka mulutnya.
"Ayolah, Simma. Pikirkan kedua anak kita. Anak kita butuh nutrisi," ucap Stuard lagi karena Simma masih enggan membuka mulut.
Saat mendengar ucapan Stuard, tiba-tiba Simma meradang. Seketika, ia membanting piring di tangan Stuard hingga semuanya berserakan di lantai.
kemarin, sebelum ia tau rahasia Stuard, hatinya akan menghangat saat Stuard menyebut anak dalam kandungannya adalah anaknya. Tapi, sekarang ... Setelah semuanya terbongkar, Simma malah merasa takut dengan ucapan Stuard yang mengakui kedua anaknya.
Stuard tersenyum saat melihat Simma membanting piring, seolah sudah tau, bahwa Simma akan melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Ia lebih mendekat, dan malah mengelus rambut Simma. "Kau ingin makanan yang lain, hmm?" tanya Stuard, membuat Simma tertegun dengan reaksi Stuard. Bukankah, seharunya Stuard marah padanya. Tapi, kenapa ...
Scroll lagi iessss