
Saat masuk ke dalam ruangannya, Amelia menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita berdiri dekat mejanya.
Wanita itu membelakanginya. Tapi Amelia tahu, itu adalah Gisel, adik Gabriel.
Sejenak, Amelia terdiam. Jujur saja, jika berkaitan dengan keluarga Gabriel atau hal yang berkaitan dengan Gabriel. Rasanya ia merasakan sesak Bukan main.
Tapi ia sadar keluarga Gabriel tidak salah kepadanya. Bahkan jika tidak ada keluarga Gabriel, ia tidak akan jadi seperti ini dan Amelia dan ia tak akan sembuh dari traumanya.
Amelia menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Setelah itu, ia maju ke hadapan Gisel.
“Gisell!” Panggil Amelia, Gisell berbalik. kemudian tersenyum.
“Hai Kak,” ucap Giselle.
“Kenapa kau tidak menelponku dulu jika ingin kemari?” tanya Amelia. Namun Gisel menggeleng.
__ADS_1
“Kau pasti tidak akan mengangkat panggilan dariku,” jawab Gisell, membuat Amelia menggigit bibirnya. Selama ini ia memang menghindar dari keluarga Gabriel, ia bukan tidak tau diri, hanya saja ia selalu teringat tentang kekejaman Gabriel kepadanya.
Stuard dan keluarganya pun mengerti tentang sikap Amelia. Apalagi, dokter mengatakan walaupun Amelia sudah sembuh. Tapi, sedikitnya, trauma Amelia tetap ada.
“Tak apa-apa, aku mengerti,” jawab Giselle yang mengerti Bagaimana perasaan Amelia.
“Apakah ada hal penting hingga kau kemari?” tanya Amelia, Gisel menggeleng, kemudian ia menyerahkan paperbag di tangannya.
“Mommy membuatkan ini untuk kakak, Mommy bilang, lu Kakak suka sekali makanan ini,” ucap Gisel. Amelia mengambil paperbag dari tangan Gisella.
“Terima kasih, Gisel,” ucap Amelia.
Setelah pintu tertutup, Amelia mendudukkan diri di kursi. Ia membuka paperbag lalu mengambil kotak makan dan membuka kotak makan tersebut.
Tak lama, ia memeluk tubuhnya saat tiba-tiba bayangan menyakitkan itu menghantuinya, bayangan saat Gabriel berlaku kejam padanya.
__ADS_1
Amelia akan bereaksi tanpa sadar, setiap ia mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Gabriel, terkadang tiba-tiba, ia selalu merasa ketakutan, tiba-tiba tubuhnya merasa dingin atau panas, banyak lagi reaksi Amelia ketika teringat kekejaman Gabriel.
Amelia menghela nafas, kembali kemudian menghembuskannya berkali-kali. Ia mencoba menguasai diri dan setelah bisa tenang, Amelia membuka kotak makanan itu. Lalu memakannya.
Saat Amelia sedang mengunyah, ponsel di Sakunya berdering, Amelia merogoh saku kemudian melihat Siapa yang meneleponnya. Amelia memejamkan matanya, ketika nama Nick terpampang di layar, sudah dipastikan jika Kapten memanggilnya ia akan mendapat tugas yang berat. Sedangkan selama empat hari ini ia belum beristirahat sama sekali.
Amelia menghentikan acara makannya, kemudian mengangkat panggilannya.
“Baik saya akan ke sana,” ucap Amelia, Amelia mengambil botol minum, kemudian membukanya lalu meminumnya hingga tandas.
Setelah itu, ia kembali menutup kotak makannya lalu menyimpannya kembali pada paperbag dan bangkit dari duduknya untuk ke ruang meeting, karena di sana tim Amelia sudah menunggu.
“Kau lambat sekali,” ketus Nick saat Amelia masuk ke ruang meeting, sedangkan Amelia hanya menunduk. Selama 4 tahun ini ia sudah tak aneh dengan sikapnya Nick dingin dan selalu Ketus, hingga ia hanya bisa menunduk ketika Nick mengomelinya.
Setelah Amelia duduk, Nick mulai menyalakan monitor. Kemudian ia berjalan ke depan.
__ADS_1
“Seperti yang kalian tahu, aku mengumpulkan kalian di sini karena ada kasus yang harus kita usut,” ucap Nick, Ia langsung menekan folder dan setelah itu terpampanglah 1 foto di layar tersebut, dan ketika foto itu muncul, tiba-tiba tubuh Amelia langsung bergidik.
Scroll ga scroll ga? scroll lah masa enggak ngamook nih kalau ga komen