Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
170


__ADS_3

Ane tersenyum puas saat melihat berita di televisi tentang Zidan. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Zidan, ia bahkan harus mengalami sakit yang luar biasa karena di siksa oleh Zidan.


Ane tau, takan mungkin lagi mendapatkan Zidan atu membalas Zidan. Dan satu-satunya jalan adalah membiarkan Zidan hancur bersamanya. Ane yakin, media adalah hal yang paling mudah untuk menjadi media menghancurkan Zidan. Setidaknya, jika ia hancur, Zidan pun harus ikut hancur bersamanya.


Setelah puas menonton berita di televisi, Ane pun bangkit dari duduknya. Hari ini, ia ingin berbelanja sepuasnya karena ingin merayakan penangkapan Zidan.


•••


Setelah puas berkeliling-keliling. Ane pun memutuskan untuk menghentikan belanjanya dan pulang ka apartemennya.


Namun, matanya membulat sempurna saat masuk dan ia melihat tulisan di tembok.


"Kau selesai, Mariane!"


Melihat tulisan itu, tubuh Mariane bergidik. Ia menjatuhkan tas belanjaan yang sedang di pegangnya. Matanya menatap penuh waspada ke sembarang arah.


"Siapa di sana?" tanya Ane, tubuhnya gemetar saat mendengar suara bising dari arah kamarnya.


Anne menempati apartemen yang cukup terjamin keamanannya. Lalu kenapa sekarang, apartemennya bisa di masuki oleh orang lain.


...Lutut Ane gemetar, ia merasa kakinya tak berpijak...


...Tubuhnya mendadak lemas, kecemasam sudah pasti menghinggapinya.....


Tidak ... Dia tak boleh takut, dia tak boleh gentar. Lalu, ia terpikir untuk lari keluar dari apartemen untuk mencari pertolongan.

__ADS_1


"Diam di tempatmu, atau pistol ini akan membidik kakimu!" terdengar suara mengerikan dari arah belakang saat Ane akan berjalan ke arah pintu.


"Angkat tanganmu!"


Ane menurut, lalu berbalik ke arah belakang.


"Kau!" seru Ane saat melihat Audrey sedang tersenyum mengerikan padanya.


"Ia, ini aku. Kenapa? kau terkejut?" tanya Audrey. "Angkat tanganmu lagi, atau aku akan membidik kepalamu!" titah Audrey saat Ane menurunkan tangannya


Ane tersadar, ia masih berada di dalam masalah dan bahaya, hingga ia kembali mengangkat tangannya.


"A-apa, maumu?" tanya Ane dengan bibir bergetar.


Tanpa di perintah dua kali, Ane langsung menurut. Ia berlutut di hadapan Audrey dengan terus mengangkat tangannya. Sedangkan Audrey, ia langsung duduk di sofa tunggal dan menatap tajam pada Ane.


"Kemarikan ponselmu!" titah Audrey. Membuat Ane langsung mengangkat kepalanya dan menatap Audrey dengan tatapan tajam. Mana mungkin, Ane menyerahkan ponselnya pada Audrey, jelas-jelas di ponsel itu terdapat banyak rahasia yang Ane simpan.


"Tak masalah jika kau tak mau memberikannya. Tapi peluru ini akan bersarang di otakmu," ucap Audrey dengan santai. Tangannya memainkan pistol dengan santai, membuat tubuh Ane bergidik. Suasana di ruangan itu semakin mencekam kala Audrey menyalakan televisi.


Bukan saluran televisi yang tayang di televisi Ane, melainkan tayangan ketika Audrey dengan sadis menghabisi musuh-musuhnya dengan, rekaman itu di ambil ketika Audrey masih menjadi anak buah Mafia.


Audrey tak ingin menyiksa Ane dengan tangannya. Ia ingin menyerang Ane sacara mental.


Ane yang sedang berjongkok langsung terduduk lesu saat melihat tayangan di depannya. Di tayangan itu, Audrey bagai seorang psycopat, menghabisi lawannya dengan tenang.

__ADS_1


"A-apa, mau mu?" tanya Ane dengan terbata-bata. Tubuhnya di banjiri keringat dingin. Setelah melihat tayangan di depannya. Ane bahkan tak berani melihat Audrey.


"Pertama, kemarikan ponselmu!" titah Audrey. Namun, Ane masih tak bergerak, membuat Audrey memutar bola matanya.


"Bayangkan, jika kau berada di posisi itu!" tunjuk Audrey pada televisi yang masih menampilkan kekejaman seorang Audrey.


"A-ampuni, Aku," ucap Ane lirih, ia masih enggan memberikan ponselnya pada Audrey.


"Sepertinya kau ingin berada di posisi mereka," ucap Audrey lagi menekankan setiap ucapannya.


Tubuh Ane melemas, pilihannya hidup atau mati.


"Mariane!" teriak Audrey dengan lantang.


Dengan tangan gemetar, Ane merogoh tasnya dan mengambil ponsel dari tasnya, lalu menyodorkannya kedepan, membuat Audrey langsung bangkit dari duduknya dan mengambil ponsel Mariane.


"Kode ponselmu?" tanya Audrey


Setelah menyebutkan kode ponselnya. Audrey pun dengan segera mengutak-ngatik ponsel Ane.


Audrey tersenyum saat melihat rahasia yang di sembunyikan oleh Ane, rahasia itu ....


Dokter Bunga di sebelah udah update, ya. Masih ada tambahan extra part dua bab lagi.


Hate komen, blok 😎

__ADS_1


__ADS_2