
Beberapa bulan kemudian
“Baby, kau sedang membuat sarapan apa?” tanya Gabriel yang memeluk Amelia dari belakang. Seketika itu juga, Amelia langsung menghempaskan tangan Gabriel.
“Sudah kubilang,.jangan macam-macam,” ucap Amelia dengan ketus. Namun, wajahnya berseri-seri. Bukannya takut, omelan sang istri. Gabriel malah mencium pipi Amelia dari samping.
“Bilang saja jika kau ingin dipeluk lagi,” ucap Gabriel. Seketika Amelia berbalik, kemudian mengacungkan pisau ke arah Gabriel.
“Kau mau pisau ini melayang di perutmu!" ketus Amelia. Namun, Gabriel mengangkat bahunya acuh. Ia malah mencium bibir Amelia. Lalu setelah itu, meninggalkan area dapur membuat Amelia mengatupkan bibirnya, kemudian kembali berbalik.
Saat berbalik, diam-diam Amelia tersenyum. selalu setia seperti ini setiap pagi, Gabriel selalu memberikan perhatian yang tak terduga, walaupun terkadang ia gengsi menerima perhatian Gabriel.
Setelah mereka kembali berhubungan badan beberapa bulan lalu. Hubungan Gabriel dan Amelia sudah sedikit mencair. Sebenarnya, Amelia masih kerap bersikap ketus pada Gabriel. Tapi Gabriel tidak menyerah, Ia melakukan semuanya secara alami.
Walaupun Amelia tidak ingin disentuh lagi. Tapi, hubungan mereka sudah sangat mencair. Ia lebih senang dengan posisi seperti ini, di mana Amelia bersikap ketus dan bersikap jual mahal. Setidaknya Gabriel bisa mengejar istrinya.
__ADS_1
Sedangkan Amelia, ia masih belum bisa menerima Gabriel, karena ia belum yakin pada suaminya. Bagaimanapun, Gabriel sama sekali belum menyatakan cinta padanya dan Amelia juga sadar Gabriel takkan pernah mengatakan itu.
Sedangkan bagi Gabriel, ia tak ingin mengatakan cinta pada Amelia. karena ia takut Amelia akan menyangkanya pembual dan Gabriel lebih memilih menunjukkan cintanya dengan tindakan bukan dengan ucapan.
“Grisya, kau tunggu di mobil oke. Daddy akan menyusul sebentar lagi,” ucap Gabriel. Grisya pun menggangguk, sedangkan Gabriel kembali masuk ke dalam kemudian menghampiri Amelia yang sedang berada di kamar.
“Ya, Tuhan Gabriel kau mengagetkanku!” pekik Amelia ketika Gabriel memeluknya dari belakang.
“Baby, Ayo ikut saja ke kantorku. Aku tidak tenang meninggalkanmu disini sendiri!!” ajak Gabriel.
“Tapi sepertinya, wajahmu berbohong!” goda Gabriel lagi membuat Amelia mendengus. Lalu, ia kembali berbalik untuk membereskam meja riasnya.
“Ayolah, Baby. Rasanya, aku tidak tenang meninggalkanmu di sini sendiri,” ajak Gabriel lagi. Ini, bulan-bulan Amelia melahirkan. Amelia Sudah cuti dari kantor dan rasanya, Gabriel tidak tenang meninggalkan Amelia di rumah, walaupun di rumah ada pelayan karena memang mereka sudah pindah ke rumah tidak di apartemen lagi.
Tapi, entah kenapa, perasaan Gabriel sedari tadi merasa tak enak. Seandainya ia tidak akan menghadiri meeting, tentu ia lebih memilih tinggal di rumah menemani istrinya.
__ADS_1
” Aku ingin istirahat, kakiku juga pegal. Kau saja pulang lebih cepat,” ucapnya lagi, membuat Gabriel langsung mencubit dagu Amelia.
“Kau pasti tidak ingin lama-lama jauh dariku kan?” tanya Gabriel membuat Amelia, mencebikan bibirnya. Tapi, dalam hati ia mengiyakan ucapan Gabriel. Ia memang tidak ingin ditinggal lama-lama oleh suaminya.
“Ya sudah, aku pergi dulu,” ucap Gabriel. Ia langsung mencuri ciuman di bibir Amelia lalu langsung berlari keluar kamar.
Waktu menunjukkan pukul 11 siang, Amelia terus melihat kearah jam di dinding. Gabriel mengirim pesan, bawah ia sedang berada di perjalanan untuk pulang, karena meeting sudah selesai. Tapi, setengah jam berlalu Gabriel masih juga belum datang.
Amelia bangkit dari duduknya, kemudian ia berencana mengambil ponsel yang ia letakan dan berencana menelepon Gabriel. Tapi tak lama, ia menghentikan langkahnya kemudian memegang perutnya yang terasa sakit.
“Kiana!” teriak Amelia kepada kepala pelayan di rumahnya. kiana pun mendekat. “Nyonya!” pekik Kiana. “Kiana perutku sakit," ucap Amelia. Ia semakin meringis, wajahnya sudah pucat.
“Nona ada cairan keluar!” kaget Kiana. wajah Kiana pun sudah sangat pucat. “Tolong panggil suamiku. Sepertinya aku akan melahirkan.” Tiba-tiba nyeri yang dirasakan Amelia semakin dahsyat, Kiana pun sudah sangat panik.
••••
__ADS_1
Scroll