
Saat Briana terkulai, Regard mengusap wajah kasar. "Lusii!" panggil Regard pada istrinya. Pintu terbuka, sosok wanita parubaya berjalan dengan terpogoh-pogoh menghampiri Regard dan Briana.
"Urus putrimu! desak dia agar memberitau siapa yang menghamilinya," ucap Regard dengan sadis. Ia pun berlalu meninggalkan ruang kerjanya.
Lusi berjongkok, ia mengelus pipi Bri, bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya saat melihat pipi putrinya memar karena tamparan suaminya.
"Bri, bangun, Nak. Mommy tau kau hanya berpura-pura," ucap Lusi. Ia mengangkat kepala Bri dan menaruh kepala Bri di pahanya.
Bri membuka matanya, ia langsung mengubah posisinya menjadi menyamping, lalu memeluk perut sang ibu. "Mommy, ini sakit," ucap Bri sambil terisak. Ia menangis tersedu-sedu. Rasanya sungguh tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, menyayat dan begitu menyakitkan.
Saat orang lain, berkata ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Tapi, tidak bagi Bri. Mungkin, orang lain akan mengira bahwa Bri hidup dengan penuh kasih sayang dan bergelimang harta. Tapi nyatanya tidak seperti itu.
Sedari kecil, Bri hidup dari tekanan sang ayah, ia di tuntut untuk terus sempurna Dari segi penampilan, pendidikan dan lain-lain.
Jika Bri melanggar atau Regard kecewa pada Bri, Bri akan mendapat tamparan, hukuman kurung dan lain-lain. Bri pikir, ketika dia dewasa sang ayah akan menghentikan sikap otoriternya. Tapi Bri salah, sang ayah malah semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Regard bersikap keras pada Bri karena sedari awal, dia tak menginginkan Bri. Ia berharap Lusi melahirkan anak lelaki. Tapi yang terjadi, malah Briana lah yang lahir.
"Kau lebih baik jujur pada Daddy, Bri. Mommy tak ingin Daddy melukaimu," ucap Lusi sambil terisak. Ia ingin menolong sang putri. Tapi, jika ia membela Briana, Regard malah akan semakin beringas.
"Mommy!" Briana semakin terisak. Ia memeluk perutnya, rasa perih menjalar dalam dada.
"Ini menyakitkan, tapi aku baik-baik saja. Karena rasanya rasa sakit ini sudah tak asing menyapaku," Briana membatin, meresapi perih yang tak berujung.
Ia tak ingin Josh bertanggung jawab dengan terpaksa, karena ia tak ingin calon anaknya merasakan apa yang ia rasakan. Tak diinginkan dan tersiksa sepanjang hidupnya.
"Bagaimana, apa tugasmu sudah selesai?" tanya Stuard pada orang yang di telponnya..
"Tidak, jangan lepaskan anjing-anjing itu sekarang. Biarkan dia ketakutan terlebih dahulu," ucap Stuard lagi. Setelah mengatakan itu, Stuard pun mematikan ponselnya. Rahangnya terlihat jelas mengeras. Menahan amarah.
Seandainya ia bisa. Ia ingin sekali terbang ke Argentina dan menghukum bos sirkus yang dulu membuat istrinya gila dan membuang istrinya di hutan.
__ADS_1
Sebelum menikahi Simma, diam-diam, Stuard bertemu dengan Audrey dan juga Zidah, Stuard ingin tau lebih dalam tentang masa lalu Simma. Hingga ia menemukan fakta yang mengejutkan tentang istrinya.
Walaupun kejadian itu sudah lama, bahkan sebelum Simma bertemu dengannya. Tapi, Stuard tak bisa melepaskan orang yang telah menyakiti istrinya begitu saja. Lelaki itu harus mendapat balasan setimpal. Sayangnya ayah tiri Simma sudah meninggal hingga ia tak bisa membalaskan rasa sakit istrinya.
Begitu tau Simma masih mempunyai kaka, Stuard pun langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari kaka istrinya dan setelah di telusuri, terbyata kaka Simma menjadi polisi di Argentina. Stuard hanya menunggu waktu yang pas memertemukan Simma dan kakanya.
Pintu di ketuk, menyadarkan Stuard dari lamunannya.
"Dad, kau lama sekali," omel Simma saat masuk keruang kerja suaminya. Ia berjalan ke arah suaminya dan mendudukan dirinya di pangkuan Suard. Sedangkan Stuard merangkul tubuh istrinya dengan senanh hati.
"Apa anak Daddy ingin di jenguk oleh Daddy," ucap Stuard sambil mengelus perut Simma. Membuat Simma menggeleng
"Dad, aku ingin makana jepang. Pesankan un ...." Simma mengehentikan capannya saat melihat kertas meja kerja suaminya.
.
."Daddy, ini ....."
__ADS_1