Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
73


__ADS_3

Saat berjalan menuju apartemennya, Zayn meringis, karena merasakan sakit yang amat luar biasa, apalagi bagian punggungnya.


Ia pun terpaksa kembali ke apartemen dan mengunjungi Toni, nanti.


Saat Zayn masuk, ia mengernyit heran saat, tak ada Gia, namun televisi menyala.


Zayn pun melangkahkan kakinya, ke dapur untuk mencari Gia. Namun, Keningnya mengkerut karena Gia juga tak ada di dapur.


Seketika Zayn di landa kepanikan. Ia langsung berlari ke arah kamar, Zayn menghembuskan napas lega saat melihat ternyata Gia sedang berbaring.


Saat Zayn akan meninggalkan kamar lagi dan berniat pergi ke dapur untuk mengambil minum, ia melihat ada yang aneh dengan tubuh Gia yang sedang sedang berada di balik selimut. Ia bisa melihat jelas bahwa tubuh istrinya sedang bergetar.


Dengan perlahan, Zayn pun mendekat ke arah ranjang. Ia pun langsung menyingkap selimut yang membungkus Gia.


"Tolong!" teriak Gia ketika Zayn menyingkap selimutnya. Tubuh Gia semakin bergetar, ia bahkan tak berani membuka mata.

__ADS_1


Zayn yang terkejut dengan reaksi Gia, langsung duduk di ranjang. Ia menepuk tangan Gia dengan lembut.


"Gia, kau kenapa?" tanya Zayn.


Mendengar suara Zayn, Gia membuka matanya. "Za-zayn!" lirih Gia terbata-bata.


Zayn bangkit dari duduknya, ia merangkul pundak Gia dan membantu Gia untuk duduk.


"Kau kenapa?" tanya Zayn lagi. Tanpa sadar, Zayn merapikan rambut Gia yang menutupi pipi dan membawanya ke belakang telinga Gia.


"Za-zayn. Ta-tadi, ada yang datang, dia terus memencet bel, a-aku takut, Zayn, aku takut," lirih Gia dengan bibir bergetar.


Melihat Gia yang masih pucat, Zayn pun menggeser duduknya, ia membawa Gia kedalam pelukannya.


"Tenanglah, ada aku di sini," ucap Zayn. Ternyata menjauhi Gia tak ada gunanya, mereka tetap mengganggu Gia.

__ADS_1


"Za-zayn, a-aku ingin kembali ke apartemenku. A-aku takut berada disini sendiri," ucap Gia terbata-bata di dalam pelukan Zayn, tiba-tiba tangisnya luruh, tadi ia benar-benar merasakan takut yang amat luar biasa.


Zayn tidak membalas ucapan Gia, ia terus mengelus punggung istrinya, membiarkan istrinya tenang di dalam pelukannya.


Setelah di rasa Gia sudah cukup tenang, Zayn pun melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Gia dan mengecup kening Gia dengan penuh kasih sayang.


"Zayn a-apa kepalamu terbentur?" tanya Gia saat Zayn mencium keningnya, di tengah rasa takutnya ia merasa heran dengan perubahan Zayn yang tiba-tiba bersikap manis.


Zayn memutar bola matanya, meskipun ia menjelaskan apa yang terjadi pada Gia, istrinya takan mengerti, yang ada malah Gia akan terus bertanya.


Tanpa menjawab ucapan Gia, Zayn pun bangkit dari duduknya. "Tidurlah, ini sudah malam. Tak baik untuk calon anak kita," ucap Zayn. Tanpa mendengar lagi jawaban Gia, Zayn pun berjalan ke kamar mandi.


"Anak kita," lirih Gia, ia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi pada Zayn, tapi tiba-tiba hatinya menghangat saat mendengar Zayn mau mengakui anak yang sedang di kandungnya.


•••

__ADS_1


Zayn keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar, ia mengucuri tubuhnya dengan air panas, agar bisa merilekskan ototnya. Punggungnya begitu sakit dan perih, namun di depan Gia, ia berusaha baik-baik saja.


Scroll lagi ya


__ADS_2