Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
285


__ADS_3

Simma menggeleng saat Stuard mengajaknya tidur bersama. "Tidak, Stu. Aku di sini saja," jawab Simma, membuat wajah Stu meredup seketika. Sebegitu parah kah sikapnya kemarin hingga istrinya berubah seratus delapan puluh derajat.


Stuard langsung menaruh satu tangannya di kening, lelaki tampan itu terisak saat mendengar penolakan dari Simma, hingga Simma menghela napas.


Ia pun naik ke arah berankar dan merebahkan dirinya di samping Stuard, membuat Stuard menghentikan isakannya. Ia sedikit mengintip, lalu kemudian tersenyum samar. Ia hanya pura-pura terisak agar Simma mau mengikuti kemauanya.


Dan kini, pasangan suami istri itu kembali tidur bersama dengan posisi Stuard telentang dan Simma menghadap ke arah Stuad.


"Perutku sakit," ucap Stuard, membuat Simma menghela napas, ia mengangkat tangannya dan mengelus perut Stuard, membuat Stuard berbunga-bunga, di tengah rasa nyeri yang melandanya.


Seminggu kemudian


Hari ini, Stuard sudah diijinkan pulang, kondisinya sudah membaik dan ia hanya perlu beristirahat dengan cukup.


Seminggu di rawat, Simma mengurus Stuard dengan telaten, tapi sikap Simma pada Stuard masih seperti kemarin-kemarin. Sedikit dan irit bicara.


Sedangkan seminggu ini, Gabby dan Gabriel yang juga menemani Stuard masih tak mau berbicara pada Stuard.


Setiap Stuard mencoba mengajak Gabby dan Gabriel bicara kedua anak kembar itu malah menunduk. Mereka tak mau menatap Stuard. Mereka menghabiskan waktu dengan menonton televisi.

__ADS_1


Dan saat ini, mereka baru saja sampai di mansion Stuard. Awalnya, Gabby dan Gabriel tak mau di ajak kembali ke mansion Stuard. Bahkan, Gabriel dan Gabby lebih memilih tidur di cafe.


Simma mengerti apa yang di rasakan kedua anaknya. Ia memberi pengertian pada Gabby dan Gabriel, dan mengatakan akan kembali setelah memastikan bahwa kondisi Stuard membaik.


"Gabby ... Gabriel, kalian tunggu di sini. Mommy akan mengantar Daddy ke kamar," ucap Simma ketika ia akan mendorong kursi roda yang di naiki Stuard.


"Gabby ... Gabriel beristirahatlah di kamar kalian. Daddy akan meminta maid untuk membuatkan cemilan kesukaan kalian," ucap Stuard dengan lirih. Ia tau, Simma dan kedua anak-anaknya masih membangun pembatas yang nyata denganya.


"Kami tak punya kamar di sini, kamar kami ada di cafe." Untuk pertama kalinya, Gabriel membalas ucapan Stuard, dan jawaban Gabriel sukses membuat jantung Stu seperti tertusuk ribuan belati.


Stuard menghela napas saat mendengar jawaban Gabriel, ia sadar betul di banding Gabby, Gabriel lah yang paling kecewa padanya. Gabby masih mau menatapnya sedangkan Gabriel, sama sekali tak mau menatapnya.


Dengan pelan, Stuard turun dari kursi rodanya dan berjalan ke arah Gabby dan Gabriel. Ia menekuk kakinya dan menyetarakan dengan kedua anaknya.


"Daddy tau, Daddy salah karena tak menemani kalian saat hari ayah. Daddy menyesal Gabby ... Gabriel. Seandainya Daddy bisa mengulang waktu, Daddy takan pernah meninggalkan kalian. Daddy akan menemani kalian saat hari ayah. Sungguh, Daddy benar-benar minta maaf," ucap Stuard. Ia menarik kedua tangan Gabby dan Gabriel dan mengecupnya secara bersamaan.


Gabriel mengangkat kepalanya saat merasakan air mengenai permukaan kulitnya. Dan air itu adalah air mata sang ayah.


Gabriel menarik tangannya dari tangan Stuard, kemudian menarik tangan Gabby, "Gabby ayo kita ke kamar," ucap Gabriel. Rupanya, Gabriel sedikit luluh dengan apa yang di ucapkan sang ayah.

__ADS_1


Bocah kecil itu rupanya ingin menangis hingga ia mengajak Gabby ke kamar mereka. Ia selalu mengingat kata-kata Sturd, sebagai lelaki tak boleh menangis di hadapan orang lain agar orang lain tak menganggap lemah. Itu sebabnya, sekarang ia menarik tangan Gabby dan membawa Gabby ke kamar.


Bohong jika Gabriel tak merindukan Stuard. Nyatanya, ia begitu merindukan sang ayah. Namun, kejadian kemarin benar-benar membuat hatinya patah berkeping-keping. Namun rupanya, setelah barusan mendengar ucapan Stuard, hati Gabriel sedikit mencair hingga ia mau masuk ke kamar mereka.


••••


Stuard masuk keruang kerjanya untuk memeriksa sesuatu. Ia mendudukan dirinya, kemudian membuka laptopnya.


Ia memindahkan data-data di ponselnya ke laptopnya, kemudian memeriksanya. Ia masuk ke daftar telepon untuk memeriksa siapa saja yang menghubunginya.


Tak lama, kening Stuard mengernyit. saat melihat nomer istrinya ada di panggilan masuk. Bukankah istrinya meninggalkan ponsel saat keluar dari mansion. Tapi kenapa ...


Stuard mengklik dan memeriksa kapan istrinya menelpon. lagi-lagi, ia mengernyit saat melihat tanggal berapa istrinya menelponnya.


Ia mencoba mengingat-ngingat tanggal tersebut, tak lama ia mengingatnya. Simma menelponnya ketika dia sedang berada di Hawaii.


Stuard langsung menelpon Rain untuk menanyakan prihal telpon istrinya. Karena selama seminggu di Hawaii Stuard menaruh ponselnya di Rain, ia hanya memakai ponsel yang lain, yang ia gunakan khusus untuk masalah pekerjaan.


Saat mendengar ucapan Rain di sebrang sana. Mata Stuard membulat, Ia langsung mematikan panggilannya dan berlari untuk pergi ke kamar dan berbicara pada istrinya.

__ADS_1


Next bab Stu sama Simma baikan ya dengan cara yang berbunga-bunga wkwkw


Hate komen blok 😎


__ADS_2