
Satu minggu berlalu.
Hari ini, tepat satu minggu setelah Simma jujur pada Audrey. Satu minggu berlalu, Simma merasa hatinya sedikit plong karena sudah jujur pada Audrey.
Ia merasa tidak sendiri, setiap hari ... Audrey akan menelpon dan mengingatkan Simma agar Simma meminum vitamin dan susunya, serta bertanya apa Simma mengidam.
Setelah jujur pada Audrey, Simma bisa tertidur dengan lelap, tanpa harus ketakutan bagaimana jika Audrey tau tentang kehamilannya dan siapa ayah dari bayinya.
Waktu menunjukan pukul 11 siang, Simma yang baru saja datang ke caffe miliknya, mendudukan diri meja tamu, matanya menatap keluar dengan pandangan kosong.
Seminggu berlalu, hatinya begitu hampa. Awalnya, Simma membohongi diri, bahwa rasa hampa yang ia rasakan adalah karena hormon kehamilannya. Tapi, setiap Simma berpikir seperti itu, semakin hatinya sakit. Dan saat malam, ia menyadari semuanya dan jujur pada dirinya sendiri, bahwa ia merindukan Stuard.
Ia kerap membohongi dirinya sendiri, bahwa ia tak merindukan Stuard, padahal setiap di caffe, ia selalu menatap kearah pintu dan berharap Stuard datang ke caffenya.
Setiap malam, ia selalu melihat nomer Stuard di ponselnya, berharap nomer itu muncul memanggilnya, saat ia tak jujur pada dirinya sendiri, saat itu pula kesakitan dan hampa menerpanya, hingga di titik Simma menyadari semuanya, bahwa ia merindukan pria itu, bahwa ia merindukan kehadiran Stuard, bahwa ia ingin melihat pria itu.
Simma memang sedikit menyesal karena menolak kehadiran pria bermata manik biru tersebut, ia menyesal telah menolak Stuard, seharusnya ... Ia memberi Stuard kesempatan untuk membuktikan ucapannya.
__ADS_1
Tapi, semua sudah terjadi. Semenyesal-menyesalnya Simma, ia sadar ... Waktu tak bisa di ulang, ia sudah meminta Stuard untuk tak datang lagi dan ia harus menerima keputusannya sendiri.
Setelah sekian lama terududuk dan melihat ke arah jendela, Simma pun terpikirkan sesuatu. Sepertinya ia harus menyegarkan matanya dengan berbelanja di mall, dan sekalian untuk belajar memberanikan dirinya dan mengendalikan dirinya agar ia bisa pulih dari gangguan paniknya.
Setelah menaiki taxi ... Akhirnya, Simma pun sampai di sebuah Mall, ia meremas kedua tangannya karena gugup. Lalu setelah lama terdiam, Simma pun kembali meneruskan langkahnya untuk masuk.
Ia sama sekali tak ingin membeli barang untuk dirinya, ia pergi ke mall, untuk membeli pakaian kedua calon anaknya. Tak masalah, jika usia kandungannya masih muda, ia hanya ingin mengumpulkan semuanya sedikit demi sedikit.
Setelah masuk ke store pakaian bayi dan memilih beberapa pakaian, Simma pun keluar dari store tersebut dengan senyum mengembang karena ia berhasil mengendalikan gangguan paniknya ketikaa ia berbicara pada kasir.
Saat keluar dari Store, langkahnya terhenti saat melihat Josh dan Bri yang datang dari arah sebrang, sepertinya mereka akan berbelanja. Tapi apa perduli Simma. Ia sudah tak perduli lagi pada lelaki itu.
Lalu tak lama, mata Josh turun pada perut Simma yang sudah sedikit membesar. Tiba-tiba, hati Josh menjadi tak nyaman saat melihat perut Simma yang sudah sedikit membuncit.
Simma meneruskan langkahnya, hingga mereka berpapasan. Sedangkan Briana yang berada di sebelah Josh sama sekali tak melihat ke arah Simma.
•••
__ADS_1
Setelah mengantar Bri berbelanja, Josh kembali ke kantornya, ia berusaha fokus pada pekerjaannya. Namun, ia tak bisa pikirannya melayang memikirkan Simma.
Kenapa perut Simma membesar, kenapa Simma keluar dari store pakaian anak dan bayi, pikiran-pikiran itulah yang berkecamuk dalam hati Stuard.
Tak lamaa ia teringat dengan ucapan Zidan seminggu yang lalu.
"Lalu bagaimana jika kau berada di posisiku saat itu, saat kau tak menyadari bahwa ada darah daging yang menunggumu dan menanti kehadiranmu."
Tiba-tiba dada Josh terasa sesak kala ia menyadari ucapan keponakannya. "Apa, Simma telah mengandung anakku," ucap Josh lirih dengan bibir bergetar. Kakinya tiba-tiba terasa lemas saat menyadari semuanya.
Maafken mau up malem, eh ktidran wkwkw
Spoiler next bab.
Simma melempar bantal pada Stuard saat Stuard diam-diam masuk ke kamarnya dan mencium keningnya. Simma mengamuk pada Stuard dan saat Stuard akan pergi dari kamarnya, Simma memeluk Stuard dari belakang, ia terisak.
"Kenapa kau jahat sekali, Stu. Apa selama ini kau tak tai bahwa aku menunggumu! harusnya kau rayu aku bukan mengikuti perintahku!" ucap Simma sambil terisak membuat Stuard terdiam, secara tidak langsung Simma menyatakan perasaanya, stuard pun berbalik dan ....
__ADS_1
Hate komen blok 😎