Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
280


__ADS_3

Di dalam mobil Stuart menangis tergugu, terngiang-ngiang ucapan anak kembarnya.


Ia tak menyangka, sikapnya akan sangat berdampak pada Gaby dan Gabriel. Ia menyesal sungguh menyesal. Rasanya hatinya begitu nyeri saat saat Gaby dan Gabriel menganggapnya membenci mereka.


Tiba-tiba pikirannya melayang pada seminggu yang lalu saat Gaby dan Gabriel meminta ia untuk datang ke sekolah merayakan hari ayah ia mengusap wajah kasar saat menyadari itulah titik ia sangat menyakiti kedua anaknya


Stward masih terdiam di mobil, matanya terus melihat ke arah cafe Sima. Setelah mengikuti Sima dari supermarket ia teringat bahwa ia menyimpan kunci cadangan kafe Sima di kantornya.


Iya menelpon Rain, supaya Rain membawa kunci itu. Iya tak perduli walaupun Sima tak mengizinkannya untuk berbicara. Tapi, ia tak bisa menahan nya lagi.


Iya harus berbicara sekarang juga pada istrinya. Meminta maaf ada Sima pada kedua anaknya. Bersimpuh atau berlutut akan ia lakukan agar istri dan anaknya kembali ke pelukannya. Iya takkan sanggup jika sampai Simma tak memaafkannya dan pergi membawa kedua anaknya.


Tak lama jendela mobil diketuk oleh Rain, Stuard tersadar dan menghapus air matanya, kemudian membukanya.

__ADS_1


Setelah menerima kunci dari Rain, Stuard turun dari mobil. Perlahan, Ia membuka cafe Sima dengan sangat pelan agar Sima Tak Mendengar bahwa ia masuk.


Saat ia masuk terdengar suara derap langkah dari atas, ia tahu bahwa itu adalah istrinya.


Mata Stuard kembali membasah saat matanya dan mata Simma saling beradu pandang.


Se-stu, ke-kenapa kau bisa masuk?" tanya Simma dengan terbata-bata.


Stu maju ke arah Simma, ia langsung berlutut dan memegang kaki Simma.


"Stuard jangan begini. Jangan rendahkan dirimu hanya demi wanita hina sepertiku!" kata Simma, air mata mengaliri wajah cantiknya saat Stuard berlutut.


Deg

__ADS_1


Mendengar ucapan Simma, jantung Stuard seperti akan melompat dari ronga dadanya. Selama menikah, Stuard selalu berusaha membuat Simma percaya diri dan tak mengingat lagi traumnya. Tapi, sekarang ia sendiri yang melemparkan istrinya kembali pada masa lalunya.


Stuard melepaskan pelukannya dari kaki Simma. Tangisnya masih luruh membasahi wajah tampannya. Ia menarik tangan Simma dan mengusapnya. "Ampuni sikapku, Sayang. Maafkan aku," lirih Stuard. Stuard berbicara dengan berlinang air mata.


Perlahan, Simma menarik tangannya dari tangannya Stuard. Ia menghapus air matanya lalu tersenyum. Hati Simma remuk redam, tangis Stuard sama sekali tak menyentuh hatinya. Yang ada, hanya rasa sesak yang tak berujung.


"Stuard ayo bicara!" ajak Simma, membuat tubuh Stuard melemas. Tadi, ia ingin sekali berbicara dengan istrinya. Tapi, saat Simma yang mengajaknya bicara, Stuard di hinggapi kepanikan. Ia tau dan ia sudah menebak apa yang akan Simma bicarakan.


Dan kini, sepasang suami istri yang saling terluka itu duduk berhadap-hadapan. Simna dan Stuard sama-sama menunduk, mereka sedang menyelami perasaan yang berkecamuk dalam dada masing-masing.


"Sayang!" panggil Stuard, Simma mengangkat kepalanya, lalu tersenyum. Sungguh, saat ini ... Stuard sangat takut melihat senyuman istrinya.


Stuard menarik tangan Simma dan menggemnya dengan keras agar Simma tak menariknya lagi.

__ADS_1


"Sayang, aku tau. Aku salah. Aku telah meninggalkan kalian, mengabaikan kalian dan seminggu ini tak memberi kabar pada kalian ... Ampuni Aku, Sayang. Maafkan aku," lirih Stuard. Ia menciumi tangan Simma, berharap Simma luluh.


Scroll lagi iesss


__ADS_2