
Setelah Simma menjatuhkan ponsel Stuard, ia langsung berjongkok untuk mengambil kembali ponsel suaminya.
Dengan tangan gemetar, Simma memeriksa semua pesan di ponsel Stuard satu persatu. Tangisnya luruh saat mengetahui apa yang sudah di lakukan oleh Stuard.
Ia melemparkan ponsel Stuard ke ranjang, lalu berjalan dengan cepat ke arah kamar mandi.
"Daddy, buka!" teriak Simma saat pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Ia terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Stuard yang sedang berdiri di bawah kucura shower langsung mematikan showernya karena mendengar pintu di gedor. Ia memakai handuk dan berjalam dengan cepat karena mendengar suara sang istri berteriak.
"Sayang ada ap ...." perkataan Stuard terputus saat Simma langsung memeluk tubuhnya. Simma menangis dan memeluk Stuard begitu erat.
Entah bagaimana lagi cara Simma harus berterimakasih dan bersyukur ketika mendapat suami sesempurna Stuard.
Tak di pungkiri, terkadang ia selalu merasa curiga pada Stuard. Curiga jika Stuard hanya berpura-pura menyayangi dirinya. Simma hanyalah manusia biasa, ragu dan curiga itu adalah prasaan alamiah. Apalagi jika mengingat dirinya hanya wanita biasa dan mengandung anak orang lain.
Tapi saat membaca semua pesan tentang perintah Stuard pada anak buahnya. Rasa curiga dan ragu Simma musnah seketika, di titik ini, Simma merasa bersalah pada suaminya karena diam-diam ia masih belum merasa yakin pada Stuard.
Ia benar-benar tak menyangka jika suaminya mencintai dirinya sehebat ini. Lelaki yang sedang di peluknya ini rela menghabiskan waktu untuk menghukum orang yang dulu membuat ia menderita bahkan bersusah payah mencari kakanya.
"Sayang ada apa?" tanya Stuard dengan panik saat mendengar Simma terisak. Ia berusaha melepaskan pelukan Simma. Namun, Simma malah memeluknya semakin erat.
"Sayang ada apa!" Kali ini Stuard benar-benar berusaha melepaskan pelukan Simma, ia benar-benar panik saat istrinya terus menangis sesegukan. Padahal, tadi istrinya baik-baik saja.
"Hei, Sayang lihat aku," titah Stuard saat Simma malah memejamkan matanya sambil menangis sesegukan.
Stuard mengusap wajah kasar saat istrinya masih menangis. Dengan sekali gerakan, ia mengodong Simma dan mendudukannya di meja marmer.
__ADS_1
"Sayang, jangan membuatku takut. Ada apa denganmu?" tanya Stuard. Ia menahan kedua tangan Simma saat Simma terlihat akan menutupi wajah dengan tangannya.
"A-Aku, Ma-malu, A ...." Huaaa Simma kembali menangis. Dan kembali memeluk Stuard, membuat Stuard pun ingin menangis karena istrinya membuatnya bingung.
Stuard mengaitkan kedua kaki Simma kedalam pinggangnya, lalu menggendong Simma seperti koala menggendong bayinya. Ia berjalan membuka pintu dan keluar dari kamar mandi, lalu mendudukan dirinya di sofa dan Simma duduk di pangkuannya.
Sudah sejam berlalu, Stuard dan Simma masih berada di posisi yang sama, Simma masih memeluk leher Stuard sambil terisak, sedangkan Stuard masih setia mengelus punggung istrinya, membiarkan Simma tenang walaupun tangannya pun sudah pegal.
Dan setelah Simma lelah menangis, ia pun melepaskan pelukannya dan menatap Stuard dengan berderai air mata.
"Kau membuatku takut, Sayang. Ada apa denganmu?" tanya Stuard. Ia mengelus air mata Simma dengan ibu jarinya.
"Da-Dad, ma-maafkan, a-aku ...." isak Simma.
"Maaf untuk apa?" tanya Stuard.
"Te-terkadang a-aku me ...."
"Dari mana kau tau?" tanya Simma seketika isakannya berubah menjadi rasa terkejut.
Stuard tergelak, ia menyadari yang terjadi dengan istrinya ketika barusan ponselnya berbunyi. Biasanya ia selalu menghapus semua pesan. Tapi tadi, ia lupa menghapusnya. Dan ketika barusan ponselnya berbunyi, Stuard tersadar bahwa mungkin, istrinya sudah membaca semuanya.
Stuard menghela napas, ia menghapus air mata Simma.
"Perkenalan kita begitu singkat. Aku yakin, jika wanita lain ada di posisimu, mereka akan merasakan perasaan yang sama sepertimu ...."
"Aaaaa!" Stuard menghentikan ucapannya saat Simma mencubit pipinya begitu keras.
__ADS_1
"Tak ada yang boleh menggantikan posisiku di sampingmu!" protes Simma di tengah tangisannya, membuat Stuard ingin sekali menangis dan tertawa secara bersamaan.
"Itu hanya perumpaan cintaku!" jawab Stuard.
"Kau membaca semua pesan di ponselku?" tanya Stuard. Seketika Simma menunduk. "Maaf, aku tak sengaja," jawab Simma yang merasa bersalah karena membuka privasi Stuard
"Its oke, Darling. Tak ada yang aneh-aneh di ponselku. Kau boleh membuka apa pun yang kau mau," jawab Stuard. "Aku tak bisa menjelaskan apa pun padamu. Tapi kau bisa menganggap bahwa aku akan membalas orang yang sudah melukaimu, yang sudah membuatmu hancur ...."
"Daddyy ...." Untuk kesekian kalinya, Simma kembali menangis kencang karena mendengar ucapan Stuard.
"Sayang kau harus menunda acara menangismu. Tanganku pegal jika harus mengelus punggungmu lagi," goda Stuard sambil tertawa dan membuat Simma kembali menangis.
"Apa kau ingin bertemu kakamu secepatnya?" tanya Stuard setelah Simma tenang.
Simma reflek menggeleng. Membuat kening Stuard mengkerut dalam. "Kenapa!"
"Aku membencinya, Dad. Sampai kapan pun aku takan pernah lupa atas ucapannya. Sebelum dia pergi, dia mengatakan hal yang sangat menyakitkan, sampai sekarang, aku benar-benar tak bisa melupakannya. Bahkan, ucapannya lebih pedas dari pada ucapan Josh."
"Dia berbicara apa padamu, Sayang?" tanya Stuard.
Simma ....
Spoiler next bab
Anak kecil itu memandang kedepan kemudian ia tersenyum saat melihat anak sebayanya bermain. Ia melihat kakinya, lalu tatapannya berubah sendu saat melihat kakinya tak sejajar alias panjang sebelah.
Tak lama, terdengar suara klakson. Anak kecil itu langsung memakai maskernya dan mengambil tongkat dari sampingnya, kemudian bangkit dan berjalan dengan terseok-seok lalu ke arah mobil. Beberapa kali ia hampir terjatuh, namun ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya, karena ia sadar, jika ia jatuh takan ada yang menolongnya.
__ADS_1
Hate komen blok 😎.
Spoiler itu buat di next bab ya. Awas aja kalau pada bilang ga nyambung,😎😂🤣 tetep nyambung ya sayang ini hanya cuplikan. Anak kecil itu bukan Simma ya wkwkw