Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
218


__ADS_3

Setelah melewati Josh dan Briana, Simma langsung berjalan ke arah kamar mandi. Seperti biasa, perutnya langsung bergejolak saat melihat Josh. Semua makanan yang ia sudah makan langsung keluar kembali.


Setelah mengeluarkan isi perutnya, Simma terduduk lesu di toilet. Ia menyenderkan kepalanya ke samping, rasanya ia tak mempunyai lagi tenaga.


"Jangan membenci Daddy kalian, Sayang. Cukup mommy saja yang membenci Daddy kalian," ucap Simma sambil membelai perutnya.


Walaupun nantinya, Josh tau tentang kedua anak mereka dan tak mengakuinya. Simma tak ingin kedua anaknya membenci Josh, karena walau bagaiamana pun, Josh tetaplah ayah mereka.


Cukup Simma saja yang membenci Josh, ia tak ingin hidup kedua anaknya penuh kebencian.

__ADS_1


Setelah tenaganya sedikit pulih, Simma pun bangkit dari duduknya. Ia pikir, ia perlu mengisi perutnya lagi. Walaupun sedikit gugup dan takut, Simma memutuskan untuk makan di restoran yang ada di mall tersebut.


Saat masuk ke restoran, Simma di hinggapi kepanikan karena restoran cukup ramai. Tapi walau begitu, ia berhasil melewati rasa paniknya dan langsung memesan meja.


Setelah memesan, Simma membuka paperbag yang berisi pakaian bayi yang telah ia beli. Ia tersenyum, rasanya ia tak sabar menunggu bayinya lahir ke dunia.


Saat makanannya tiba, kening Simma mengernyit heran saat steak yang ia pesan sudah di potong-potong. Namun, ia juga tersenyum saat melihat steak tersebut. Padahal, sedari tadi ia sudah bingung bagaimana memotong steak karena tangannya gemetar akibat gangguan paniknya.


Namun, saat ia akan menyuapkan steak ke mulutnya, Simma menghentikan gerakannya. Saat menyadari sesuatu, ia melihat piringnya lekat-lekat. Tiba-tiba, jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat saat mengingat bahwa Stuard sering memotong steak untuknya dengan posisi daging dan jumlah potongan yang sama seperti steak di piringnya sekarang.

__ADS_1


Ya, selama seminggu di kurung di mansion stuard, tanpa sengaja Simma selalu melihat bagaimana cara Stuard memotong steak dan potongan steak di piringnya sekarang, sama percis dengan yang biasa Stuard lakukan.


Seketika Simma menoleh kesana kemari untuk mencari Stuard dan membuktikan firasatnya. Tak lama, mata Simma membulat saat melihat Stuard memang ada di restoran tersebut dan duduk tak jauh dari tempatnya.


Sejenak, hati Simma menghangat saat melihat Stuard dan berpikir Stuard masih perduli padanya. Namun, tak lama dadanya terasa sesak kala ia melihat wanita yang berada di sebelah Stuard.


Terlihat jelas Stuard begitu akrab dengan wanita itu, Simma tersenyum getir saat melihat wanita yang berada di samping Stuard, begitu cantik dan begitu glamour, berbeda dengan dirinya. lagi-lagi, ia harus menerima rasa sakit ketika ia mengetahui bahwa ia kembali di permainkan oleh seorang lelaki, dan Simma harus terjatuh di kesakitan yang sama dari pria yang berbeda.


Ia melihat steak di piringnya, ternyata khayalannya terlalu tinggi. Tak mungkin, Stuard yang memotong untuknya. Seketika rasa lapar yang di rasakan Simma, hilang seketika. Kenapa melihat Stuard bersama wanita lain sungguh menyakitkan. Padahal, ia sendiri yang menyuruh Stuard menjauhinya.

__ADS_1


Simma tak ingin berpikir lagi tentang Stuard, ia harus bisa menghilangkan bayang-bayang Stuard. Ia pun kembali menyuapkan sesuap demi sesuap steak di piringnya dengan tak bersemangat, hatinya mendadak hampa, ia hanya ingin pergi secepatnya dari restoran tersebut.


Scroll lagi iesss


__ADS_2