
"Wah!" mata Zidan berbinar rakjub saat melihat miniatur di dalam ruangannya. Yang membuat Zidan takjub, miniatur itu bukan ukuran kecil, melainkan ukuran besar.
Ia pun kembali berbalik dan melangkahkan kakinya untuk keluar dan menyusul kakanya ke ruangannya.
"Apa?" tanya Zayn saat Zidan membuka ruangannya.
"Zayn, aku sungguh ingin memelukmu," ucap Zidan, sangking bahagianya, ia berjalan sambil merentangkan tangannya seolah ia ingin memeluk Zayn.
"Kau membuatku merinding," seru Zayn."Stop, tetap diam di tempatmu!" ucap Zayn lagi sambil bangkit dari duduknya. Ia bergidik melihat tingkah sang adik.
Zayn pun melangkahkahkan kakinya dan duduk di sofa. Diikuti Zidan yang mendudukan dirinya di depan Zidan.
"Leo akan ikut liburan," ucap Zayn.
"Kau serius?" tanya Zidan dengan berbinar.
"Tapi ...."
Zidan yang sedang bersorak karena Leo takaj di titipkan padanya langsung menghentikan euporianya. Ia memandang Zayn lekat-lelat. Firasatnya mendadak tak enak kala sang kaka berkata tapi.
"Tapi, apa?" tanya Zidan.
"Kau yang harus pergi ke Bali untuk mewakilili perusahaa," ucap Zayn.
__ADS_1
"Bali?" ulang Zidan. Zayn pun mengangguk.
Seketika, Zayn dan Zidan saling pandang, pikiran mereka kompak mengingat saat tragedi di Bali yang melibatkan Gia.
"Isshh!" desis Zayn dan Zidan secara bersamaan. Rupanya mereka sama-sama kesal saat mengingat tragedi di bali yang melibatkan Gia.
"Kau direktur utamanya. Kenapa aku yang harus pergi," jawab Zidan dengan sewot.
"Karena aku pemimpin, jadi aku bebas memerintah siapa pun bukan," jawabnya dengan seringai mengejek ke arah Zidan, membuat Zidan berdecak kesal.
"Proyek kita yang di Korea bekerja sama dengan perusahaan milik Josh. Jadi aku akan menjadikan sekretaris Josh menjadi sekretarisku," ucap Zidan, tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Josh yang akan mengirim Audrey menjadi sekretarisnya.
Padahal, Audrey belum setuju. Namun, Josh dengan percaya dirinya berkata bahwa Audrey sudah siap menjadi sekretaris Zidan.
"Itu lebih baik," jawab Zayn.
"Setelah kau pergi ke Bali, aku akan memberimu cuti seminggu," jawab Zayn
"Ben ...." Zidan yang akan bersorak karena senang di berikan jatah cuti kembali menetralkan ekpresinya.
"Dua minggu!" tawar Zidan.
"10 hari," jawab Zayn lagi.
__ADS_1
"Dua minggu," kata Zidah kekeh.
"10 hari atau tidak sama sekali."
"Ishh! ... Baiklah! Awas saja jika kau merubah keputusanmu lagi." Setelah mengatakan itu, Zidan pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar ruangan kakanya
•••
"Bagaimana?" tanya Josh, ia sungguh harap-harap cemas menanti keputusan Audrey.
Audrey masih larut dalam pikirannya. Jika di pikir, selama ini ia bekerja dan menghidupi Kelly dari perusahaan Josh. Dan juga benar kata Josh, ini murni karena pekerjaan. Jika bukan karena pekerjaan, bisa saja, Josh memberitau tentang Kelly pada Zidan.
"Baiklah, Josh! Aku akan menerima tawaran menjadi sekretaris Zidan. Tapi, dengan syarat ...." Audrey menghentikan ucapannya untuk melihat reksi Josh.
"Syarat apa?" tanya Josh.
"Aku menjadi sekretarisnya hanya saat proyek ini berjalan. Kau mengerti, kan, maksudku?" Tanya Audrey, seketika Josh pun mengangguk, dan menghembuskan napas lega. Tahap pertama selesai, sekarang bagaiamana caranya mendekatkan Kelly pada Zidan.
••
Audrey menghela napas berat saat dirinya menatap gedung di depannya. Kenapa rasanya begitu berat melangkahkan kakinya ke dalam gedung tempat barunya bekerja.
Ya, saat ini, ia sedang berdiri di depan perusahaan Smith company.
__ADS_1
"Nona Audrey," sapa Zidan dari arah belakang.
Audrey ....