Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
241


__ADS_3

"Dad, ayolah satu lagi," pinta Simma. Stuard yang sedang berada di belakang tubuh istrinya malah memberikan ciuman sebagai jawaban


Saat ini, mereka sedang berendam di bathube, tentu saja mereka baru saja menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan. Seperti biasa, Simma selalu meminta pada Stuard untuk memiliki anak lagi.


"Bukankan kita sudah membahas ini berkali-kali, Baby?" jawab Stuard. Ia menyingkirkan rambut yang menutupi leher, lalu bermain di leher Simma hingga membuat Simma memejamkan matanya.


"Ayolah, Dad. Aku yakin, kejadian dulu takan terulang lagi," jawab Simma.


"Seribu kali kau meminta, jawabanku akan tetap sama, Darling," jawab Stuard. Trauma Stuard begitu besar, hingga ia tak ingin mengambil resiko.


Bagaimana tidak, dulu, saat istrima melahirkan Gabby dan Gabriel, Simma mengalami pendarahan hebat saat operasi. Bahkan, Simma sempat koma selama seminggu dan itu menjadi trauma terberat bagi Stuard. Hingga ia memutuskan tak akan mengiijinkan lagi istrinya mengandung. Toh, kehadiran Gabby dan Gabriela saja sudah cukup untuknya. .


"Ayolah, Dad," belas Simma.


"Gabriel dan Gabby saja sudah cukup, Sayang," jawab Stuard lagi. Membuat Simma cemberut. Lalu menyenderkan kepalanya kebelakang. Hingga mengenai dada Stuard, ia langsung menoleh ke arah Stuard dengan cemberut.


"Ingin lagi, hmm?" tanya Stuard sambil mengusap bibir istrinya yang sedang cemberut.

__ADS_1


"Ishh!" desis Simma. Ia menegakan tubuhnya, lalu bangkit dan berbalik hingga posisi meraka kini berhadap-hadapan.


•••


Briana mengendarai mobil dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sakit saat putri terus menolak untuk membeli cake. Setiap tahun, Briana tak menemani momen berharga putrinya. Ariana pun tak banyak menuntut. Ia hanya meminta hadiah minta diijinkan untuk main ke taman sendiri, seperti hari ini.


Ariana begitu malang, sejak usia 3 tahun, dia sudah hidup di paviliun belakang, Briana hanya menemani Ariana sesekali. Banyak faktor yang membuat Briana tak bisa lepas dari Josh. Salah satunya, adalah sang ayah.


Dulu, Briana nekad bekerja lagi sebagai dokter kandungan, ia hanya ingin mempunyai uang untuk tinggal berdua bersama anaknya. Ia menitipkan Ariana pada pengasuh. Namun, apa yang terjadi. Pengasuh itu malah mencoba mencelakakan Ariana karena perintah sang ayah. Dan sejak saat itu, Briana sadar, ia tak punya pilihan lain, selain pasrah dengan apa yang terjadi di hidupnya dan putrinya.


Briana berontak? tentu dia murka. Ia tak terima jika di pisahkan dengan sang putri. Tapi, ia tak berdaya. Pilihannya hanya mengungsikan Arian ke Paviliun atau ke panti asuhan. Ia bisa saja kabur dari sang ayah sambil membawa putrinya, tapi ia tau, sang ayah akan menemukanya. Dan akan melakukan hal buruk bagi putrinya.


Sejak tinggal di paviliun, Ariana hanya di temani suster, Regard berjanji takan mencelakai Ariana lagi, hingga Briana hanya bisa pasrah.


"Ariana, bagaimana jika Aunty membuatkan puding, lalu kita bisa menaruh lilin di tengah-tengah puding, agar kita bisa merayakan ulang tahunmu," ucap Briana lagi saat mereka sampai di depan mansion.


"Tidak, Aunty. Aku benar-benar ingin tidur lebih awal," dustanya. Ia hanya tak ingin kejadian seperti dulu, di mana Regard memarahinya dan memarahi Briana hanya karena mereka merayakan ulang tahun bersama.

__ADS_1


"Aunty, mobil uncle Josh dan mobil tuan Regard sudah datang. Mereka akan memarahi Aunty jika tau Aunty menjemputku. Jadi biarkan aku turun terlebih dahulu," ucap Ariana dengan senyum yang mengembang, seolah tak ada beban membuat dada Briana benar-benar sesak.


Ariana pun turun dari mobil dengan perlahan, lalu ia mulai berjalan, dan menuju Paviliun, awan mulai mendung, Ariana berjalan dengan cepat karena takut hujan akan segera turun.


Saat ia akan berbelok, ia melihat ke balkon di mana Josh sedang berdiri melihat ke arahnya, Saat mata Ariana dan Josh saling memandang, Ariana langsung menundukan pandangannya. Lalu meneruskan langkahnya. Karena pada nyatanya, hatinya begitu nyeri, ketika sang ayah menatapnya dengan tatapan benci


Briana menangis tergugu saat melihat langkah sang putri yang terseok-seok. Batinnya perih, amat perih.


•••


Saat masuk ke paviliun, Ariana mengernyitkatkan keningnya saat melihat sebuah kotak dan di atasnya tertulis. "Selamat ulang tahun, Sayang."


"Terimakasih, Nancy," lirihnya. karena setiap tahun, sang pengasuh tak pernah absen memberikan kado untuknya.


Satu bab lagi menyusul ya 😊


hate komen blok😎

__ADS_1


__ADS_2