
Mata Gia terbelalak saat melihat Zayn ada didalam kamarnya. Gia mundur, selangkah-selangkah hingga dia menabrak dinding. Dia masih terpaku menatap Zayn yang sedang menyeringai padanya.
Tubuh Gia menengang, dia masih terpaku menatap Zayn.
"Kau sudah datang?" tanya Zayn. Dia menikmati ekpresi Gia yang terkejut. Tentu dia tau apa yang sedang ada di dalam pikiran Gia.
"I-ia, Tuan." Jawab Gia terbata-bata. Pikiran Gia sudah melanglang buana, Ia memejamkan mata, merasa takut jika akan ada yang terjadi.
"Kenapa kau berdiri di situ, masuklah!" titah Zayn, sungguh dia benar-benar gemas dengan reaksi Gia, seumur hidupnya dia selalu berteman dan melihat wanita yang matang dan dewasa. Tapi, berbeda dengan Gia, Di mata Gia, Zayn amat menggemaskan.
Gia masih diam mematung di tempat. Ia memejakan matanya, menahan gugup dan ketakutan.
Zayn yang tau bahwa Gia sedang gugup, tetap memertahankan sikap santainya.
"Nona Gia!" panggil Zayn lagi.
"Tu-tuan, kenapa anda bisa di sini?" Kali ini Gia tak bisa menahan dirinya untuk tetap bertanya.
"Aku menunggumu, kamarku di sebelah. Aku menunggumu karena harus berbicara dan menyerahkan sesuatu padamu," jawab Zayn.
__ADS_1
"Masuklah! waktuku tidak banyak." Zayn masih menikmati sikap Gia yang gugup.
Gia menghela napas legi, ia berdehem menetralkan kegugupannya. Ternyata kekhawatirannya sia-sia. Zayn hanya ingin berbicara dengannya.
Ia pun melangkahkan kakinya dan berjalan kearah sofa yang di tempati Zayn.
"Duduklah!" titah Zayn, saat Gia tak kunjung duduk.
Gia pun mengangguk ragu, dan langsung duduk di hadapan Zayn.
"Maafkan aku telah menyuruh mu kemari secara mendadak. Kau pasti sudah tau, kan dari Mark untuk apa aku memanggilmu kemari?" tanya Zayn. Ia berbicara seolah semua kebetulan. Padahal, ia telah merencanakannya secara matang. Ia kembali menatap Gia karena Gia tak kunjung menjawab.
"I-ia, Tuan. Saya tau."
"Bagus ... di dalam sini ada gaun yang akan kau kenakan untuk menemaniku. Dan sebelum pergi akan ada tim juga yang akan membatu mu bersiap," ucap Zayn. Sejenak, ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kalau begitu, semua sudah selesai, aku pergi!" pamit Zayn. Ia pun bangkit dari duduknya.
Melihat Zayn yang sudah bangkit, Gia pun refleks bangkit dan menunduk hormat pada Zayn.
__ADS_1
Setelah Zayn keluar dari kamar yang di tempatinya. Gia membuka jaketnya. Ia mengucir rambut. Kemudian meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Duduk berdua dalam satu ruangan bersama Zayn sungguh membuat napasnya sesak.
Gia pun bangkit dari duduknya. Ia berpindah ke sofa yang tadi di duduki Zayn. Tangannya langsung mengambil kotak dan menaruhnya di atas pahanya.
Ia perlahan membuka tutup kotak. Ia mengangkat gaun di dalam kotak ke udara.
Matanya berbinar takjub saat melihat betapa indah dan mewahnya gaun yang di siapkan Zayn.
Ia pun kembali bangkit dari duduknya dan berjalan menuju cermin. Ia mematut diri di cermin, sambil berlenggak-lenggok dengan pakaian yang ia tempelkan di depan badannya.
"Kenapa dia harus memilihku," lirih Gia saat selesai dengan aktivitasnya di depan cermin.
"Tidak! takan ada yang terjadi. Ini hanya kebetulan." Gia berusaha berdamai dengan pikiran yang berkecamuk dalam dadanya.
Saat tadi pertama kali masuk kedalam kamar dan melihat Zayn tersenyum menyeringai. Gia merasakan ada hal yang besar yang akan terjadi dan menyeret dirinya.
Gia kembali menggeleng. "Mungkin hanya perasaanku saja."
Scrol ya masih ada satu bab lagi
__ADS_1