Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Meminta bantuan


__ADS_3

“Gabby, mana Daddy?” tanya Gabriel ketika masuk ke dalam mansion. Ia langsung bertanya keberadaan sang ayah pada Gabby yang sedang membaca majalah.


“ Mana aku tahu, cari saja sendiri,” jawab Gabby, membuat Gabriel berdecak kesal.


“Daddy ... Daddy,” teriak Gabriel. Ia berteriak seperti orang yang kesetanan.


“Gabriel, ada apa?” tanya Simma dari arah samping. Simma yang baru saja turun ke bawah mengerutkan keningnya, Keta sang putra berteriak.


“Mom, Daddy mana?” tanya Gabriel.


“Daddy, ada di ruang olahraga. Kau mau apa bertemu Daddy?” tanya Simma.


“Ini urusan laki-laki, Mom,” ucapnya lagi. membuat Simma menggeleng. Setelah mengetahui keberadaan sang ayah, Gabriel pergi ke atas untuk menuju ruang olahraga.


“Dad, tolong aku,” ucap Gabriel tiba-tiba. Setelah masuk ke dalam ruangan.


“Ya, Tuhan Gabriel, kau mengagetkan Daddy,” pekik Stuard yang terkejut dengan suara Gabriel yang tiba-tiba memanggilnya.


Stuard menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian mengambil handuk lalu mengelap keringatnya. “Ada apa?” tanya Gabriel.


“Dad, aku ingin berbicara denganmu.”


“Tunggulah di ruangan kerja Daddy, Daddy akan menyusulmu setelah selesai,” jawab Stuard. Namun, Gabriel menggeleng.


“Sekarang, Dad. aku tidak punya waktu banyak,” ucapnya lagi membuat Stuard mengerutkan keningnya. “Apa ada masalah perusahaan?” tanya Stuard, Gabriel menggeleng.

__ADS_1


“Ini lebih genting dari perusahaan.” Setelah mengatakan itu, Gabriel keluar dari ruangan olahraga. Stuart hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang putra.


Lelaki yang masih tampan di usia yang tak lagi muda itu, langsung memakai kaosnya kemudian ia berjalan keluar dan menyusul Gabriel.


••


“Ini yang kau katakan penting?” tanya Stuard saat Gabriel menceritakan tentang tujuannya.


“Ayolah, Dad. Bantu aku,” pinta Gabriel dengan nada memelas. “Aku tidak punya waktu banyak, kau harus secepatnya membantuku,” kekeh Gabriel.


“Kau seperti sedang menghadapi musuh negara saja," omel Stuard, ia pun bangkit dari duduknya.


”Kau mau ke mana, Dad?” tanya Gabriel lagi.


“Lalu bagaimana denganku?”


“Daddy akan memikirkannya nanti, kau tunggu beres saja.” setelah mengatakan itu, Stuard keluar dari ruang kerjanya.


Gabriel menghela nafas lega kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang, jika sang ayah sudah berkata demikian, maka pasti sang ayah akan membantunya dengan cara yang tak terduga.


•••


waktu menunjukkan pukul 11 malam, Gabriel sengaja menunggu Amelia. Sebab ia tahu, pasti Amelia akan menghindar lagi.


15 menit menunggu, akhirnya terdengar suara pintu terbuka, Gabriel langsung bersembunyi di samping kulkas dan benar saja, Amelia masuk lalu berjalan ke dapur.

__ADS_1


Amelia membuka kulkas, kemudian ia mengambil es batu. Lalu, setelah itu ia berjalan tertatih-tatih sambil memegang bahunya. Rupanya, bahu dan punggung Amelia mengalami cedera karena bahunya di lempar oleh batu besar ketika Amelia mengejar seorang tersangka.


Gabriel yang ingin mengajak Amelia berbicara mengurungkan niatnya saat melihat apa yang terjadi pada Amelia. Ia keluar dari persembunyiannya, kemudian berjalan menghampiri Amelia.


Saat sudah dekat dengan Amelia, Gabriel mengambil es batu dari tangan Amelia, karena Amelia terlihat kesusahan mengompres lukanya.


Amelia mengangkat kepalanya, hingga matanya dan mata Gabriel saling mengunci.


“Berbaliklah, aku akan mengompres lukamu!” titah Gabriel.


Amelia pun berbalik tanpa memprotes ucapan Gabriel, membuat Gabriel mengerutkan keningnya tumben sekali Amelia tidak mendebatnya. Biasanya, Amelia akan menolak apapun yang dilakukan olehnya. Tapi sekarang ... Setelah Amelia, Gabriel mendudukan dirinya di belakang tubuh Amelia, kemudian ia mengompres punggung Amelia.


“Sudah, terima kasih,” ucap Amelia setelah 15 menit berlalu. Gabriel menurunkan es batu dari tangannya. Seketika itu juga, Amelia bangkit dari duduknya lalu berjalan dan berniat pergi ke kamar. Namun langkahnya terhenti, ketika Gabriel menarik tangannya, hingga Amelia berbalik.


“Amelia, apakah kau akan terus menghindariku? sampai kapan kau terus menjauhiku?” Amelia berusaha melepaskan tangannya dari tangan Gabriel. Namun kali ini, Gabriel tidak melepaskan tangan Amelia.


“Gabriel, lepaskan tanganku!” ucap Amelia. Namun, Gabriel menggeleng.


“Aku akan melepaskan tanganmu, Jika Kau menjawab pertanyaanku, sampai kapan kau akan menjauhiku?”


Amelia tanpak berpikir, kemudian menatap Gabril dengan intens


“Sampai ....”


Aku udah up 3 bab ye nih Bun, ga komen ga flend kita🤣

__ADS_1


__ADS_2