Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
411


__ADS_3

Arleta menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia berusaha untuk mengambil makanan dengan tangan kanannya. Tapi, tak bisa. Setiap ia menggerakkan tangan kanannya, rasa sakit di bekas sayatan operasi dan di bahunya semakin menjadi-jadi.


Ini sudah 3 hari Arleta di rawat di rumah sakit. Sejak saat Zayn mengamuk padanya, tak ada satupun keluarga angkatnya yang datang untuk menjenguknya.


Sebenarnya bukan tak ada, kemarin, sepulang sekolah Zidny datang ke rumah sakit diam-diam. Zidny mengatakan Zayn melarang semua keluarga untuk menemui Arleta. Bahkan Gia dan Audrey pernah akan datang ke rumah sakit untuk menjenguknya diam-diam.


Tapi, niat mereka diketahui oleh Zayn karena tanpa sengaja, Zayn mendengar percakapan Gia dan Audrey, alhasil Gia dan Audrey tidak jadi menjenguk Arleta.


Mungkin, jika Kelly sedang berada di Rusia, Kelly akan menemaninya walaupun Zidan dan Zayn melarangnya. Sayangnya, Kelly sedang merampungkan pekerjaannya di luar negri.


Hancur? sakit? tentu saja Arleta merasakannya. Ini bagai mimpi buruk baginya, tapi anehnya. seberapa pun pedas ucapan Zayn kemarin. Ia sama sekali tak bisa membenci Kakanya.


Selama 3 hari ini, setiap kali ia ingat ucapan kakaknya ia akan langsung mengalihkan pikirannya dan memikirkan hal lain agar sesak dan rasa sakit yang ia alami tidak semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Tapi tetap saja tak bisa, ucapan Zayn begitu melekat hingga rasanya sesak di dada sulit untuk hilang.


Ia selalu memanipulasi dirinya sendiri, bahwa ia baik-baik saja. Jika ia ingin menangis, ia selalu ingat hal-hal yang menyenangkan selama hidupnya dan ia selalu menekankan pada dirinya sendiri, bahwa saat ini ia sebatang kara dan tak boleh lemah dan cengeng.


Dan setelah 3 hari di rawat, kondisi Arleta belum membaik sedikit pun. Rasa sakit yang ia alami masih sama seperti pertama datang ke rumah sakit. Selama 3 hari ini, ia selalu melakukan semuanya sendiri.


Dari mulai makan, minum dan pergi ke kamar mandi, ia melakukan semuanya sendiri. Tak ada yang membantunya, itu sebabnya kondisinya belum membaik.


Ia bisa saja meminta suster membantunya. Tapi ia juga tau, bahwa ia tak bisa terus mengandalkan suster Karea pasien di rumah sakit ini, bukan hanya dirinya saja.


Setelah berhasil memasukan makanan ke mulutnya, Arleta pun berusaha untuk menggerakkan tangannya kembali dan berusaha menyuapkan makanan ke mulutnya.


Setelah makanan di piringnya habis, Arleta perlahan turun Dari ranjang. Ia berjalan dengan tertatih-tatih kearah nakas, kebingungan arletta belum berakhir, sekarang bagaimana caranya ia minum dan mengangkat botol, tak ada sedotan di sekitarnya, belum lagi ia harus membuka tutup botol.

__ADS_1


Karena ingin sekali minum, Arleta berjalan kembali ke dekat brankar, untuk memencet bel dan memanggil suster. Beruntung Arleta tak memakai infusan, hingga ia bisa berjalan kesana kemari.


Kesokan hariny


Arletta yang sedang melamun tersadar saat pintu terbuka dan suster masuk ke ruanganny


Suster itu tersenyum, kemudian langsung menghampiri Arleta.


“Nona, Arleta.” Panggil suster, Arleta menganguk kemudian membalas senyuman suster tersebut Lalu matanya beralih pada kertas putih yang dibawa oleh suster.


“Ada apa, Sus?” tanya arleta


Suster .....

__ADS_1


Scroll lagi iesss


Holaa mak semalem ketiduran maaf ye.


__ADS_2