Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Akhir dari kesombongan


__ADS_3

Aku berjalan terlalu jauh, jalan yang aku ambil begitu berliku dan penuh dengan kesuraman. ada kalanya Aku ingin kembali. Tapi, ada kalanya juga aku ingin tetap diam. Semua rasa berkecamuk dalam dada.


Ingin kembali. Tapi rasanya tak mungkin, ingin tetap tinggal ... Tapi jiwaku seperti terlempar ke belakang. Sekarang, apa yang harus aku lakukan? semuanya sudah berbeda, terlalu banyak luka yang aku beri. hingga rasanya, aku terlalu malu menatap dia yang aku lukai.


Gabriel Josepin


“Si-siapa namamu?” tanya Gabriel terbata-bata. Ia menjauhkan dirinya dari Grisya, karena jujur saja. Ia tak sanggup untuk mendengar jawaban putrinya.


Sebenarnya, tanpa mendengar jawaban Grisya, ia sudah tahu jawabannya, bahwa Grisya adalah putrinya, dari matanya saja, ia yakin, bahwa Grisya memang darah dagingnya.


tiba-tiba tubuh Gabriel limbung saat mengingat bahwa Amelia mengatakan bahwa dia sudah membunuh 3 orang darah dagingnya.


Dunia Gabriel seperti berhenti berputar. Nafasnya memburu, wajahnya memucat.

__ADS_1


Ia merasa, jiwanya direnggut paksa dari raganya. Sejahat-jahatnya Gabriel, ia tidak mungkin terus bersikap arogan, ketika ia mendengar bahwa ia telah membunuh anaknya sendiri.


Dan sekarang, dia masih terdiam ditempat. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun, ia belum mampu mencerna apa yang terjadi.


Ia menatap Grisya dengan tatapan layu. Berharap apa yang dikatakan oleh Amelia adalah kebohongan, berharap Grisya bukan putrinya, agar dia tidak semakin merasa bersalah.


“Si-siapa namamu?” tanya Gabriel lagi dengan bibir bergetar, ia bertanya lagi untuk memastikan semuanya.


tiba-tiba .... Door!


“Mommy!” teriak Grisya ketika mendengar suara tembakan.


Saat Gariel lengah Amelia langsung menembak kaki Gabriel, hingga Gabriel terhuyung kebelakang dan setelah itu, ia langsung berlari ke arah Grisya.

__ADS_1


Ketika Amelia menembaknya, Gabriel langsung tergeletak di lantai. Ia sama sekali tak meringis. Padahal, darah sudah bercucuran dari kakinya. Ia menatap ke atas dengan tatapan kosong. Kemudian bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat mengetahui semua.


Penyesalan melanda Gabriel, ia mengingat betapa kejamnya ia pada Amelia dan sekarang penyesalan itu menumpuknya menjadi satu. Hingga ia tak merasakan rasa sakit karena tembakan Amelia, seolah Gabriel sedang larut dalam penyesalannya.


“Aku sudah terlalu jauh untuk melangkah dan aku tidak bisa untuk kembali. Satu-satunya jalan yang aku miliki, adalah pergi dari dunia ini,” lirih Gabriel dalam hatinya. Dengan hati yang pilu, Gabriel mendekatkan pistol ke kepalanya. Kemudian ia menatap Amelia.


“Maafkan aku Amelia, semoga kau bahagia,” ucap Gabriel dengan suara pelan. Dengan tangis yang berderai, ia tersenyum kearah Amelia yang sedang melepaskan tali di badan Geisha. Kemudian, memejamkan matanya dan berniat menarik pelatuk untuk menembak kepalanya sendiri.


Namun, saat ia akan menembak kepalanya sendiri. Gerakannya terhenti Ketika seseorang menendang pistol yang dipegang oleh Gabriel. Hingga pistol itu terlepas.


“Apa kau gila, Hah!” teriak, Stuard, ternyata Stuard lah yang datang. Saat tadi Amelia di dalam mobil, Amelia terlalu panik. Ia langsung menelepon Stuard, karena ia pikir hanya Stuard yang bisa membantunya, dan setelah mendapat kabar dari Amelia, ia langsung menyusul dan ketika masuk ia melihat putranya sedang menodongkan pistol pada kepalanya sendiri, dan seketika itu juga, ia berlari dan langsung menendang pistol di pegang oleh Gabriel.


Scroll gengs

__ADS_1


__ADS_2