
“Nona, Arleta. Ini surat kepulangan anda,” ucap suster tersebut membuat Areta kebingungan kondisinya belum membaik tapi kenapa dokter sudah menyatakan ia boleh pulang.
“Su-Sus, apa biyaya pengobatan saya di hentikan?” tanya Arleta dengan bibir bergetar.
Suster terdiam kemudian mengangguk, membuat tubuh Arleta melemas seketika. Ternyata hukuman dari Zayn belum berakhir. Ia lupa, bagaimana arogannya sikap sang Kaka.
Mata Arleta mulai membasah, ia merasa otaknya kosong. pasokan oksigen di sekitarnya mendadak berkurang. Hingga rasanya, ia tak sanggup lagi untuk bernafas.
“Su-Sus, bisakah membantu saya memakaikan pakaian saya?” ucap Arleta dengan bibir bergetar. Sekarang, pikirannya adalah bagaimana cara agar ia bisa pulang ke apartemennya sedangkan tubuhnya begitu remuk. Untuk berjalan saja, rasanya ia kesulitan.
suster itu mengangguk kemudian mengambil pakaian Arleta yang terlipat. Saat suster memakaikan pakaiannya, Arleta tak sanggup menahan tangisnya ia menangis tergugu membuat suster menatap iba padanya.
“Su-sus, bolehkah saya diam di sini selama 10 menit,” ucap Arleta dengan terbata-bata ketika ia sudah selesai memakai pakaiannya. Ia mencoba mengatur nafasnya dan mencoba menguasai diri agar ia bisa keluar rumah dari rumah sakit dengan mudah.
__ADS_1
Suster itu pun mengangguk kemudian langsung pergi dan keluar dari ruangan Arleta setelah suster pergi, tangis Arleta pecah. ia membekap mulutnya agar tangisannya tak terdengar keluar.
Demi apapun Arletta tak menyangka Zayn akan setega ini padanya, Ia memang sudah menerima kesalahannya dan menerima hukumannya.
Tapi, ia berharap, setidaknya sang kakak bisa sedikit berbaik hati membiarkannya dirawat hingga ia sembuh. Tapi ternyata tidak, dan anehnya apapun yang dilakukan oleh Zayn Areta sama sekali tak membenci kakaknya angkatnya.
Setelah bisa menguasai diri dan menghentikan tangisnya Arleta berjalan dengan pelan kearah nakas, Ia membuka laci kemudian mengambil uang yang dilemparkan oleh Zayn untuk pertama kalinya, Ia menggunakan lagi uang kakaknya. Ia tak punya pilihan lain, ia butuh uang untuk membayar taksi.
Arleta menghela nafas, kemudian menghembuskannya berkali-kali. Ia mulai melangkahkan kakinya dan berusaha berjalan seperti orang normal. Namun tak lama, ia menghentikan gerakannya. karena nyeri di kaki nya semakin terasa.
Tapi sekarang, ia harus menggerakkan tubuhnya demi untuk pulang ke apartemennya. Pada akhirnya, Arleta berjalan dengan pelan keluar dari ruangannya.
Beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap aneh kepada Arletta karena Arletta berjalan sambil memegang dinding seperti orang yang akan kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Dan setelah berjuang untuk keluar, akhirnya Arleta keluar dari rumah sakit, meminta tolong penjaga rumah sakit untuk memanggilkan taksi.
Seminggu kemudian.
Kelly mengerurkan keningnya saat melihat email yang dikirimkan oleh pihak bank, email yang berisi laporan keuangan Kelly setiap tahun. Yang membuat Kelly bingung, ada uang yang sangat besar di rekeningnya. Padahal, Kelly sudah lama tak memakai rekening yang tertera di email tersebut.
Seketika Kelly di landa perasaan tak nyaman. Ia langsung mengambil ponselnya, lalu menelepon seseorang. “Pesankan tiket untuk aku pulang ke Rusia besok!” titah Kelly pada asisten pribadinya.
••••
“Ma-maksud anda?” ucap Kelly dengan terbata-bata. Ia menatap bingung pada petugas bank.
Setelah sampai di Rusia, Kelly langsung pergi ke bank. Ia ingin bertanya tentang siapa yang mengirim uang ke rekeningnya. Ia tak bisa mengecek sendiri. Karena akun Bank miliknya sudah lama tak ia gunakan, hingga ia tak bisa login.
__ADS_1
Scroll lagi iesss up 3 bab nih, wah kalian tega banget kalau ga ninggalin komen.