
Saat sampai di mansion, Ariana langsung turun mendahului Nancy, ia sama sekali tak ingin lagi melihat pada Nancy.
"Ariana!" panggil Josh saat Ariana akan berbelok. Namun, Ariana mengabaikan panggilan sang ayah. Ia terus berjalan lurus, membuat Josh menghela napas.
"Tuan!" sapa Nancy saat akan melewati Josh.
"Nancy, kau masuklah dulu kedalam. Jangan menyusul Ariana, ada keponakanku di paviliun. Biarkan keponakanku berbicara berdua dengan Ariana," kata Josh, membuat Nancy mengangguk. Kemudian masuk ke rumah utama.
Josh sudah kehilangan akal membujuk putrinya. Dulu, ia dan Briana akan tinggal di paviliun. Namun, lagi-lagi Ariana mengamuk. Dan setelah memberhentikan Nancy sementara, ia berharap Ariana mau kembali ke rumah utama. Ia bisa saja memaksa putrinya, dan membiarkan putrinya mengamuk hingga lelah. Tapi, ia tak melakukan itu. Ariana sudah cukup tertekan selama ini, dan ia tak mau membuat putrinya tambah tertekan.
Dan kali ini, ia sengaja meminta Zayn berbicara pada putrinya. Karena ia tau, beberapa bulan ini hanya Zayn yang bisa mengajak putrinya berbicara selain Nancy.
•••
"Daddy, Zayn!" panggil Ariana ketika Zayn sedang berdiri di depan pintu sambil memainkan ponselnya.
Zayn mengangkat kepalanya, ia tersenyum hangat pada Ariana. Ia memasukan ponselnya kedalam saku dan menghampiri Ariana.
__ADS_1
"Kau baru pulang, hmm?" tanya Zayn. Ia menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Ariana.
Ariana tersenyum, kemudian mengangguk. "Ayo masuk. Daddy sudah membawa makanan kesukaanmu," kata Zayn, Ariana mengangguk antusias.
Saat masuk, Ariana langsung mendudukan dirinya di meja makan. Sedangkan Zayn menatap makanan di hadapan Ariana.
"Ayo makan!" kata Zayn, ia menyodorkan sepiring pasta ke hadapan Ariana.
Batin Zayn teriris perih saat melihat Ariana. Ariana mengingatkannya pada luka masa lalunya. Ia saja hampir gila pada saat itu, bagaimana dengan Ariana.
Ariana tersenyum kemudian mengangguk.
"Kau mau tinggal bersama Daddy?" tanya Zayn. Namun, secepat kilat Ariana menggeleng.
"Kenapa? kau bisa main dengan Maria dan Leo. Kau juga bisa belajar bersama dengan Maria," kata Zayn lagi, membuat Ariana tersenyum getir.
"Aku lebih nyaman tinggal di sini, Daddy. Bukannya aku tak mau bermain bersama Leo dan Maria. Tapi, aku tau jika aku bermain bersama mereka, aku hanya akan merepotkan mereka," kata Ariana sambil tertawa. Ia tertawa, karena menutupi kesedihannya
__ADS_1
Maria begitu cantik dan sempurna. Ia sungguh minder dan merasa tak percaya diri jika harus bertemu dengan Maria. Apalagi bermain bersama.
"Tidak, Sayang. Maria dan Leo pasti akan senang bermain denganmu!" kata Zayn lagi. Namun, lagi-lagi Ariana menggeleng.
"Bagaimana jika Daddy, Aunty Gia, Mario dan Leo tinggal di sini untuk menemanimu," kata Zayn lagi berharap, kali ini Ariana akan luluh.
...Ariana terkekeh. Gadis kecil itu sudah menduga maksud kedatangan Zayn kemari.."Dad, tempat ini terlalu kecil. Maria dan Leo tak akan bisa bernapas bebas di sini," jawab Ariana. Membuat dada Zayn berdenyut nyeri....
"Daddy jangan mengkhawatirkanku di sini. Aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan ini," sambung Ariana dengan senyum yang di paksakan. Wajah polos itu menatap Zayn dengan tatapan luka dan penuh kesedihan. "Walaupun tempat ini kecil, tapi tempat ini sangat nyaman. Jangan lagi membujukku, aku sungguh baik-baik saja," ucapnya lagi. Membuat dada Zayn benae-benar sesak.
"Bolehkah aku meminta sesuatu pada Daddy?" tanya Ariana, Zayn mengangguk antusias.
"Bisakah aku ....."
10 tahun kemudian.
Ini nanti kisah Ariana Ampe Ariana dewasa ya, ada hal yang enggak terduga dan beda dari cerita sebelumnya.
__ADS_1