
“Amelia tolonglah jangan begini," ucap Gabriel lagi ketika Amelia mengalihkan pembicaraan. ia kembali menarik tangan Amelia. Namun, secepat kilat Amelia menghempaskannya tangan Gabriel.
“kita bicara nanti. Aku harus segera sampai di tempat TKP.” Setelah mengatakan itu, Amelia pergi berlalu meninggalkan Gabriel. Lalu berjalan kearah meja makan, untuk menemani Grisya sarapan.
Sejenak, Gabriel terdiam. Kemudian matanya melihat Amelia yang sedang menemani putrinya sarapan. Terlihat jelas, Amelia adalah sosok ibu yang hangat bagi putrinya.
Gabriel tersenyum getir, ia terlalu berharap bahwa Amelia akan memaafkannya. Tentu saja itu tidak mudah, setelah apa yang ia lakukan pada Amelia. Tapi tidak, Gabriel tidak akan menyerah. Ia sudah sampai di titik ini, dan ia tidak ingin kehilangan apapun lagi, ia tidak ingin kehilangan Amelia lagi.
“Mommy, kau tidak sarapan?” tanya Griysa ketika ia sudah menyelesaikan sarapannya.
“Tidak, Mommy sarapan di kantor saja. Ayo cepat, bukankah kau sekarang ada olahraga?” ucap Amelia. Griysa pun mengangguk.
“Daddy, kenapa kau tidak sarapan juga?” tanya Grisya, Gabriel menggeleng kemudian mengelus rambut putrinya.
Sejenak, Amelia menghangat ketika melihat interaksi Gabriel dan Griysa, walaupun setiap hari ia melihat interaksi manis antara Gabriel dan Griysa. Tapi tetap saja, setiap melihati itu ada rasa senang tersendiri yang Amelia rasakan.
__ADS_1
Terlebih lagi, sekarang setelah mereka berdamai dan tinggal bersama, Amelia bisa melihat perubahan yang sangat jelas di diri putrinya, Griysa tampak lebih bahagia dan wajah putrinya tampak berseri-seri.
Setelah Griysa selesai sarapan, Griysa bangkit dari duduknya, kemudian Gabriel menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Griysa, lalu merapikan rambut putrinya.
“Daddy, akan menjemputmu nanti. Setelah itu, kita bermain ke rumah kakek dan nenek oke,” ucap Gabriel, Griysa pun menggangguk.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu, Dad. sampai jumpa.” Setelah mengatakan itu, Grisya pun berlalu untuk mengambil tas, meninggalkan Gabriel dan Amelia
“Kau yakin, kau tidak ingin sarapan?” tanya Gabriel. Amelia menggeleng.
Gabriel hanya mampu menatap punggung Amelia yang semakin menjauh. “Aku pasti akan memeluk punggung itu,” ucap Gabriel dengan lirih.
••••
“Amelia kau kenapa, Apa ada yang mengganggumu?” tanya Nick pada Amelia. Ia bertanya karena Amelia sedari tadi terus melamun. Amelia tersadar, kemudian menoleh. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Bolehkah aku pulang, tidak ada kasus yang harus ditangani bukan? Apa hari ini ada tersangka baru lagi?” tanya Amelia bertubi-tubi. Nick tampak berpikir, kemudian menggeleng.
“Sepertinya tidak,” jawab Nick.
“Boleh aku pulang, aku rasa aku tidak enak badan. kabari aku jika ada kasus yang harus aku tangani.” Setelah mengatakan itu, Amelia pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan keluar dari ruangan membuat Nick mengerutkan keningnya.
“Tunggu, bukankah aku kapten di sini, harusnya aku yang memerintahnya, kenapa dia yang memerintahku. Hish ... Dasar, anak itu,” gerutu Nick saat Amelia keluar dari ruangannya dan memerintahnya.
Amelia masuk ke dalam mobil, kemudian ia menjalankan mobilnya, pikirannya benar-benar kalut. Ia benar-benar kacau karena kejadian semalam.
Amelia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sekarang, hanya satu tempat yang bisa membuat Amelia tenang.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, Amelia pun sampai di sebuah pemakaman. Ya, dia pergi pemakaman sang putra. Hari ini, semuanya benar-benar kacau bagi Amelia, dan ia membutuhkan tempat untuk menyendiri.
Amelia masuk dengan langkah yang lesu. Saat akan sampai, ia menghentikan langkahnya ketika melihat Gabriel sedang ada di depan makam putranya.
__ADS_1
Scroll Gengs aku update 3 bab