
"Siapa yang melaporkan Audrey?" tanya Zidan. Mustahil Ane melaporkan Audrey karena sedari.tadi Ane bersamanya.
"Aku tak tau, ada dua orang polisi menyusul kemari dan menangkap Audrey," jawab Zayn.
"Aku titip putriku! aku akan menyusul ke kantor polisi terdekat." Setelah mengatakan itu, Zidan pun bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Zayn dan Gia.
"Sayang, Leo mana?" tanya Zayn. Bukannya menjawab, Gia malah menggengam tangan suaminya. Walaupun Zayn menutupi rasa risaunya dan rasa khawatirnya. Tapi dari tatapan mata suaminya, Gia bisa tau tentang apa yang sedang di rasakan oleh Zayn.
Saat tangannya di genggam oleh Gia, Zayn menunduk.
"Semua sudah berlalu, Dad. Kita tak bisa lagi mengulang waktu," ucap Gia. Satu tangannya mengelus lembut punggung suaminya. Sedangkan Zayn, masih tertunduk.
•••
Zidan keluar kantor polisi dengan langkah gontai, sudah 3 kantor polisi yang dia datangi. Namun, tak ada nama Audrey dalam tahanan.
Setelah masuk kedalam mobil, Ia menyenderkan kepalanya kebelakang. Berpikir keras, di kantor polisi mana Audrey berada.
Lalu tak lama, ia teringat Mariane, jika Audrey di laporkan oleh karena tuduhan menganiyaya Ane, berarti Mariane tau di mana keberadaan Audrey.
Ia langsung merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Namun, ponselnya tak ada di manapun. Lalu ia teringat, bahwa menaruh ponselnya di dahboard, dan setelah ingat, ia langsung mengambilnya dan melihatnya.
Matanya membulat saat melihat banyaknya panggilan dan pesan dari Zayn, ia memukul-mukul kepalanya saat sadar, bahwa sedari tadi Zayn ingin mengabari bahwa ia memiliki seorang putri dan sedang kritis.
Lalu tak lama, keningnya mengkerut saat melihat satu panggilan lain yang tak terjawab dari Audrey. Ia juga teringat saat sebelum kejadian dengan Ane, Audrey ingin mengajaknya bicara, mungkinkah Audrey ingin memberitaukan keberadaan Kelly ... Ah, entahlah. Kepala Zidan terasa berputar-putar.
__ADS_1
Saat ia akan menelpon Ane, ia teringat sesuatu. Selama ini, Audrey selalu profesional dalam bekerja. Audrey tak pernah melakukan kesalahan apa pun. Zidan mengusap wajah frustasi saat sadar, Audrey takan mungkin mengamuk hanya karena Ane menanyakan soal-soal foto masa lalu Audrey.
Tanpa pikir panjang, Zidan menjalankan mobilny dan berniat kembali ke perusahaannya untuk melihat cctv, dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi antara Audrey dan Ane.
Saat sampai di perusahaan, Zidan langsung menuju ruang kontrol untuk melihat rekaman cctv. Dari awal, Audrey begitu sopan melayani Ane. Mata Zidan membulat sempurna saat melihat Ane melempar foto-foto ke tubuh Audrey.
Zidan membesarkan Volume karena ingin mendengar apa yang di katakan Ane sebelum Audrey menyerang.
Mendengar ucapan Ane, darah Zidan mendidih.
"Berani sekali dia mengatakan putriku anak haram," geram Zidan saat mendengar Ane menyebut putrinya anak haram.
Zidan mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, ia bangkit dari duduknya dan langsung berjalan keluar.
Amarah sudah berkobar hebat di dada seorang Zidan. Di masa kecilnya, ia selalu di sebut anak haram, dan itu sangat menyakitkan. Dan Zidan takan terima saat Ane menyebut putrinya anak haram.
•••
Brakk
Zidan menendang pintu ruangan kamar Ane dengan keras membuat Ane yang sedang berbaring di brankar tersentak kaget.
Ane bergidik saat melihat Zidan, terlihat jelas, Zidan menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Zi-Zidan, kau kenapa?" tanya Ane saat Zidan mendekat.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Ane, Zidan menjambak rambut Ane hingga ane meringis dan terjatuh dari brankarnya.
Ane terduduk lesu di lantai, tubuhnya amat bergidik saat melihat amarah Zidan. Selama ini, ia tau bahwa Zidan adalah sosok penyabar. Tapi, sekarang ... Ia bisa melihat sosok Zidan yang lain.
Saat Ane sudah terduduk di lantai, Zidan menekuk kakinya. Ia menginjak tangan Ane hingga Ane meringis.
"Zi-Zid ...." Ane beringsut mundur saat Zidan menatapnya dengan emosi menyala. Sungguh, Ane merasakan ketakutan, mungkin ketakutan Ane sudah level akut sekarang.
"Berani sekali kau menyebut putriku anak haram, Mariane," ucap Zidan. Tangannya terangkat untuk mencekik leher Ane, Rahangnya masih mengeras, rasanya Zidan menggila saat mengingat wanita di depannya ini memanggil putrinya anak haram.
Ane meringis, saat Zidan mencekik lehernya, ia merasa napasnya tercekat-cekat, bahkan ia bisa merasa, kuku-kuku Zidan menancap di kulit lehernya.
"Siapa kau berani menyebut putriku anak haram!" Teriak Zidan dengan keras, bahkan sangat keras. Zidan memandang Ane dengan kilatan penuh emosi. Tanganya semakin mencengkram kuat leher Ane, bahkan jika bisa, ia ingin mematahkan leher Ane dengan tangannya.
Selama hidupnya. Ini pertama kalinya Zidan merasakan ingin menyiksa hingga membunuh orang, ia tak perduli jika Ane adalah seorang wanita. Ia takan bisa mentolerir siapa saja yang menyebut putrinya anak haram.
Napas Ane semakin tersendat-sendat saat Zidan semakin keras mencekik rahangnya. Yang ia hanya bisa lakukan adalah memukul-mukul tangan Zidan agar Zidan melepaskan cengkramannya tanganya dari lehernya.
Semua terasa mimpi bagi Ane, beberapa jam kebelakang, Zidan masih bersikap baik padanya tapi sekarang .... ia bisa melihat sosok Zidan yang lain.
Tau apa yang paling menyeramkan? marahnya orang sabar ....
Zidan melepaskan cengkraman lehernya ... Lalu menghempaskan kepala Ane dengan kasar, hingga kepala Ane membentur besi penyangga brankar dan ....
Satu part dulu ya gengs, anak bungsu otor lagi rewel dan dari tadi otor begadang, sekarang anak otor udah tidur dan otor mau ikut tidur dulu.
__ADS_1
Satu part lagi menyusul ya
Marahnya orang sabar beda ya bund🤣